Jantung Raisa serasa berhenti berdetak saat itu juga. Sentuhan tangannya pada lengan kokoh Anggara mendadak terasa membakar kulitnya sendiri. Dengan panik, Raisa bermaksud menarik diri dan membuka pintu mobil untuk kembali melarikan diri, namun terlambat.Satu tangan kekar Anggara bergerak kilat menyambar pergelangan tangan Raisa, sementara tangan lainnya menekan tombol kunci otomatis.Ctek.Pintu mobil sport itu terkunci rapat."Ingin lari ke mana lagi, Raisa?" suara Anggara bergema dalam kabin mobil yang sempit, begitu berat, dingin, dan sarat akan dominasi mutlak.Raisa mencengkeram sabuk pengaman, matanya liar menatap belasan pria berjas hitam yang kini sudah mengepung luar mobil sport tersebut. Evan, yang baru saja berlari terengah-engah, memberikan hormat tunduk di balik kaca jendela pengemudi."P-lepaskan aku! Biarkan aku keluar!" jerit Raisa dengan suara bergetar hebat. Wajahnya yang pucat pasi kini memerah akibat perpaduan rasa takut, panik, dan malu yang teramat sangat karen
Last Updated : 2026-09-28 Read more