MasukSetiap tarikan napasnya disertai semburan darah kental.Dia berguling-guling dalam ilusi karena kesakitan. Jeritan pilunya tercekat di tenggorokan hingga tak mampu keluar.Seketika, pemandangan berganti. Sebuah garis waktu lain pun terbentang.Di sana, Charlie tidak pernah ada.Janice tidak pernah bertunangan, tidak pernah memanjatkan permohonan untuk siapa pun, apalagi mengorbankan hidupnya hingga berubah menjadi bayi yang bahkan tak mampu berbicara.Di kaki Pegunungan Salju, dia mengenakan gaun putih dengan gelang tua peninggalan Ibunya melingkar di pergelangan tangan. Angin berembus menyapu padang rumput, sementara dia tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya, hidup bebas tanpa beban.Hidupnya berjalan damai dan tenang.Charlie menatap wajah yang dipenuhi senyum itu, sementara air matanya menetes ke punggung tangannya.Cinta yang selama ini begitu dibanggakannya, ternyata dibangun di atas pengorbanan Janice yang terus dikuras hingga tak bersisa.Dia telah mempertaruhkan
Begitu kesabarannya habis, Charlie pasti akan kembali memohon kepadanya.Wendy tidak ingin lagi menjalani hari-hari miskin yang dipenuhi penyakit, sampai-sampai membeli sekotak obat khusus pun harus diperhitungkan dengan cermat.Dia menegakkan tubuh, lalu pandangannya jatuh pada altar permohonan di samping.Kertas-kertas permohonan yang berserakan dan pena ritual masih tergeletak di sana.Sebuah pikiran yang begitu nekat tiba-tiba muncul di benaknya.Berdoa memohon di Ruang Permohonan milik orang lain benar-benar tindakan yang sangat berisiko.Dia meraih pena itu, lalu mencoret-coret selembar kertas dengan tulisan yang berantakan.[Jadikan Janice selamanya bayi bisu yang tidak bisa berbicara.]Setelah selesai menulis, dia menggigit ujung jari telunjuknya hingga berdarah, lalu menempelkan darah itu pada kertas permohonan.Cahaya merah baru saja mulai menyala.Tiba-tiba pintu ditendang hingga terbuka dan menghantam dinding dengan suara keras.Charlie berdiri di ambang pintu.Dasi di lehe
Darahku mengalir dari pergelangan tangan ke alur permohonan.Setiap tetes yang jatuh membuat wajahku makin pucat.Pemandangan berganti. Di aula perjamuan yang mewah, Charlie menyerahkan segelas sampanye yang melambangkan kemenangan kepada Wendy.Dia tersenyum, sementara aku menanggung kesakitan.Tubuhnya di masa kini begitu tersiksa hingga sulit bernapas. Jari-jarinya mencengkeram karpet erat-erat sampai kuku-kukunya retak.Akhirnya dia mengerti.Saat dulu aku menelepon dan berkata bahwa aku kedinginan, aku bukan sedang bermanja-manja atau mencari perhatiannya.Aku benar-benar hampir mati membeku.Wendy semula masih merasa lega karena kesehatannya tidak ikut diambil.Namun ketika mendengar kabar melalui ponsel bahwa perusahaan Charlie telah runtuh, dia langsung terpaku.Dia buru-buru menghampiri dan mengguncang bahu Charlie.Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya bukan menanyakan keadaannya, melainkan bagaimana mereka akan membayar biaya pengobatan yang sangat mahal setelah ini.Dia
Charlie mengangkat kepalanya. Tatapannya pada Wendy tidak lagi menyimpan kelembutan seperti dulu. Dia menunjuk ke arah pintu."Keluar."Charlie menggendongku dari ranjang bayi, lalu kembali memasuki Ruang Permohonan.Dia mendudukkanku di atas bantalan doa yang empuk, sementara dirinya berdiri canggung di depan altar permohonan.Dia sedang berusaha mencari cara untuk mengembalikanku seperti semula.Dia meniru semua yang dulu kulakukan. Telapak tangannya disayat, lalu darahnya dioleskan ke altar permohonan.Altar kuno itu memancarkan cahaya merah.Beberapa baris tulisan kuno berwarna kekuningan perlahan muncul melayang di udara. Itulah satu-satunya cara untuk membalikkan semuanya.Pihak yang menerima permohonan harus mengembalikan semua yang telah diperoleh.Hanya dengan begitu, roda takdir yang terbalik dapat kembali ke jalurnya.Pertama, mengembalikan nyawa Charlie yang diperpanjang setelah kecelakaan pesawat.Kedua, mengembalikan karier dan kekayaan Charlie yang didapat kembali setel
Charlie menarik sebuah kursi, lalu duduk di samping ranjang bayiku.Dia tidak berani menyentuhku.Dia hanya melepas gelang tua itu dari pergelangan tanganku, lalu menggenggamnya erat-erat.Dalam keadaan setengah sadar, kudengar dia berkata dengan suara serak,"Janice, jangan bikin aku takut."Begitu fajar menyingsing, Charlie langsung menerobos masuk ke Ruang Permohonanku.Dia membongkar seluruh isi ruangan.Semua kitab dan catatan tulisanku disapunya hingga berserakan di lantai, berusaha menemukan bukti bahwa selama ini aku telah membohonginya.Lalu dia menyalakan komputerku.Tepat di tengah layar desktop, tampak sebuah folder baru.Folder itu kusimpan sebelum dia menghancurkan gelang peninggalan ibuku.Namanya, [Bukti Bahwa Aku Pernah Mengorbankan Hidupku Demi Kamu].Kursor Charlie berhenti di atas folder itu cukup lama, seolah dia tidak berani membukanya.Namun pada akhirnya, dia tetap mengkliknya.Folder foto pertama pun muncul.Foto itu diambil pada senja hari ketika dia tersadar
Saat Charlie menggendongku keluar dari Ruang Permohonan, kedua tangannya gemetar hebat.Dia bahkan tidak sempat mengambil mantelnya.Tubuhku hanya terbungkus mantel longgar yang sebelumnya adalah milikku.Dari tenggorokanku hanya keluar isakan-isakan lirih yang nyaris tak terdengar.Bahkan tangisku begitu lemah, seolah napasku akan terputus pada detik berikutnya.Charlie berlari sekencang mungkin menuju garasi.Dia mencoba beberapa kali, tetapi bahkan tidak berhasil memasukkan kunci mobil ke lubangnya.Bibirnya terus bergumam, berulang kali mengatakan bahwa semua ini tidak mungkin terjadi.Dia langsung menelepon direktur rumah sakit swasta langganannya.Begitu sambungan terhubung, dia langsung berteriak.Dia mengatakan telah terjadi keadaan darurat yang sangat serius dan memerintahkan semua dokter spesialis terbaik untuk segera bersiaga.Wendy mengejarnya dengan wajah pucat, lalu menghadang di depan pintu mobil.Tatapannya terpaku pada tubuh kecil yang terbungkus mantel di pelukan Char







