Share

Bab 4

Author: Olen
Charlie bersandar di ambang pintu. Setelah mendengar penolakanku, dia malah terkekeh.

"Janice, kalau legenda itu cuma omong kosong , seharusnya kamu nggak akan terluka."

"Kalau memang benar, kamu bahkan sudah dua kali nyelamatin nyawaku. Mengabulkan satu permohonan untuk Wendy bukanlah masalah besar, bukan?"

Aku menatapnya, tiba-tiba dadaku terasa begitu hampa.

"Kembaliin gelangku."

Charlie melangkah maju dan berdiri di depan Wendy, melindungi wanita itu di balik tubuhnya.

"Dia baru saja pulih, jangan bikin dia sedih lagi."

Aku bertumpu pada lantai, berusaha menghampiri mereka.

Pada detik berikutnya, Charlie meraih pergelangan tangan Wendy dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

Gelang peninggalan Ibu yang seharusnya menjadi milikku kini berkilau redup diterpa cahaya pagi.

Dia menatapku dengan tatapan dingin, lalu bertanya dengan tegas, "Jadi, kamu mau buka ruangnya atau nggak?"

Aku menggertakkan gigi.

"Nggak …."

Aku bahkan belum sempat menyelesaikan ucapanku ketika dia sudah mengangkat tangan, bersiap membanting gelang itu ke dinding.

Jantungku seketika bergetar hebat.

"Baiklah."

Ruang Permohonan pun terbuka.

Asap putih dari altar mendadak membubung tinggi, bagai salju yang turun tanpa suara, lalu dalam sekejap menyelimuti seluruh ruang ritual.

Di balik kabut itu, Wendy mengenakan gaun pengantin sambil menggandeng lengan Charlie memasuki sebuah tempat ibadah.

Dentang lonceng bergema.

Charlie menundukkan kepala, menyematkan cincin berlian ke jari Wendy. Matanya berkaca-kaca, sementara suaranya begitu lirih.

"Akhirnya nggak akan ada lagi penyesalan."

Di tengah tepuk tangan dan hujan kelopak bunga, mereka saling berciuman.

Setelah menikah, mereka pindah ke sebuah rumah dengan taman yang luas.

Wendy merasa warna tirainya terlalu dingin. Keesokan harinya, Charlie mengganti seluruh tirai rumah dengan warna jingga hangat kesukaannya.

Suatu malam Wendy ingin makan mi kuah hangat. Charlie mengenakan mantel lalu turun ke dapur. Meski membuat dapur berantakan karena masih canggung, dia tetap menyodorkan semangkuk mi sambil tersenyum. "Kalau rasanya nggak enak, nanti aku belajar lagi."

Tak lama kemudian, Wendy pun hamil.

Charlie membatalkan semua jamuan dan urusan sosialnya, lalu setiap hari pulang tepat waktu.

Dia berjongkok di depan Wendy untuk mendengarkan gerakan bayi di dalam kandungannya. Ketika si kecil menendang pelan, dia terpaku beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum lebar dengan wajah penuh kebahagiaan.

Anak mereka lahir, belajar berjalan, lalu tumbuh dewasa.

Charlie mengangkat anak itu tinggi-tinggi di atas kepalanya sambil berputar di atas hamparan rumput.

Dia mengantar anaknya ke sekolah, melepasnya pergi merantau, lalu bertahun-tahun kemudian menggandeng tangan Wendy menghadiri pernikahan anak mereka.

Mereka menua bersama.

Rumah itu dipenuhi anak dan cucu. Cahaya matahari yang hangat menyinari taman, bagaikan mimpi indah yang tak pernah berakhir.

Semua orang berkata hidup Charlie telah sempurna.

Namun di Ruang Permohonan, yang tersisa hanyalah kesunyian yang mematikan.

Pola permohonan mengoyak telapak tanganku. Darah mengalir dari sela-sela jemariku, menetes ke alur besi, dan setiap tetes yang jatuh terasa makin ringan.

Cincin pertunangan lama yang dulu menjadi milikku meluncur keluar dari saku mantel yang kebesaran, lalu menggelinding hingga ke sisi ranjang.

Aku berusaha mengulurkan tangan untuk mengambilnya.

Namun tanganku sudah terlalu kecil.

Lengan bajuku menjuntai kosong di lantai, sementara ujung jariku bahkan tak mampu menyentuh tepi ranjang.

Efek balik itu sedikit demi sedikit melumat tulang-tulangku, seolah hendak meremukkan seluruh tubuhku sebelum memaksanya masuk ke dalam tubuh yang lebih kecil.

Aku meringkuk kesakitan, tenggorokanku dipenuhi rasa anyir darah.

Aku ingin memanggil Charlie.

Namun yang keluar hanyalah isakan lirih yang nyaris tak terdengar.

Di dalam kabut itu, Charlie telah menua.

Wendy tertidur bersandar di bahunya, sementara tawa anak-anak mereka terdengar dari dalam rumah.

Dia memandangi cahaya jingga yang menyelimuti taman, lalu sesaat tatapannya tampak kehilangan fokus.

Entah mengapa, dia teringat bahwa bertahun-tahun silam pernah ada seseorang yang memasak untuknya dan selalu duduk menunggunya di bawah cahaya lampu.

Seseorang yang tidak pernah meminta bunga, juga tidak pernah menuntut janji.

Dia hanya berharap Charlie mau pulang tepat waktu, walau sekali saja.

Pada saat itulah dunia di dalam Alam Permohonan mulai runtuh.

Asap putih perlahan menghilang.

Senyum di wajah Charlie bahkan belum sempat memudar.

Dia tanpa sadar berseru, "Janice, sudah selesai. Setelah tubuhmu pulih, kita menikah, ya?"

Tidak ada yang menjawab.

Di atas karpet hanya tersisa sehelai mantel besar yang tergeletak kosong.

Di sampingnya terbaring cincin pertunangan yang telah menggelinding jatuh.

Langkah Charlie langsung terhenti.

Dia berjalan mendekat, lalu perlahan menyingkap mantel itu.

Di dalamnya, meringkuk seorang bayi yang baru lahir. Pada pergelangan tangannya yang mungil, gelang besar itu masih menggantung longgar.

Seluruh tubuh Charlie membeku di tempat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cintaku Sirna di Gunung Suci   Bab 10

    Setiap tarikan napasnya disertai semburan darah kental.Dia berguling-guling dalam ilusi karena kesakitan. Jeritan pilunya tercekat di tenggorokan hingga tak mampu keluar.Seketika, pemandangan berganti. Sebuah garis waktu lain pun terbentang.Di sana, Charlie tidak pernah ada.Janice tidak pernah bertunangan, tidak pernah memanjatkan permohonan untuk siapa pun, apalagi mengorbankan hidupnya hingga berubah menjadi bayi yang bahkan tak mampu berbicara.Di kaki Pegunungan Salju, dia mengenakan gaun putih dengan gelang tua peninggalan Ibunya melingkar di pergelangan tangan. Angin berembus menyapu padang rumput, sementara dia tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya, hidup bebas tanpa beban.Hidupnya berjalan damai dan tenang.Charlie menatap wajah yang dipenuhi senyum itu, sementara air matanya menetes ke punggung tangannya.Cinta yang selama ini begitu dibanggakannya, ternyata dibangun di atas pengorbanan Janice yang terus dikuras hingga tak bersisa.Dia telah mempertaruhkan

  • Cintaku Sirna di Gunung Suci   Bab 9

    Begitu kesabarannya habis, Charlie pasti akan kembali memohon kepadanya.Wendy tidak ingin lagi menjalani hari-hari miskin yang dipenuhi penyakit, sampai-sampai membeli sekotak obat khusus pun harus diperhitungkan dengan cermat.Dia menegakkan tubuh, lalu pandangannya jatuh pada altar permohonan di samping.Kertas-kertas permohonan yang berserakan dan pena ritual masih tergeletak di sana.Sebuah pikiran yang begitu nekat tiba-tiba muncul di benaknya.Berdoa memohon di Ruang Permohonan milik orang lain benar-benar tindakan yang sangat berisiko.Dia meraih pena itu, lalu mencoret-coret selembar kertas dengan tulisan yang berantakan.[Jadikan Janice selamanya bayi bisu yang tidak bisa berbicara.]Setelah selesai menulis, dia menggigit ujung jari telunjuknya hingga berdarah, lalu menempelkan darah itu pada kertas permohonan.Cahaya merah baru saja mulai menyala.Tiba-tiba pintu ditendang hingga terbuka dan menghantam dinding dengan suara keras.Charlie berdiri di ambang pintu.Dasi di lehe

  • Cintaku Sirna di Gunung Suci   Bab 8

    Darahku mengalir dari pergelangan tangan ke alur permohonan.Setiap tetes yang jatuh membuat wajahku makin pucat.Pemandangan berganti. Di aula perjamuan yang mewah, Charlie menyerahkan segelas sampanye yang melambangkan kemenangan kepada Wendy.Dia tersenyum, sementara aku menanggung kesakitan.Tubuhnya di masa kini begitu tersiksa hingga sulit bernapas. Jari-jarinya mencengkeram karpet erat-erat sampai kuku-kukunya retak.Akhirnya dia mengerti.Saat dulu aku menelepon dan berkata bahwa aku kedinginan, aku bukan sedang bermanja-manja atau mencari perhatiannya.Aku benar-benar hampir mati membeku.Wendy semula masih merasa lega karena kesehatannya tidak ikut diambil.Namun ketika mendengar kabar melalui ponsel bahwa perusahaan Charlie telah runtuh, dia langsung terpaku.Dia buru-buru menghampiri dan mengguncang bahu Charlie.Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya bukan menanyakan keadaannya, melainkan bagaimana mereka akan membayar biaya pengobatan yang sangat mahal setelah ini.Dia

  • Cintaku Sirna di Gunung Suci   Bab 7

    Charlie mengangkat kepalanya. Tatapannya pada Wendy tidak lagi menyimpan kelembutan seperti dulu. Dia menunjuk ke arah pintu."Keluar."Charlie menggendongku dari ranjang bayi, lalu kembali memasuki Ruang Permohonan.Dia mendudukkanku di atas bantalan doa yang empuk, sementara dirinya berdiri canggung di depan altar permohonan.Dia sedang berusaha mencari cara untuk mengembalikanku seperti semula.Dia meniru semua yang dulu kulakukan. Telapak tangannya disayat, lalu darahnya dioleskan ke altar permohonan.Altar kuno itu memancarkan cahaya merah.Beberapa baris tulisan kuno berwarna kekuningan perlahan muncul melayang di udara. Itulah satu-satunya cara untuk membalikkan semuanya.Pihak yang menerima permohonan harus mengembalikan semua yang telah diperoleh.Hanya dengan begitu, roda takdir yang terbalik dapat kembali ke jalurnya.Pertama, mengembalikan nyawa Charlie yang diperpanjang setelah kecelakaan pesawat.Kedua, mengembalikan karier dan kekayaan Charlie yang didapat kembali setel

  • Cintaku Sirna di Gunung Suci   Bab 6

    Charlie menarik sebuah kursi, lalu duduk di samping ranjang bayiku.Dia tidak berani menyentuhku.Dia hanya melepas gelang tua itu dari pergelangan tanganku, lalu menggenggamnya erat-erat.Dalam keadaan setengah sadar, kudengar dia berkata dengan suara serak,"Janice, jangan bikin aku takut."Begitu fajar menyingsing, Charlie langsung menerobos masuk ke Ruang Permohonanku.Dia membongkar seluruh isi ruangan.Semua kitab dan catatan tulisanku disapunya hingga berserakan di lantai, berusaha menemukan bukti bahwa selama ini aku telah membohonginya.Lalu dia menyalakan komputerku.Tepat di tengah layar desktop, tampak sebuah folder baru.Folder itu kusimpan sebelum dia menghancurkan gelang peninggalan ibuku.Namanya, [Bukti Bahwa Aku Pernah Mengorbankan Hidupku Demi Kamu].Kursor Charlie berhenti di atas folder itu cukup lama, seolah dia tidak berani membukanya.Namun pada akhirnya, dia tetap mengkliknya.Folder foto pertama pun muncul.Foto itu diambil pada senja hari ketika dia tersadar

  • Cintaku Sirna di Gunung Suci   Bab 5

    Saat Charlie menggendongku keluar dari Ruang Permohonan, kedua tangannya gemetar hebat.Dia bahkan tidak sempat mengambil mantelnya.Tubuhku hanya terbungkus mantel longgar yang sebelumnya adalah milikku.Dari tenggorokanku hanya keluar isakan-isakan lirih yang nyaris tak terdengar.Bahkan tangisku begitu lemah, seolah napasku akan terputus pada detik berikutnya.Charlie berlari sekencang mungkin menuju garasi.Dia mencoba beberapa kali, tetapi bahkan tidak berhasil memasukkan kunci mobil ke lubangnya.Bibirnya terus bergumam, berulang kali mengatakan bahwa semua ini tidak mungkin terjadi.Dia langsung menelepon direktur rumah sakit swasta langganannya.Begitu sambungan terhubung, dia langsung berteriak.Dia mengatakan telah terjadi keadaan darurat yang sangat serius dan memerintahkan semua dokter spesialis terbaik untuk segera bersiaga.Wendy mengejarnya dengan wajah pucat, lalu menghadang di depan pintu mobil.Tatapannya terpaku pada tubuh kecil yang terbungkus mantel di pelukan Char

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status