เข้าสู่ระบบDi dalam ruang manajer, Mentari mendapati kursi kerja Dika masih kosong. Ia tidak terlalu terkejut. Biasanya, dialah yang selalu mengingatkan Dika agar kembali ke kantor tepat waktu setelah jam makan siang usai. Kini, tidak ada lagi yang melakukan hal itu.
Sementara itu, Gavin sudah duduk santai di sofa tamu di sudut ruangan. Kedua kakinya disilangkan, sebuah map tipis berada di atas meja di depannya. Mendengar pintu dibuka, Gavin mengangkat pandangan. "Duduk." Rendra dan Mentari segera duduk di sofa yang berhadapan dengannya. Tatapan Gavin sempat berhenti pada Mentari selama beberapa detik. Ia tidak menyangka perempuan itu ikut bersama Rendra. Namun, ekspresinya tetap datar seolah tidak ada yang perlu dipertanyakan. "Pak Rendra, saya ingin melihat perkembangan Proyek Pusat Distribusi Logistik Nasional Tahap II secara detail." Proyek Pusat Distribusi Logistik Nasional adalah proyek terbesar yang sedang ditangani perusahaan. Nantinya, kawasan itu akan menjadi pusat penyimpanan dan distribusi barang ke berbagai wilayah di Indonesia. Karena nilainya sangat besar, setiap keputusan dan perkembangan proyek harus dipantau dengan cermat. "Baik, Pak." Rendra segera membuka map yang dibawanya. Gavin langsung mengajukan pertanyaan pertama. "Progres fisik proyek sampai hari ini?" "Empat puluh delapan koma enam persen, Pak." "Ada keterlambatan terhadap jadwal?" Rendra tampak berpikir sejenak. Di sampingnya, Mentari segera membuka laptop. "Minus dua koma tiga persen, Pak," jawab Mentari pelan. "Penyebab utamanya perubahan gambar struktur loading dock yang baru disetujui pada tanggal dua puluh tiga Juni." Gavin mengangguk tipis. "Dokumennya?" Mentari segera membuka Minutes of Meeting dan menggeser laptopnya sedikit ke arah Gavin. "Ini, Pak." Gavin membacanya sekilas. "Baik." Ia kembali melontarkan pertanyaan lain. "Risiko terbesar proyek saat ini?" Rendra kali ini menjawab lebih dulu. "Potensi mundurnya pekerjaan finishing gudang, Pak." "Alasannya?" Rendra kembali terdiam beberapa saat. Mentari membuka dokumen lain. "Material panel dinding baru bisa dikirim setelah revisi gambar mendapat persetujuan dari pemilik proyek. Vendor sudah mengirim surat komitmen percepatan pekerjaan." Ruangan kembali hening. Gavin menutup mapnya perlahan. Ia sengaja mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat rinci. Bukan untuk menjatuhkan Rendra, melainkan ingin mengetahui siapa orang yang benar-benar memahami proyek ini. Jawabannya kini sudah ia dapatkan. Mentari menguasai setiap detail proyek dengan sangat baik. Gavin terpaku pada map di hadapannya, tatapannya tertuju pada sebuah amplop cokelat yang terselip di antara tumpukan dokumen. Alisnya sedikit terangkat. "Ini apa?" Rendra sontak menoleh. Wajahnya langsung berubah pucat. "Lho? Kok bisa ikut terbawa?" Ia buru-buru hendak mengambil amplop itu, tetapi Gavin lebih dulu meraihnya. "Maaf, Pak. Itu amplop yang nyelip di antara dokumen." Gavin seolah tidak mendengar. Ia membuka amplop tersebut, lalu mengeluarkan selembar kertas. Rendra menelan ludah. Ia ingin menghentikan Gavin, tetapi urung. Tidak mungkin ia merebut surat dari tangan atasannya sendiri. Di sisi lain, Mentari tetap duduk tenang. Ia hanya memandang lurus ke depan. Dibandingkan Rendra yang mulai gelisah, ekspresinya justru jauh lebih tenang. Rendra diam-diam mengembuskan napas. Dalam hati, ia benar-benar tidak ingin kehilangan salah satu staf terbaik di divisinya. Tatapan Gavin menyapu isi surat itu hingga selesai. "Surat pengunduran diri." Ia mengangkat kepala. "Kenapa?" "Alasan pribadi, Pak," jawab Mentari tanpa ragu. Di bawah meja, Rendra segera menyenggol kaki Mentari pelan, memberi isyarat agar tidak melanjutkan pembicaraan itu. Namun Mentari tetap diam. Gavin melipat kembali surat itu. "Kamu terlihat menguasai pekerjaanmu." "Iya, Pak," sahut Rendra cepat sambil mengangguk berkali-kali. "Mentari memang yang paling memahami administrasi dan progres Proyek Pusat Distribusi Logistik Nasional Tahap II. Saya juga cukup bergantung sama dia." Tatapan Gavin kembali beralih kepada Mentari. "Kalau karyawan seperti kamu sampai mengajukan pengunduran diri, biasanya ada sesuatu yang terjadi dalam tim." Rendra langsung melambaikan kedua tangannya. "Bukan begitu, Pak. Saya pastikan di divisi kami gak ada masalah." Gavin tidak mengalihkan pandangannya dari Mentari. "Berarti masalahnya dengan atasanmu." Ucapan itu membuat Rendra membeku. Ia buru-buru menggeleng. "Enggak, Pak. Pak Andika juga..." Kalimatnya menggantung. Bahkan dirinya sendiri tidak yakin bagaimana harus menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Ruangan mendadak sunyi. Gavin tetap menatap Mentari, menunggu jawaban langsung darinya, bukan dari siapa pun yang berusaha menutup-nutupi keadaan. Gavin memasukkan kembali surat pengunduran diri itu ke dalam amplop, lalu meletakkannya di atas meja dengan tenang. "Ajukan surat ini ke HRD segera." Rendra membelalakkan mata. "Tapi, Pak..." Gavin mengangkat tangan, menghentikan kalimat Rendra. "Saya belum selesai." Ruangan kembali hening. "Saya akan mengambil alih pengawasan Proyek Pusat Distribusi Logistik Nasional Tahap II selama beberapa waktu. Dalam penilaian kantor pusat, potensi keterlambatan proyek ini cukup besar." Ia menoleh ke arah Mentari. "Saya membutuhkan seseorang yang memahami perusahaan ini sekaligus menguasai proyek tersebut." Tatapan Gavin bergeser kepada Rendra. "Karena itu, mulai besok Mentari akan menjadi sekretaris saya selama saya berkantor di cabang ini." "Apa?" seru Rendra dan Mentari hampir bersamaan.Sejak duduk di meja makan, Gavin hampir tidak ikut dalam percakapan. Ia hanya menjawab seperlunya ketika ditanya, lalu kembali fokus pada makanannya. Gerakannya pun lebih cepat dari biasanya, seolah ingin segera menyelesaikan makan malam dan meninggalkan meja.Beberapa kali Felisha mencoba mengajaknya berbicara.“Gavin, bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini?”“Baik.”“Masih sering ke Cikarang?”“Kadang.”Jawabannya singkat tanpa sedikit pun membuka ruang untuk percakapan lebih jauh.Felisha akhirnya memilih diam, meski sesekali masih mencuri pandang ke arah Gavin.Tidak lama kemudian, Gavin selesai makan lebih dulu.Ia meletakkan alat makannya, mengambil napkin, lalu menyeka sudut bibirnya. Setelah itu, ia berdiri dari kursinya.“Saya sudah selesai. Permisi, saya mau ke kamar.”Suasana di meja makan seketika berubah.Amanda yang sejak tadi memperhatikan Gavin langsung menoleh.“Gavin, tunggu dulu.”Amanda segera menahan Gavin sebelum ia benar-benar meninggalkan meja.“Gavin, duduk dul
Saat tiba di ruangan, Gavin langsung memanggil Rendra.Tidak lama kemudian, Rendra mengetuk pintu dan masuk.“Pak Gavin.”Gavin yang sudah duduk di balik meja kerjanya mengangkat wajah.“Besok pagi, Pak Rendra tolong pergi ke kantor proyek di Cikarang.”Rendra mengangguk.“Baik, Pak. Ada yang perlu saya kerjakan di sana?”“Rapiin meja kerja Mentari. Barang-barangnya dipindahkan lagi ke kantor Jakarta.”Rendra sempat terdiam sesaat sebelum kembali mengangguk paham.“Baik, Pak. Berarti mulai besok Mentari gak perlu kembali ke kantor proyek?”“Enggak.”Gavin mengambil sebuah dokumen di atas mejanya, lalu membukanya.“Dia akan bekerja dari Jakarta.”“Baik, Pak.”“Besok kalau sedang merapikan barang-barangnya, telepon Mentari. Pastikan gak ada yang tertinggal.”Rendra mengangguk lagi.“Siap, Pak. Nanti saya hubungi Mentari saat di sana.”Gavin mengangguk singkat.“Sudah. Itu saja.”“Baik, Pak Gavin.”Gavin mengangkat pandangan ke arah pintu selama beberapa detik sebelum kembali menatap pon
Setelah kejadian di restoran, Gavin tidak langsung kembali ke kantor proyek. Ia membawa Mentari menuju mobil tanpa banyak bicara. Wajahnya masih terlihat tenang, tetapi rahangnya mengeras. Sejak keluar dari restoran tadi, Gavin sama sekali tidak membahas Rangga.Mentari mengikuti dari belakang dengan langkah cepat. Begitu sampai di samping mobil, Gavin membuka pintu untuknya.“Masuk.”Mentari berhenti.“Pak Gavin.”Gavin menoleh.“Kita mau ke mana?”“Jakarta.”Jawaban singkat itu membuat Mentari mengernyit.“Sekarang?”“Iya.”“Tapi masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan di proyek.”Gavin menatapnya beberapa detik.“Pekerjaan akan tetap berjalan.”“Justru karena tetap berjalan, saya harus menyelesaikan beberapa laporan sebelum kembali.”“Saya bisa mengaturnya.”Mentari menggeleng.“Bukan cuma soal laporan. Ada beberapa dokumen yang harus saya cocokkan dengan tim di sana. Kalau saya pergi sekarang, pekerjaan saya malah tertunda.”Gavin menarik napas panjang. Ia jelas sedang beru
Pagi itu, Gavin sedang berdiskusi dengan tim engineering di teras kantor proyek. Beberapa gambar kerja terbentang di atas meja, sementara Gavin memeriksa perubahan yang diajukan tim lapangan.Mentari masih sibuk di meja kerjanya, memeriksa laporan perkembangan proyek yang harus diserahkan sebelum siang. Seseorang berhenti di samping mejanya.“Mentari.”Ia mengangkat wajah.Rangga berdiri sambil membawa beberapa lembar dokumen.“Ya, Pak Rangga.”“Saya mau memastikan revisi jadwal pekerjaan struktur lantai tiga. Bagian ini kamu yang pegang, kan?”“Iya, Pak.”Mentari menerima dokumen itu dan langsung memeriksanya.“Yang ini sudah disesuaikan dengan laporan engineering kemarin. Ada perubahan di jadwal pengecoran karena pengiriman material terlambat.”Rangga berdiri terlalu dekat di samping kursinya.“Kenapa dimajukan dua hari?”“Karena kalau tetap mengikuti jadwal sebelumnya, pekerjaan instalasi berikutnya ikut mundur.”Rangga membungkuk sedikit untuk melihat layar laptop Mentari.“Coba t
Setelah selesai menelepon Andika, Felisha masih berdiri tidak jauh dari lokasi kantor proyek. Emosinya belum benar-benar mereda setelah melihat Gavin membopong Mentari dan membawanya pergi begitu saja.Ia masih menggenggam ponselnya ketika seorang perempuan keluar dari arah kantor proyek. Perempuan itu sempat memperhatikan Felisha beberapa saat sebelum akhirnya mendekat.“Maaf. Ibu, Bu Felisha, ya?”Felisha menoleh.“Iya.”“Saya Mia, staf administrasi di sini.” Mia tersenyum ramah. “Saya pernah melihat Bu Felisha waktu saya datang ke kantor pusat menemui Pak Gavin.”Felisha membalas senyumnya tipis. Namun, Mia langsung menyadari mata perempuan itu tampak sedikit memerah.“Bu Felisha gak apa-apa?” tanyanya dengan penuh perhatian.Felisha terdiam sejenak, seolah sedang mempertimbangkan apakah harus menjawab atau tidak. Sikap itu justru membuat Mia semakin merasa prihatin.“Kalau Bu Felisha mau, kita bisa duduk sebentar di kantor. Di sini juga cukup panas walau sudah sore.”Felisha akhir
Setelah mobil Gavin pergi membawa Mentari, Felisha masih berdiri di lokasi proyek dengan wajah penuh amarah. Tatapannya terus mengarah ke jalan yang baru saja dilalui mobil Gavin sampai kendaraan itu benar-benar menghilang dari pandangan.Tanpa berpikir panjang, Felisha mengambil ponselnya dan langsung mencari nomor Andika. Panggilan itu tidak membutuhkan waktu lama untuk tersambung.“Ada apa?” tanya Andika dari seberang.“Aku baru saja melihat Gavin dan Mentari.”Andika terdiam sejenak. “Ya. Mereka memang ada di proyek. Kamu jadi juga ke sana?”Felisha mengembuskan napas kasar. “Aku tahu mereka ada di proyek, Dika. Tapi ternyata mereka bukan cuma sedang bekerja.”Nada suara Felisha membuat Andika mulai memperhatikan.“Maksud kamu?”“Tadi aku melihat mereka berdua sangat mesra, gak peduli di depan banyak pekerja.”Andika mengernyit. “Dekat bagaimana?”Felisha mengepalkan tangannya.“Gavin berdiri di depan Mentari, wajah mereka dekat sekali. Aku bahkan melihat sendiri dia memperhatikan







