LOGINMentari berbaring di atas kasurnya, menatap langit-langit kamar kos yang lampunya temaram. Pikirannya belum juga tenang.
Ia berguling menghadap dinding, menarik selimut hingga ke dada. Kepalanya terasa penuh, dadanya sesak oleh perasaan yang tak karuan. Mentari sadar satu hal. Mengunjungi keluarga Pradipta bukan hanya melelahkan, tapi juga meninggalkan kekacauan dalam hatinya. Ponsel Mentari bergetar pelan di atas kasur. Layarnya berkedip, menandakan pesan baru masuk. Ia mengernyit. Sejak tadi ia sengaja mengaktifkan mode jangan ganggu untuk menghindari Dika, tapi notifikasi tetap menumpuk. Mentari menggeser layar. Deretan pesan dan panggilan tak terjawab memenuhi layar ponselnya. “Kenapa kamu gak jawab telepon aku?” “Di mana kamu?” “Kita gak bisa putus begitu aja, Mentari.” “Kamu punya pacar lain, ya? Tiba-tiba aja minta putus.” “Besok kita harus bicara, Mentari!” Mentari mendengus pelan. Bibirnya melengkung sinis saat membaca satu per satu pesan itu. Tangannya mengepal, lalu ia melempar ponsel ke samping bantal. “Lelaki gak punya otak,” ujarnya kesal pada kamar yang sunyi. “Kok malah aku yang dituduh selingkuh?” Ia bangkit sedikit, menyandarkan punggung ke dinding, lalu mengusap wajahnya kasar. Dadanya terasa sesak, antara marah, lelah, dan muak. Semua kejadian hari ini berputar ulang di kepalanya, membuatnya semakin yakin bahwa keputusannya tidak salah. Mentari memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu membiarkan ponselnya kembali sunyi tanpa berniat membalas satu pesan pun. Malam ini, ia tidak ingin memberi ruang sedikit pun untuk Dika. ~ Pagi itu Mentari melangkah menuju gedung kantor dengan bahu sedikit tegang. Langkahnya tidak secepat biasanya. Udara pagi terasa biasa saja, tetapi dadanya penuh oleh pikiran yang saling bertabrakan. Wajah Gavin, pesan-pesan Dika semalam, dan bayangan Andika saat bersama Felisha di paviliun membuat kepalanya berat. Begitu melewati pintu lobi, Mentari menarik napas panjang. Ia sadar, hari ini ia tidak hanya datang sebagai karyawan. Dika adalah atasannya. Lelaki yang semalam memohon, menekan, dan menuduhnya tanpa berpikir panjang. Perusahaan tempat Mentari bekerja memang milik keluarga Pradipta. Namun, Dika tidak serta-merta duduk di kursi tertinggi. Ia hanya menjabat sebagai manajer utama. Jabatan itu pun diberikan dengan banyak catatan. Keluarga menganggap Dika masih perlu ditempa, masih harus belajar menghadapi kerasnya dunia kerja tanpa berlindung di balik nama besar keluarga. Berbeda dengan Gavin. Nama Gavin kembali muncul di benak Mentari. Kakak Dika tersebut sudah lama dipercaya memegang kendali beberapa perusahaan. Tanpa embel-embel latihan, tanpa pengawasan ketat yang berlebihan. Gavin berdiri sebagai CEO karena kemampuannya, bukan semata karena garis keturunan. Mentari berhenti sejenak di depan lift. Pintu besi itu memantulkan bayangannya sendiri. Wajahnya tampak datar, tetapi matanya menyimpan kegelisahan. “Tenang, Mentari,” gumamnya pelan. “Ini cuma hari kerja biasa.” Lift terbuka. Mentari melangkah masuk bersama beberapa karyawan lain. Saat pintu kembali menutup, ia menegakkan punggungnya. Setelah membalas senyum beberapa rekan kerja, Mentari duduk di kubikelnya dan menyalakan laptop. Ia belum sempat membuka email pertama ketika pintu lift terbuka. Dika keluar dengan langkah cepat. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Tanpa peduli orang-orang di sekitarnya, ia langsung menghampiri Mentari. “Mentari, kamu gak bisa bertindak seenaknya seperti itu,” ucap Dika dengan suara tertahan, tapi cukup jelas terdengar. “Seenggaknya aku berhak tahu alasan kamu memutuskan aku. Apa kurangnya aku di mata kamu?” Beberapa kepala langsung menoleh. Suara kursi bergeser, bisik-bisik mulai terdengar. Pandangan rekan kerja Mentari tertuju pada mereka, sebagian penasaran, sebagian lain menyunggingkan senyum sinis seolah sedang menikmati tontonan pagi. Mentari menunduk, jemarinya berhenti di atas keyboard. Dadanya terasa sesak. Keributan seperti ini bukan hal baru baginya. Sejak menerima pernyataan cinta Dika, ia selalu menjadi bahan pembicaraan. Pusat perhatian, sekaligus sasaran kebencian. Apa pun yang ia lakukan, selalu ada yang mencibir. Mentari menarik napas pelan, berusaha tetap tenang di tengah tatapan yang menekan dari segala arah. Mentari berpikir sejenak sebelum mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan mata Dika. Seketika, suasana ruangan menjadi hening. “Pak Andika gak salah,” ucap Mentari akhirnya, suaranya tenang meski dadanya bergetar. “Hanya saya yang merasa gak pantas menjadi pendamping Bapak.” Dika mengerutkan kening. “Itu bukan alasan,” bantahnya singkat. Ia menarik napas, menahan emosi. Dika berbalik dan melangkah menuju ruangannya. Keheningan itu tidak bertahan lama. “Kenapa baru sadar sekarang? Kemarin ke mana saja?” celetuk seseorang dari arah belakang. “Bilang saja sudah dapat banyak, makanya sekarang mau dilepas,” sahut yang lain. “Atau jangan-jangan sudah dapat yang lebih tajir?” tawa mengejek pun pecah, memenuhi ruangan. Mentari tetap duduk di tempatnya. Pandangannya lurus ke layar laptop yang belum juga menyala sempurna. Ia memilih diam, menelan semua suara itu, meski dadanya terasa menyesakkan.“Kalau anak saya memang perempuan murahan seperti yang kalian tuduhkan, mana buktinya? Jangan cuma berani kesimpulan dari foto-foto gak jelas di internet!”Bu Yati dan Bu Rukmini sontak menoleh. Keduanya terkejut mendapati Wulandari berdiri tepat di belakang mereka dengan wajah merah menahan amarah.Pagi itu, Wulandari baru saja keluar rumah untuk membeli sayuran dari pedagang yang melintas di depan rumah. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar nama putrinya dijadikan bahan gunjingan oleh tetangganya sendiri.Beberapa saat sebelumnya, kedua perempuan itu masih asyik memilih sayuran sambil membicarakan foto Mentari dan Gavin yang beredar di media sosial. Mereka begitu sibuk bergosip sampai tidak menyadari kedatangan Wulandari.“Zaman sekarang, ya, perempuan kalau sudah tergiur harta orang kaya, apa saja bisa dilakukan,” kata Bu Yati sambil memasukkan beberapa ikat kangkung ke dalam keranjang belanjanya.Bu Rukmini terkekeh kecil. “Apalagi kalau sudah pernah dekat sama adiknya. S
“Kalau begitu, saya terima. Itu baru lelaki yang bertanggung jawab.”Gavin terdiam sesaat. Ia baru saja menyampaikan niatnya untuk menikahi Mentari, tetapi sama sekali tidak menyangka Hermawan akan langsung memberikan persetujuan. Bahkan tanpa bertanya lebih jauh, ayah Mentari sudah menerima lamarannya.Hermawan menatap Gavin dengan wajah serius.“Terus terang, sebelum kamu datang ke sini, saya sudah berniat mencari kamu.”Gavin mengangguk pelan.“Saya mau menuntut pertanggungjawaban kamu atas apa yang terjadi pada anak saya. Nama Mentari sudah dipermalukan di mana-mana. Orang-orang bebas menuduh dan menghina dia, sementara kami sebagai orang tuanya cuma bisa melihat.”Rahang Hermawan mengeras. Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.“Saya ini susah menahan emosi kalau menyangkut anak saya. Kalau kamu datang ke sini cuma untuk meminta maaf lalu pergi begitu saja, mungkin saya sudah tidak bisa menjamin apa yang akan saya lakukan.”Gavin tetap tenang mendengarkan.“Saya bisa saja mengha
“Mentari, lelaki yang ada di foto ini siapa?”Pertanyaan ayahnya membuat Mentari yang baru masuk ruang tengah langsung terdiam. Tatapannya berpindah ke layar ponsel yang sedang dipegang sang ayah. Di sana terpampang foto dirinya bersama Gavin di dalam kamar kapal.“Itu Pak Gavin, Yah.”“Gavin?” Ayahnya mengernyit. “Gavin atasanmu di Jakarta?”Mentari mengangguk pelan.Ibunya yang sejak tadi berdiri di samping ayahnya kembali melihat layar ponsel. Wajahnya tampak semakin pucat setelah membaca tulisan yang beredar di bawah foto tersebut.“Kalau begitu, kenapa kalian ada di kamar yang sama?”“Bu, Yah, saya bisa jelaskan.”Ayahnya mengangkat ponsel sedikit lebih tinggi.“Jelaskan juga tulisan ini.”Mentari membaca kembali caption yang membuat dadanya sesak.“Piala bergilir keluarga Pradipta? Setelah mendapatkan adiknya, sekarang Mentari berhasil mendekati kakaknya.”Ayahnya menatap Mentari dengan wajah serius.“Benarkah kamu melakukan hal sehina ini?”Mentari langsung menggeleng.“Enggak,
Felisha masih memperhatikan Rangga beberapa saat. Setelah mendengar sendiri bagaimana lelaki itu menyimpan kemarahan kepada Gavin, ia merasa percakapan mereka mulai berjalan sesuai dengan yang diinginkannya.Felisha kemudian tersenyum kecil.“Sekarang bukan cuma saya yang dipermalukan.”Rangga mengangkat alis.“Maksud Ibu?”“Foto Gavin dan Mentari yang menyebar itu. Pak Rangga pasti tahu siapa saja yang dipermalukan karena berita itu kan?”Felisha mengucapkannya dengan santai, lalu mengambil gelas air mineral di hadapannya.“Foto mereka berdua yang beredar setelah acara di kapal itu,” lanjut Felisha, mempertegas Rangga tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat bahu. “Oh, itu.”“Pak Rangga sudah melihatnya?”“Sudah. Saya juga baru melihatnya dari internet.”Jawaban Rangga terdengar biasa saja.Felisha mengangguk pelan.“Begitu, ya.”Ia tidak langsung melanjutkan pertanyaan. Felisha justru membiarkan beberapa detik berlalu sebelum kembali berbicara.“Menurut Bapak, siapa yang mengam
“Apakah aku bisa akrab dengan orang yang bernama Rangga itu?” tanya Felisha pada dirinya sendiri sambil tersenyum licik, seakan segala rencana yang ada di otaknya saat ini bisa terwujud dalam sekali kedip.“Gavin sudah mempermalukan aku. Dia harus menerima pembalasan seribu kali lipat, balasanku yang kemarin tentu saja gak ada apa-apanya.”Felisha datang ke gedung tempat Rangga menghadiri rapat dengan pihak Pradipta pada sore hari. Ia sengaja tidak masuk ke dalam gedung karena tidak ingin keberadaannya diketahui Gavin ataupun orang-orang dari perusahaan Pradipta.Setelah memastikan mobilnya terparkir cukup jauh dari pintu utama, Felisha memilih menunggu di sebuah kafe yang berada tepat di seberang gedung. Dari tempat duduk dekat jendela, ia masih bisa melihat pintu keluar gedung tanpa harus menarik perhatian.Felisha memesan kopi, lalu sesekali memeriksa ponselnya sambil menunggu. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Rangga terhadap foto Gavin dan Mentari. Ia juga belum memilik
Mia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Felisha dengan ragu.“Orang yang saya maksud itu Pak Rangga.”Felisha langsung terdiam. Nama itu tidak asing baginya. Ia pernah mendengar bahwa Rangga sempat bermasalah dengan Gavin setelah kejadian di restoran ketika mereka masih berada di Cikarang.“Rangga?” ulang Felisha untuk memastikan.Mia mengangguk pelan.“Tapi saya gak bilang Pak Rangga yang menyebarkan foto itu, Bu. Saya juga gak punya bukti apa-apa. Saya cuma merasa dia mungkin mampu melakukan sesuatu seperti itu.”“Kenapa kamu bisa berpikir begitu?”Mia menatap meja sebelum menjawab.“Pak Rangga memang pernah marah sama Pak Gavin. Waktu itu saya dengar sendiri beberapa orang membicarakan masalah mereka di kantor proyek. Setelah kejadian itu, sikap Pak Rangga juga berubah.”Felisha menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mencerna perkataan Mia.“Lalu apa hubungannya dengan foto itu?”“Saya juga gak tahu, Bu. Saya cuma merasa waktunya terlalu berdekatan







