Share

Bab 2

Penulis: Olen
Terdengar tawa sinis dari seberang telepon.

"Kamu pakai lagi statusmu sebagai Gadis Suci buat nakut-nakutin aku?"

"Janice, Wendy baru saja pulih. Sekarang dia masih takut kalau ditinggal sendirian. Bisa nggak, jangan cemburu di saat seperti ini?"

Angin menerobos masuk dari celah jendela yang tidak tertutup rapat, membuat tubuhku menggigil.

"Aku sudah hampir nggak sanggup bertahan lagi," kataku lirih.

"Tiga hari lagi, mungkin aku bahkan nggak akan tahu lagi siapa diriku."

Nada bicara Charlie malah makin dingin.

"Katanya kamu akan berubah jadi anak kecil? Buktinya sekarang masih bisa angkat telepon."

"Janice, sandiwara soal takhayul ini kalau berlebihan jadi nggak lucu."

Aku ingin bilang padanya bahwa sekarang aku bahkan sudah tidak bisa menjangkau kunci pengaman di pintu apartemen.

Namun, kata-kata itu akhirnya kutelan kembali.

Menghadap gagang telepon, aku berkata perlahan, kata demi kata, "Charlie, kamu nggak perlu lagi nikahin aku."

Aku menutup telepon, lalu menarik koper yang kusimpan di dasar lemari.

Dari sela-sela pakaian berukuran besar, aku mengeluarkan pakaian anak-anak yang telah kusiapkan.

Sebelum fajar menyingsing, aku harus pergi dari sini.

Saat merapikan kabel pengisi daya di atas meja, tanpa sengaja aku menyenggol hard disk eksternal yang berada di sampingnya.

"Buk."

Hard disk itu terjatuh ke atas meja, dan layar komputer langsung menampilkan folder salinan foto.

Nama foldernya: [Hidup Baru].

Selama ini aku selalu mengira isinya adalah semua materi persiapan pernikahan kami untuk memulai hidup baru bersama.

Tanpa sadar, tanganku menekan folder itu.

Di dalamnya tidak ada satu pun foto pranikah kami.

Yang ada hanyalah foto Charlie dan Wendy.

Folder foto pertama bertanggal pada sore hari ketika Charlie sadar setelah kecelakaan pesawat.

Gelang identitas pasien di pergelangan tangannya bahkan masih belum dilepas.

Di salah satu foto, dia menundukkan kepala dengan sabar untuk melilitkan syal merah di leher Wendy.

Wendy duduk di tepi ranjang rumah sakit sambil tersenyum manis.

Pada foto berikutnya, Charlie mengangkat ponselnya untuk memotret Wendy.

Cahaya matahari senja yang masuk dari balik jendela menyinari bahu mereka, membuat suasana dalam foto itu terasa begitu hangat hingga menyilaukan mata.

Aku menatap foto-foto itu tanpa berkedip.

Sore itu, di Ruang Permohonan, aku mempertaruhkan nyawaku demi menyelamatkannya.

Paku permohonan sepanjang 25 sentimeter menembus telapak tanganku tanpa ampun.

Saat sadar, rasa sakitnya begitu hebat hingga aku bahkan tidak sanggup menggenggam segelas air di samping tempat tidur.

Malam itu aku meringkuk di balik selimut sambil menggigil, meneleponnya hanya karena ingin mendengar suaranya.

Masih kuingat apa yang dia katakan.

"Aku lagi sibuk jalanin pemeriksaan lanjutan dan bikin berita acara kecelakaan. Jangan mengada-ada soal efek balik ritual permohonan itu buat cari perhatianku."

Rupanya dia begitu sibuk hingga tak sempat melakukan panggilan video denganku.

Namun, dia masih punya waktu untuk memotret Wendy sebanyak tiga puluh enam kali.

Nama folder kedua: [Awal yang Baru].

Tanggalnya adalah malam perayaan setelah Charlie bangkit dari keterpurukan usai kebangkrutan dan percobaan bunuh dirinya.

Di dalam foto, Charlie menyerahkan gelas sampanye pertama kepada Wendy.

Di foto berikutnya, dia membungkuk untuk memakaikan sepasang sepatu hak tinggi berpayet ke kaki Wendy.

Keduanya berdiri berdampingan di depan jendela kaca besar, memandangi kembang api yang memenuhi langit malam.

Jemariku menyentuh bekas luka di telapak tangan yang tak akan pernah hilang.

Malam itu, aku menukar darah permohonanku agar rekening perusahaan Charlie bisa digunakan kembali.

Aku membuka keran air dingin di kamar mandi hingga alirannya paling deras.

Di atas lantai keramik, aku pingsan sampai tiga kali karena menahan rasa sakit. Baru saat fajar menyingsing aku sanggup bangkit kembali.

Waktu itu dia bilang ada jamuan dengan para investor yang tak bisa ditolak.

Ternyata, jamuan yang dimaksud hanyalah menemani Wendy menikmati kembang api semalaman.

Kubuka detail foto kembang api itu.

Waktu pengambilannya tepat pada menit ketika aku mengirim pesan, “Charlie, aku kedinginan”.

Aku terus menggulir ratusan foto itu hingga sampai bagian paling akhir.

Tidak ada fotoku.

Tidak satu pun.

Folder foto pertunangan kami kosong.

Kupilih sembilan foto mereka yang paling mesra, lalu kupindahkan ke folder baru.

Kuberi nama: [Bukti Bahwa Aku Pernah Mengorbankan Hidupku Demi Kamu].

Setelah itu, aku mencabut hard disk tersebut.

Terdengar suara kunci pintu diputar dengan pelan.

Charlie masuk bersama Wendy.

Wendy mengenakan mantel Charlie. Lengan bajunya harus digulung beberapa kali karena kebesaran.

Charlie merangkulnya erat di dalam pelukannya sambil berjalan perlahan.

Di tangan Wendy, ada sebuah pot kecil berisi bunga daisy.

"Bau disinfektan di rumah sakit menyengat banget. Setiap menciumnya aku langsung mual, jadi aku mau nginap di sini saja semalam."

Wendy mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

Kemudian dia menunjuk ke arah kamar utama sambil berkata, "Nakas di samping tempat tidur itu pas ukurannya. Cocok buat naruh botol obatku."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cintaku Sirna di Gunung Suci   Bab 10

    Setiap tarikan napasnya disertai semburan darah kental.Dia berguling-guling dalam ilusi karena kesakitan. Jeritan pilunya tercekat di tenggorokan hingga tak mampu keluar.Seketika, pemandangan berganti. Sebuah garis waktu lain pun terbentang.Di sana, Charlie tidak pernah ada.Janice tidak pernah bertunangan, tidak pernah memanjatkan permohonan untuk siapa pun, apalagi mengorbankan hidupnya hingga berubah menjadi bayi yang bahkan tak mampu berbicara.Di kaki Pegunungan Salju, dia mengenakan gaun putih dengan gelang tua peninggalan Ibunya melingkar di pergelangan tangan. Angin berembus menyapu padang rumput, sementara dia tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya, hidup bebas tanpa beban.Hidupnya berjalan damai dan tenang.Charlie menatap wajah yang dipenuhi senyum itu, sementara air matanya menetes ke punggung tangannya.Cinta yang selama ini begitu dibanggakannya, ternyata dibangun di atas pengorbanan Janice yang terus dikuras hingga tak bersisa.Dia telah mempertaruhkan

  • Cintaku Sirna di Gunung Suci   Bab 9

    Begitu kesabarannya habis, Charlie pasti akan kembali memohon kepadanya.Wendy tidak ingin lagi menjalani hari-hari miskin yang dipenuhi penyakit, sampai-sampai membeli sekotak obat khusus pun harus diperhitungkan dengan cermat.Dia menegakkan tubuh, lalu pandangannya jatuh pada altar permohonan di samping.Kertas-kertas permohonan yang berserakan dan pena ritual masih tergeletak di sana.Sebuah pikiran yang begitu nekat tiba-tiba muncul di benaknya.Berdoa memohon di Ruang Permohonan milik orang lain benar-benar tindakan yang sangat berisiko.Dia meraih pena itu, lalu mencoret-coret selembar kertas dengan tulisan yang berantakan.[Jadikan Janice selamanya bayi bisu yang tidak bisa berbicara.]Setelah selesai menulis, dia menggigit ujung jari telunjuknya hingga berdarah, lalu menempelkan darah itu pada kertas permohonan.Cahaya merah baru saja mulai menyala.Tiba-tiba pintu ditendang hingga terbuka dan menghantam dinding dengan suara keras.Charlie berdiri di ambang pintu.Dasi di lehe

  • Cintaku Sirna di Gunung Suci   Bab 8

    Darahku mengalir dari pergelangan tangan ke alur permohonan.Setiap tetes yang jatuh membuat wajahku makin pucat.Pemandangan berganti. Di aula perjamuan yang mewah, Charlie menyerahkan segelas sampanye yang melambangkan kemenangan kepada Wendy.Dia tersenyum, sementara aku menanggung kesakitan.Tubuhnya di masa kini begitu tersiksa hingga sulit bernapas. Jari-jarinya mencengkeram karpet erat-erat sampai kuku-kukunya retak.Akhirnya dia mengerti.Saat dulu aku menelepon dan berkata bahwa aku kedinginan, aku bukan sedang bermanja-manja atau mencari perhatiannya.Aku benar-benar hampir mati membeku.Wendy semula masih merasa lega karena kesehatannya tidak ikut diambil.Namun ketika mendengar kabar melalui ponsel bahwa perusahaan Charlie telah runtuh, dia langsung terpaku.Dia buru-buru menghampiri dan mengguncang bahu Charlie.Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya bukan menanyakan keadaannya, melainkan bagaimana mereka akan membayar biaya pengobatan yang sangat mahal setelah ini.Dia

  • Cintaku Sirna di Gunung Suci   Bab 7

    Charlie mengangkat kepalanya. Tatapannya pada Wendy tidak lagi menyimpan kelembutan seperti dulu. Dia menunjuk ke arah pintu."Keluar."Charlie menggendongku dari ranjang bayi, lalu kembali memasuki Ruang Permohonan.Dia mendudukkanku di atas bantalan doa yang empuk, sementara dirinya berdiri canggung di depan altar permohonan.Dia sedang berusaha mencari cara untuk mengembalikanku seperti semula.Dia meniru semua yang dulu kulakukan. Telapak tangannya disayat, lalu darahnya dioleskan ke altar permohonan.Altar kuno itu memancarkan cahaya merah.Beberapa baris tulisan kuno berwarna kekuningan perlahan muncul melayang di udara. Itulah satu-satunya cara untuk membalikkan semuanya.Pihak yang menerima permohonan harus mengembalikan semua yang telah diperoleh.Hanya dengan begitu, roda takdir yang terbalik dapat kembali ke jalurnya.Pertama, mengembalikan nyawa Charlie yang diperpanjang setelah kecelakaan pesawat.Kedua, mengembalikan karier dan kekayaan Charlie yang didapat kembali setel

  • Cintaku Sirna di Gunung Suci   Bab 6

    Charlie menarik sebuah kursi, lalu duduk di samping ranjang bayiku.Dia tidak berani menyentuhku.Dia hanya melepas gelang tua itu dari pergelangan tanganku, lalu menggenggamnya erat-erat.Dalam keadaan setengah sadar, kudengar dia berkata dengan suara serak,"Janice, jangan bikin aku takut."Begitu fajar menyingsing, Charlie langsung menerobos masuk ke Ruang Permohonanku.Dia membongkar seluruh isi ruangan.Semua kitab dan catatan tulisanku disapunya hingga berserakan di lantai, berusaha menemukan bukti bahwa selama ini aku telah membohonginya.Lalu dia menyalakan komputerku.Tepat di tengah layar desktop, tampak sebuah folder baru.Folder itu kusimpan sebelum dia menghancurkan gelang peninggalan ibuku.Namanya, [Bukti Bahwa Aku Pernah Mengorbankan Hidupku Demi Kamu].Kursor Charlie berhenti di atas folder itu cukup lama, seolah dia tidak berani membukanya.Namun pada akhirnya, dia tetap mengkliknya.Folder foto pertama pun muncul.Foto itu diambil pada senja hari ketika dia tersadar

  • Cintaku Sirna di Gunung Suci   Bab 5

    Saat Charlie menggendongku keluar dari Ruang Permohonan, kedua tangannya gemetar hebat.Dia bahkan tidak sempat mengambil mantelnya.Tubuhku hanya terbungkus mantel longgar yang sebelumnya adalah milikku.Dari tenggorokanku hanya keluar isakan-isakan lirih yang nyaris tak terdengar.Bahkan tangisku begitu lemah, seolah napasku akan terputus pada detik berikutnya.Charlie berlari sekencang mungkin menuju garasi.Dia mencoba beberapa kali, tetapi bahkan tidak berhasil memasukkan kunci mobil ke lubangnya.Bibirnya terus bergumam, berulang kali mengatakan bahwa semua ini tidak mungkin terjadi.Dia langsung menelepon direktur rumah sakit swasta langganannya.Begitu sambungan terhubung, dia langsung berteriak.Dia mengatakan telah terjadi keadaan darurat yang sangat serius dan memerintahkan semua dokter spesialis terbaik untuk segera bersiaga.Wendy mengejarnya dengan wajah pucat, lalu menghadang di depan pintu mobil.Tatapannya terpaku pada tubuh kecil yang terbungkus mantel di pelukan Char

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status