ANMELDENMentari datang ke rumah keluarga Pradipta dengan harapan dikenalkan sebagai calon istri Andika, kekasih yang telah ia cintai selama tiga tahun. Namun, malam itu seluruh harapannya hancur. Ia memergoki Andika berselingkuh dengan seorang wanita. Yang lebih menyakitkan, wanita itu ternyata adalah calon istri Gavin Pradipta, kakak Andika. Di saat dua keluarga sibuk menentukan tanggal pernikahan, Gavin justru membatalkan pernikahannya tanpa ragu. Mentari pun memilih mengakhiri hubungannya dengan Andika. Ia ingin mengundurkan diri dari perusahaan agar tak lagi berurusan dengan keluarga Pradipta. Sayangnya, Gavin memiliki rencana lain. Gavin sengaja datang ke perusahaan tempat Andika dan Mentari bekerja. Tujuannya bukan hanya untuk mengambil alih proyek terbesar perusahaan. Melainkan juga untuk merebut perempuan yang telah dikhianati adiknya. Tanpa disadari siapa pun, permainan balas dendam itu perlahan berubah menjadi cinta yang tak pernah direncanakan.
Mehr anzeigenPonsel Gavin yang terhubung dengan sistem mobil tiba-tiba berdering. Nama Felisha terlihat jelas di layar dasbor.Gavin melirik sekilas, lalu menghela napas kesal. Ia sama sekali tidak berniat mengangkat panggilan tersebut."Ngapain lagi sih dia?" gumam Gavin.Ponselnya terus berdering, tetapi Gavin tetap membiarkannya."Seharusnya aku blokir saja nomornya," lanjutnya dengan kesal sambil kembali memusatkan perhatian pada jalan.Gavin tiba di kantor pusat. Ia memang berniat memberitahu staf dan sekretarisnya bahwa mulai besok ia akan lebih sering berkantor di cabang.Begitu memasuki lobi, Gavin langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda. Resepsionis dan beberapa staf menatapnya dengan wajah cemas.Gavin mengernyitkan kening."Kamu ngapain di sini, Ra?" tanya Gavin kepada sekretarisnya, Rara.Rara tampak ragu untuk menjawab. Bibirnya baru saja terbuka ketika tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan dari belakang."Gavin."Gavin langsung mengenali suara itu."Kenapa teleponku nggak k
Mentari mengangkat kardus berisi barang-barangnya yang sudah rapi. Wajahnya terasa panas karena kesal. Ia melihat Gavin dengan tatapan tidak senang. Menurutnya, Gavin tidak perlu sampai mengawasinya sedetail ini hanya untuk memindahkan meja kerja, membuat heboh satu ruangan saja. "Sudah selesai, Pak," ujar Mentari. Gavin mengangguk, lalu menoleh kepada Rendra. Rendra langsung memahami maksudnya. Ia melangkah mendekat dan mengambil kardus yang masih dipeluk Mentari. "Sini, saya bawakan barangnya, Mentari." "Terima kasih." Mereka bertiga kemudian keluar dari ruangan. Kepergian mereka langsung diikuti tatapan penasaran seluruh karyawan. Beberapa orang bahkan tampak kebingungan ketika melihat Rendra membawa kardus Mentari, sementara Mentari justru berjalan mengikuti Gavin. Ketiganya masuk ke dalam lift dan menuju ruang sekretaris. Begitu sampai, Rendra menyapa Septi, sekretaris Andika, kemudian meletakkan kardus milik Mentari di meja kosong yang sudah disiapkan. Gavin kembali m
"Apa? Maksud Pak Gavin, dia sedang bertanya apakah aku pernah tidur dengan Andika atau tidak?" batin Mentari, masih terpaku di dalam lift.Mentari menatap Gavin dengan bingung. Pertanyaan macam apa itu?Belum sempat ia membuka mulut untuk menjawab, pintu lift sudah terbuka.Gavin langsung melangkah keluar begitu saja, meninggalkan Mentari sendirian di dalam lift seolah-olah pria itu tidak pernah melontarkan pertanyaan aneh tersebut.Mentari hanya bisa menatap punggung Gavin yang semakin menjauh."Dia serius bertanya seperti itu, lalu pergi begitu saja?"Gavin menoleh ke arah Mentari yang masih terdiam di dalam lift."Kenapa diam? Cepat keluar dari sana," ujar Gavin tegas."Eh, iya, Pak."Mentari terkejut mendengar teguran Gavin. Ia segera menguasai diri, lalu melangkah keluar dari lift."Proses pemindahan posisi kamu sedang berjalan. Saya sudah meminta agar dipercepat. Jadi, sekarang kamu temani saya berkeliling kantor."Gavin berjalan lebih dulu, lalu melanjutkan, "Saya perlu menilai
Andika mendorong pintu ruangannya dengan langkah tergesa. Napasnya masih sedikit memburu karena makan siangnya molor lebih lama dari biasanya. Namun, baru beberapa langkah masuk, ia merasakan suasana yang berbeda. Rendra berdiri di depan sofa dengan wajah canggung. Mentari juga masih berada di sana, sementara Gavin duduk santai sambil membaca sebuah dokumen."Kak Gavin?" Andika mengernyit. "Maaf, aku terlambat."Gavin tidak langsung menjawab. Ia justru menutup map di tangannya."Kamu memang terlambat."Andika tersenyum kaku."Tadi ada urusan sedikit.""Gak perlu dijelaskan."Ucapan Gavin membuat senyum Andika perlahan memudar. Tatapannya bergeser ke arah Mentari. Perempuan itu bahkan tidak sekali pun melihat ke arahnya."Ada apa? Kenapa semuanya diam?"Rendra berdeham pelan."Pak..."Belum sempat Rendra melanjutkan, Gavin sudah lebih dulu berbicara."Mulai besok, Mentari gak lagi berada di bawah divisimu."Andika mengerutkan dahi."Maksud Kakak?""Dia akan bekerja sebagai sekretarisku
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.