بيت / Romansa / Candu Belaian Tuan Miliader / Bab 4 Informasi Terbaru

مشاركة

Bab 4 Informasi Terbaru

مؤلف: Melvii_SN
last update تاريخ النشر: 2026-07-09 16:58:35

"Tuan... Tuan... Bangun Tuan..."

Satu kedipan. Dua kedipan.

Aroma keringat, karet lantai gym, dan sensasi dingin yang mendadak menepuk pipinya dengan agak kurang ajar membuat kesadaran Anggara ditarik paksa dari trotoar jalanan malam yang sepi.

Pandangannya yang semula kabur perlahan memfokus, menangkap bayangan siluet wajah yang sangat familiar di atasnya. Bukan wajah Raisa dengan senyum sinisnya yang menantang, melainkan wajah cemas Evan yang memegang sebuah handuk kecil dan botol air mineral.

Anggara mengerang rendah. Rasa sakit menjalar di punggung dan lehernya. Pria itu baru menyadari dirinya masih terduduk di lantai, bersandar pada tiang besi tepat di bawah samsak gantung yang masih bergoyang pelan. Dia ketiduran karena saking lelahnya. Semua konfrontasi intens dengan Raisa tadi hanyalah proyeksi dari otaknya yang terlalu stres.

"T-Tuan Anggara? Anda tidak apa-apa?" suara Evan memecah keheningan ruang gym, terdengar sangat berhati-hati. "Saya tadi ke sini karena ada dokumen darurat yang harus Anda tanda tangani, tapi saya lihat Anda memejamkan mata sambil memaki pelan. Saya pikir Anda sedang... menderita stroke ringan karena kurang tidur."

Anggara memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Matanya berkilat jengkel, menatap asisten pribadinya seolah-olah pria itu baru saja melakukan dosa besar—dan memang benar, Evan baru saja menggagalkan akhir dari pencarian satu miliarnya.

"Evan," panggil Anggara, suaranya serak namun sarat akan aura intimidasi yang membuat Evan refleks menegakkan posisi berdirinya.

"Iya, Tuan?"

"Kamu tahu apa fungsi utama seorang asisten?" Anggara bangkit berdiri secara perlahan, melangkah mendekati Evan hingga asistennya itu terpaksa mendongak.

"M-membantu semua keperluan Anda, Tuan."

Anggara merebut handuk dari tangan Evan dengan sentakan halus, lalu menyeka keringat di lehernya. Senyum tipis yang sarat akan sarkasme terukir di wajah tampannya.

"Salah. Fungsi utamamu saat ini adalah memastikan kamu tidak muncul di hadapanku saat aku hampir menangkap istriku, bahkan di dalam mimpi sekalipun," ucap Anggara, nadanya begitu tenang namun menusuk. "Tanganmu tadi menepuk pipiku dengan cukup lancang. Apa kamu sedang mengetes apakah nyawamu masih punya cadangan, atau kamu memang sudah bosan menerima gaji dari Sanjaya Group?"

Evan menelan ludah dengan susah payah. Bulu kuduknya meremang mendengar ancaman halus tentang sisa nyawanya, namun di sisi lain, kepalanya yang lelah setelah begadang semalaman mencari Raisa mendadak memunculkan keberanian nekat.

"M-maaf, Tuan," Evan menjawab, tubuhnya agak gemetar tapi matanya mencoba tetap lurus. "Saya menepuk pipi Anda karena Anda tadi mengigau ingin mentransfer uang satu miliar ke samsak gantung ini. Sebagai asisten yang loyal, saya hanya ingin menyelamatkan keuangan perusahaan agar Anda tidak bertransaksi dengan objek mati."

Anggara menghentikan gerakannya yang sedang menyeka keringat. Mata elangnya menyipit, menatap Evan yang kini mendadak menunduk dalam, tampak menyesali keberanian sesaatnya barusan. Keheningan mencekam kembali merayap di antara mereka selama beberapa detik.

Bukannya mengamuk, Anggara justru mendengus geli secara hambar—sebuah respons yang jauh lebih mengerikan bagi Evan.

"Bagus. Berarti otakmu masih berfungsi untuk menghitung uang," sahut Anggara dingin, melemparkan kembali handuk basah itu tepat ke dada Evan. "Sekarang, sebelum aku benar-benar memotong gajimu untuk membayar kerugian mimpi burukku, katakan: dokumen darurat apa yang membuatmu berani mengganggu tidurku?"

Evan buru-buru menegakkan tubuhnya, dengan sigap menyodorkan sebuah map kulit hitam yang sejak tadi diapitnya di ketiak.

"Ini dokumen persetujuan akuisisi lahan untuk proyek Sanjaya Eco-City, Tuan. Pihak vendor meminta tanda tangan basah Anda malam ini juga agar pengerjaan fondasi bisa dimulai besok subuh."

Anggara merebut map tersebut tanpa suara. Sambil bersandar pada salah satu alat gym, jemari kokohnya membuka map, membaca cepat poin-poin krusial di dalamnya dengan ketelitian seorang pebisnis ulung, lalu membubuhkan tanda tangan yang tegas di atas kertas putih itu.

Sret. Sret.

"Sudah. Apa ada hal lain?" tanya Anggara dingin seraya melemparkan kembali map tersebut ke pelukan Evan.

Evan menerima map itu dengan cekatan, lalu raut wajahnya mendadak berubah serius. Langkahnya maju satu langkah, merendahkan volume suaranya. "Ada satu lagi, Tuan. Ini mengenai... target utama kita. Informasi terbaru tentang Nona Raisa Shazanafia."

Mendengar nama itu disebut, kantuk yang sempat menggelayuti mata Anggara lenyap seketika. Sepasang mata elangnya langsung mengunci wajah Evan dengan tatapan menuntut yang tajam. "Katakan."

"Tim IT kita berhasil melacak riwayat transaksi digital dan alamat IP yang digunakan untuk mengakses portal kampusnya malam ini," jelas Evan dengan binar lega di matanya. "Nona Raisa saat ini tinggal di sebuah rumah kos khusus wanita di daerah Nirwana, Gang Kelinci Nomor 14. Kamarnya ada di lantai dua."

Rahang Anggara mengetat. Akhirnya, setelah membuat seluruh kota gempar dengan sayembara satu miliar, semut kecil itu mulai menunjukkan sarangnya. Sebuah senyuman tipis, penuh dengan dominasi yang berbahaya, perlahan terukir di sudut bibir Anggara.

"Bagus," ucap Anggara, suaranya berat dan sarat akan nada perintah yang mutlak. "Perintahkan tim keamanan kita untuk mempercepat pencarian ke sana malam ini juga. Kepung area sekitar kosnya, tapi ingat... pantau dari jauh. Jangan ada yang membuat pergerakan bodoh sampai dia ketakutan dan kabur lagi."

"Baik, Tuan. Apakah Anda ingin tim langsung membawanya ke kediaman Sanjaya subuh nanti?" tanya Evan meminta penegasan.

Anggara terdiam sejenak. Ia melirik jam tangan mewahnya yang kini menunjukkan hampir tengah malam. Mengingat bagaimana Raisa berlari histeris dari kantor catatan sipil karena dikhianati oleh mantan kekasihnya, Anggara tahu wanita itu sedang berada di titik paling rapuh sekaligus paling waspada. Menyeretnya di tengah malam hanya akan memicu keributan yang tidak perlu.

"Tidak usah," jawab Anggara santai, namun matanya berkilat penuh rencana. Pria itu berjalan menuju loker untuk mengambil kunci mobil sportnya. "Biarkan dia tidur dengan tenang malam ini."

Pria itu membalikkan badan di ambang pintu gym, menatap Evan dengan aura mengintimidasi yang begitu pekat.

"Besok pagi, aku akan mendatangi kampus tempat dia berkuliah. Aku ingin melihat langsung seperti apa rupa istriku saat dia terpojok di wilayahnya sendiri."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 8 Permusuhan

    Bab 8Pernyataan dingin yang keluar dari mulut Anggara terngiang-ngiang bak gema di dinding kamar yang sunyi. Sentuhan ibu jari pria itu di garis bibir bawah Raisa terasa membakar—sebuah sensasi aneh yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya, memicu denyut halus yang asing sekaligus mendebarkan di dalam dada.Raisa mematung. Matanya menatap lurus pada manik mata elang di depannya. Di sana, tidak ada keraguan, tidak ada belas kasihan. Hanya ada dominasi mutlak yang dibungkus dengan ketampanan yang sangat berbahaya.Namun, tepat sebelum jiwanya benar-benar tersedot oleh aura mengintimidasi itu, bayangan wajah Angga Sebastian yang tertawa mengejek di depan kantor catatan sipil mendadak melintas di kepalanya.“Kamu cuma staff toko florist yang gajinya kecil sekali. Kita tidak selevel!”Suara itu bekerja bagaikan air es yang disiramkan ke kepala Raisa. Kesadarannya tertarik kembali secara paksa. Rasa hangat yang sempat menyelinap di dadanya seket

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 7 Posesif

    Deru mesin mobil sport milik Anggara akhirnya meredup saat kendaraan mewah itu melintasi gerbang besi tempa berukuran raksasa yang terbuka secara otomatis. Mobil itu membelah jalan setapak beraspal mulus, membelah pekarangan hijau seluas lapangan sepak bola dengan air mancur bertingkat di bagian tengahnya, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pilar-pilar megah bergaya klasik modern.Kediaman utama keluarga Darenarendra.Raisa menatap keluar jendela dengan napas tertahan. Kemewahan bangunan di depannya begitu megah, namun baginya, tempat ini tak ubahnya sebuah sangkar emas yang baru saja siap mengurungnya."Turun," perintah Anggara datar seraya mematikan mesin mobil.Pria itu keluar lebih dulu. Sebelum Raisa sempat berpikir untuk mengunci diri di dalam kabin, pintu di sisinya sudah dibukakan oleh Evan yang menyambut mereka dengan sikap hormat."Selamat datang di rumah, Nyonya Darenarendra," sapa Evan membungkuk sopan.Rai

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 6

    Jantung Raisa serasa berhenti berdetak saat itu juga. Sentuhan tangannya pada lengan kokoh Anggara mendadak terasa membakar kulitnya sendiri. Dengan panik, Raisa bermaksud menarik diri dan membuka pintu mobil untuk kembali melarikan diri, namun terlambat.Satu tangan kekar Anggara bergerak kilat menyambar pergelangan tangan Raisa, sementara tangan lainnya menekan tombol kunci otomatis.Ctek.Pintu mobil sport itu terkunci rapat."Ingin lari ke mana lagi, Raisa?" suara Anggara bergema dalam kabin mobil yang sempit, begitu berat, dingin, dan sarat akan dominasi mutlak.Raisa mencengkeram sabuk pengaman, matanya liar menatap belasan pria berjas hitam yang kini sudah mengepung luar mobil sport tersebut. Evan, yang baru saja berlari terengah-engah, memberikan hormat tunduk di balik kaca jendela pengemudi."P-lepaskan aku! Biarkan aku keluar!" jerit Raisa dengan suara bergetar hebat. Wajahnya yang pucat pasi kini memerah akibat perpaduan rasa takut, panik, dan malu yang teramat sangat karen

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 5 Akhir Dari Pencarian

    Rencana matang Anggara untuk mengepung area kos Raisa ternyata meleset dari perkiraan. Usaha belasan anak buahnya yang berjaga dalam senyap di sekitar Gang Kelinci sejak tengah malam terbuang sia-sia. Mereka tidak tahu bahwa kamar kos di lantai dua itu sudah kosong sejak kemarin malam.Tepat saat semburat merah subuh mulai memecah langit, Raisa baru saja turun dari angkutan kota dengan langkah gontai. Gadis itu tidak berada di kosnya, melainkan baru saja menempuh perjalanan melelahkan dari rumah ibu tirinya di pinggiran kota."Dasar anak tidak tahu untung," gumam Raisa lirih, meniru makian ibu tirinya semalam dengan senyum getir. "Menyesal rasanya aku pulang ke kampung. Lagipula, aku pun tak tau kenapa aku memilih pulang kemarin. Ah... dasar orangtua kejam."Raisa merapatkan jaket tudungnya, mencoba menghalau hawa dingin subuh sekaligus menyembunyikan wajahnya yang pucat. Perutnya berbunyi nyaring, memprotes karena sejak kemarin malam tidak ada satu pun makanan yang masuk. Berniat men

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 4 Informasi Terbaru

    "Tuan... Tuan... Bangun Tuan..."Satu kedipan. Dua kedipan.Aroma keringat, karet lantai gym, dan sensasi dingin yang mendadak menepuk pipinya dengan agak kurang ajar membuat kesadaran Anggara ditarik paksa dari trotoar jalanan malam yang sepi.Pandangannya yang semula kabur perlahan memfokus, menangkap bayangan siluet wajah yang sangat familiar di atasnya. Bukan wajah Raisa dengan senyum sinisnya yang menantang, melainkan wajah cemas Evan yang memegang sebuah handuk kecil dan botol air mineral.Anggara mengerang rendah. Rasa sakit menjalar di punggung dan lehernya. Pria itu baru menyadari dirinya masih terduduk di lantai, bersandar pada tiang besi tepat di bawah samsak gantung yang masih bergoyang pelan. Dia ketiduran karena saking lelahnya. Semua konfrontasi intens dengan Raisa tadi hanyalah proyeksi dari otaknya yang terlalu stres."T-Tuan Anggara? Anda tidak apa-apa?" suara Evan memecah keheningan ruang gym, terdengar sangat berhati-hati. "Saya tadi ke sini karena ada dokumen daru

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 3 Menemukannya?

    Di sisi lain kota, atmosfer di dalam ruang kerja utama kediaman megah keluarga Darenarendra terasa begitu mencekik. Ruangan luas berlantai marmer hitam itu hening, hanya menyisakan deru napas tertahan dari Evan yang berdiri membeku di depan meja kerja jati yang besar.Di balik meja itu, Anggara duduk tegak. Setelan jasnya sudah berganti dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya. Sepasang mata elangnya menatap dingin lembar dokumen pernikahan di atas meja, sebelum akhirnya perlahan mendongak, menusuk tepat ke manik mata asisten pribadinya."Jadi kamu datang ke hadapanku hanya membawa kabar kosong, Evan?"Evan menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mulai bercucuran melewati pelipisnya. Ia menunduk dalam, tidak berani membalas tatapan dominan sang atasan. "M-maaf, Tuan Anggara. Tim kami sudah menyisir radius lima kilometer dari kantor catatan sipil, termasuk memeriksa CCTV di sekitar ga

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status