Charlie bersandar di ambang pintu. Setelah mendengar penolakanku, dia malah terkekeh."Janice, kalau legenda itu cuma omong kosong , seharusnya kamu nggak akan terluka.""Kalau memang benar, kamu bahkan sudah dua kali nyelamatin nyawaku. Mengabulkan satu permohonan untuk Wendy bukanlah masalah besar, bukan?"Aku menatapnya, tiba-tiba dadaku terasa begitu hampa."Kembaliin gelangku."Charlie melangkah maju dan berdiri di depan Wendy, melindungi wanita itu di balik tubuhnya."Dia baru saja pulih, jangan bikin dia sedih lagi."Aku bertumpu pada lantai, berusaha menghampiri mereka.Pada detik berikutnya, Charlie meraih pergelangan tangan Wendy dan mengangkatnya tinggi-tinggi.Gelang peninggalan Ibu yang seharusnya menjadi milikku kini berkilau redup diterpa cahaya pagi.Dia menatapku dengan tatapan dingin, lalu bertanya dengan tegas, "Jadi, kamu mau buka ruangnya atau nggak?"Aku menggertakkan gigi."Nggak …."Aku bahkan belum sempat menyelesaikan ucapanku ketika dia sudah mengangkat tanga
Baca selengkapnya