LOGINMentari datang ke rumah keluarga Pradipta dengan harapan dikenalkan sebagai calon istri Andika, kekasih yang telah ia cintai selama tiga tahun. Namun, malam itu seluruh harapannya hancur. Ia memergoki Andika berselingkuh dengan seorang wanita. Yang lebih menyakitkan, wanita itu ternyata adalah calon istri Gavin Pradipta, kakak Andika. Di saat dua keluarga sibuk menentukan tanggal pernikahan, Gavin justru membatalkan pernikahannya tanpa ragu. Mentari pun memilih mengakhiri hubungannya dengan Andika. Ia ingin mengundurkan diri dari perusahaan agar tak lagi berurusan dengan keluarga Pradipta. Sayangnya, Gavin memiliki rencana lain. Gavin sengaja datang ke perusahaan tempat Andika dan Mentari bekerja. Tujuannya bukan hanya untuk mengambil alih proyek terbesar perusahaan. Melainkan juga untuk merebut perempuan yang telah dikhianati adiknya. Tanpa disadari siapa pun, permainan balas dendam itu perlahan berubah menjadi cinta yang tak pernah direncanakan.
View More[Andika sedang bersenang-senang dengan seorang wanita. Kalau kamu gak percaya, datanglah ke paviliun belakang rumah ini sekarang juga untuk membuktikannya.]
Mentari menatap layar ponselnya sesaat. Pesan dari nomor tidak dikenal itu mau tidak mau, berhasil mengusiknya. Mentari pun berjalan cepat menuju paviliun yang terpisah dari rumah utama. Dadanya terasa sesak sejak membaca pesan itu. Ia ingin percaya itu hanya salah paham yang seharusnya diabaikan, tetapi langkah kaki Mentari tak mau berhenti. Pintu paviliun tampak sedikit terbuka. Mentari mendekat, lalu mendorongnya perlahan. Napasnya seketika tertahan.“Astaga!” batin Mentari. Andika mengajaknya datang ke acara keluarganya, tetapi justru mengkhianatinya seperti ini.
Di atas ranjang, Dika berada di bawah tubuh seorang perempuan berambut cokelat keemasan. Pandangan Mentari mengabur, bukan karena air mata, melainkan karena pikirannya kosong sesaat.
Tangannya sempat terangkat, ingin membuka pintu dengan keras, ingin berteriak, ingin menghentikan semuanya. Namun tubuhnya justru membeku. Ia menelan ludah, lalu mengeluarkan ponsel dari tasnya. Dengan tangan gemetar, Mentari mulai merekam. Bukan karena ingin bukti, melainkan karena ia takut ingatannya sendiri akan menyangkal apa yang sedang ia lihat. Siapa perempuan itu? batinnya bertanya, sementara hatinya perlahan runtuh. Ponselnya terus merekam, meski jemarinya gemetar dan telapak tangannya mulai terasa dingin. Dadanya sesak, napasnya pendek-pendek. Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, Mentari menekan layar ponsel dan menghentikan rekaman itu. Ia berdiri mematung sejenak di depan pintu, lalu melangkah mundur. Kakinya terasa lemas, seolah tidak sepenuhnya menapak lantai. Mentari menutup pintu paviliun itu perlahan, kemudian berjalan menjauh tanpa menoleh lagi. ~ Di rumah utama, suara acara keluarga terdengar samar. Tawa, musik klasik, dan obrolan bercampur menjadi satu, kontras dengan rasa sakit yang kini memenuhi dada gadis itu. Mentari terus melangkah, membawa satu kenyataan yang tak bisa lagi ia sangkal. Baru beberapa langkah, perutnya tiba-tiba melilit. Mentari berhenti, menunduk, dan menutup mulutnya dengan tangan. Tubuhnya membungkuk, lalu ia muntah begitu saja di sudut halaman, tak sempat memikirkan apa pun selain rasa perih yang menjalar dari tenggorokan hingga dada. Air mata akhirnya luruh, bercampur dengan rasa mual yang tak kunjung reda. Mentari berpegangan pada dinding, mencoba berdiri tegak, tetapi tubuhnya masih gemetar. Seseorang berdiri tak jauh dari tempat Mentari membungkuk. Ia melihat jelas bagaimana tubuh gadis itu bergetar hebat sebelum akhirnya muntah. Mentari masih terengah ketika selembar sapu tangan bersih terulur ke arahnya. “Pakai ini.” Suara itu rendah dan datar. Mentari mendongak. Di hadapannya berdiri Gavin Pradipta, kakak dari Andika Pradipta. Lelaki yang selama ini dikenal dingin dan hampir tak pernah bertegur sapa dengan siapa pun di keluarga itu. Mentari ragu sejenak, lalu menerima sapu tangan tersebut. Tangannya masih gemetar saat ia menyeka mulut dan sudut bibirnya. “Terima kasih,” ucapnya lirih. Gavin tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menjaga jarak, pandangannya sesekali menyapu sekitar, seolah memastikan tak ada orang lain yang melihat. Beberapa detik berlalu dalam diam yang canggung. “Kamu sebaiknya duduk,” ucap Gavin. “Wajahmu pucat.” Mentari mengangguk pelan, meski kepalanya masih terasa sakit. Mentari perlahan sadar dari keterpakuannya. Pandangannya jatuh pada sapu tangan di genggamannya, kini ternoda sisa muntahan. “Ya Tuhan. Kenapa tadi aku malah menerimanya?” batin Mentari panik. “Maaf, Pak. Sapu tangannya jadi kotor,” ucap Mentari pelan. Ia tidak berani mengembalikannya, hanya menunduk sambil meremas kain itu di jemarinya. Gavin menatapnya sekilas. Wajahnya tetap datar, nyaris tanpa ekspresi. “Tidak masalah,” jawabnya singkat. Tanpa menunggu balasan, Gavin berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Mentari berdiri sendiri dengan sapu tangan itu di tangannya. Mentari melangkah menuju rumah utama. Langit di atas kepalanya mulai berubah warna, perlahan menggelap. Di depan pintu ruang utama, ia berhenti. Kakinya terasa berat, seolah menolak melangkah masuk. “Aku datang ke sini atas ajakan Dika. Ia bilang ingin mengenalkanku pada keluarganya. Tapi sekarang?” batin Mentari. “Lebih baik aku pulang saja.” Mentari menarik napas, bersiap memutar badan. “Masuklah. Jangan hanya berdiri di luar.” Mentari terhenti. Ia menoleh dan melihat Gavin berdiri tak jauh darinya, menatap dengan ekspresi datar. Gavin menatap Mentari dengan tajam, seakan tak mengizinkannya pergi begitu saja. “Ya. Aku akan pergi nanti. Setelah aku mengakhiri hubunganku dengan Dika,” ujar Mentari pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suasana ruang utama. Mentari mengikuti Gavin tanpa menoleh lagi. Perlahan, mereka sampai di ruang makan. Semua orang sudah berkumpul di sana, suasananya hangat dan ramai. “Mentari,” panggil Dika sambil melambaikan tangan. Wajahnya ceria, penuh senyum, tetapi rambut dan baju berantakan membuat perut Mentari kembali mual. Dika menghampiri dan menggandeng tangan Mentari, membawanya menuju meja makan. “Hari ini, kakakku akan menentukan tanggal pernikahan dengan calon istrinya. Makanya aku membawamu ke sini,” bisik Andika, wajahnya masih tersenyum lebar. Mentari menghela napas, menahan diri. Ia sadar saat ini sedang berada di rumah orang lain, di tengah keluarga besar Andika. Ditambah lagi, Gavin yang telah membantunya tadi masih ada di dekatnya. Mengacaukan semuanya sekarang sama saja tak tahu diri. Mentari menatap satu per satu keluarga Andika yang duduk rapi di meja makan. Ia memijat pelipisnya, kepala terasa semakin berat. “Berapa lama lagi aku harus bertahan di sini? Seharusnya aku pergi saja tadi,” batin Mentari. “Selamat malam semua, maaf sedikit telat ke ruang makan. Tadi dapat telepon dari butik langganan, mengabarkan tentang update new arrival, jadi saya sempat lihat-lihat websitenya dulu,” ujar Felisha sambil tersenyum anggun, penuh percaya diri. Semua menatap ke arahnya. “Ah, kamu ini. Kenapa nggak ditunda dulu sih? Ini kan hari penting. Penentuan tanggal pernikahanmu dan Gavin, loh,” protes ibu Felisha. Mentari menatap Felisha dengan mata terbelalak. Ia memang tidak mengenal wanita itu sebelumnya, tetapi wajah Felisha begitu jelas di otaknya. Jantung Mentari berdegup kencang. Wajah itu adalah wajah wanita yang tadi berada di atas tubuh Dika saat berada di paviliun.“Masih memikirkan Rangga?”Mentari berdiri di ambang pintu ruang kerja. Dia memperhatikan Gavin yang sejak tadi duduk di balik meja dengan beberapa dokumen terbuka.Gavin mengangkat wajah. “Aku sedang memastikan laporan dari tim hukum.”“Masalahnya sudah jelas, Mas. Rangga sudah kabur ke luar negeri. Apa kamu masih mau menghabiskan malam dengan memikirkan dia?”Gavin menutup dokumen di hadapannya. “Aku enggak mau dia mengira bisa lolos hanya dengan meninggalkan Indonesia.”Mentari mendekat, lalu duduk di kursi di seberang meja. “Aku juga ingin dia mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi kamu enggak perlu terus memikirkan masalah itu sampai lupa waktu istirahat.”“Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.”“Dan kapan kamu memastikan suamiku sendiri baik-baik saja?”Gavin terdiam. Dia menatap Mentari yang kini melipat kedua tangan di depan dada.“Aku baik-baik saja.”“Benarkah? Sejak tadi kamu belum keluar dari ruangan ini. Makan malam juga hampir tidak kamu sentuh.
“Berani sekali dia mengirim orang untuk menemui saksi yang sudah berada dalam perlindungan tim hukum kita.”Gavin menatap laporan di tangannya. Wajahnya mengeras setelah mendengar penjelasan dari kepala tim hukumnya.“Siapa yang mengirim orang itu?” tanyanya.“Kami belum mengetahui identitasnya secara pasti, Pak. Tapi orang tersebut berusaha menemui Damar di tempat tinggal sementaranya.”Gavin meletakkan laporan itu di atas meja.“Rangga.”“Sepertinya begitu, Pak. Damar juga mengenali salah satu orang yang datang. Dia pernah melihat pria itu bersama Rangga.”Gavin menyandarkan punggung. Dia sudah menduga Rangga enggak akan tinggal diam setelah mengetahui Damar berada di pihaknya.“Pastikan Damar tetap aman. Jangan biarkan siapa pun menemuinya tanpa sepengetahuan kita.”“Baik, Pak.”“Dan cari tahu siapa saja yang terlibat dalam upaya mendekatinya. Kalau Rangga mencoba menghalangi saksi, catat semuanya.”Kepala tim hukum itu mengangguk.“Kami akan mengurusnya.”Gavin kembali membuka lap
“Siapa yang membocorkan semua ini kepada Gavin? Bukankah kalian sudah memastikan tidak ada bukti yang tersisa?”Rangga membanting beberapa lembar dokumen ke atas meja. Wajahnya memerah menahan amarah setelah membaca isi map yang diberikan Gavin.Dia tidak menyangka Gavin sudah mengumpulkan bukti tentang kejadian di kapal pesiar. Beberapa dokumen bahkan memuat catatan transaksi dan salinan percakapan yang selama ini dia kira aman.Seorang pria yang berdiri di hadapannya tampak gugup.“Tenang dulu, Pak. Kita belum tahu dari mana Gavin mendapatkan dokumen itu.”“Lalu untuk apa aku membayar kalian kalau hal seperti ini saja enggak bisa kalian pastikan?”Pria itu menunduk. “Saya akan mencari tahu. Mungkin ada seseorang yang membocorkan informasi.”Rangga menatapnya tajam.“Jangan mungkin-mungkin. Aku ingin tahu siapa orangnya dan bagaimana bukti itu sampai ke tangan Gavin.”“Baik, Pak.”Rangga mengambil kembali dokumen dari meja. Dia membaca beberapa halaman sekali lagi, berusaha menemukan
“Semakin cantik saja perempuan ini. Rupanya menikah dengan Gavin Pradipta membuat pesonanya semakin terlihat.”Rangga memperbesar foto yang muncul di grup WhatsApp para pemilik tenant. Foto itu memperlihatkan Gavin dan Mentari berdiri berdampingan di acara resepsi pernikahan mereka. Gavin merangkul pinggang istrinya dengan sikap yang begitu mesra.Rangga tidak menyangka perempuan yang pernah bekerja di Pradipta Group itu kini menjadi istri sang CEO.“Dia dulu bekerja di perusahaan Gavin, bukan?” tanya seorang pria yang duduk di hadapannya.Rangga mengangguk. “Benar. Namanya Mentari.”“Sekarang sudah menjadi Nyonya Gavin Pradipta. Hebat juga dia.”Senyum tipis muncul di wajah Rangga. “Bukan hanya hebat. Dia cukup menarik untuk membuat pria seperti Gavin jatuh cinta.”Pria itu tertawa kecil. “Kamu tertarik kepadanya?”“Jangan buru-buru menyimpulkan.” Rangga meletakkan ponselnya. “Aku hanya penasaran dengan perempuan yang berhasil mendapatkan Gavin.”Sejak malam itu, Rangga mulai mencari
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.