Mag-log in"Kita menikah karena ketidaksengajaan, jadi jangan berharap lebih karena aku tak menginginkan mu, Tuan." "Mulutmu berkata 'tidak', tapi tubuhmu mengatakan 'ya'. Bagaimana kamu menjelaskan ketidaksinkronan itu?" "M-maksud, Tuan?" Mulut Raisa ternganga lebar saat Anggara Darenarendra—pria yang tiba-tiba menjadi suaminya itu menunjukkan video dimana Raisa menggeliat, memeluk, dan memohon di bawah kungkungan Anggara agar segera menyatukan diri mereka. Sementara pada saat sadar, dengan angkuhnya Raisa menolak Anggara. Pernikahan mereka bermula dari ketidaksengajaan, pengkhianatan, dan keterpaksaan yang membuat dunia Raisa berubah dalam sekejap mata. Ia hidup mewah, bergelimang harta, serta dapat membalas dendam pada orang-orang yang telah menzaliminya. Namun, ada satu hal yang tak bisa Raisa ungkapkan kebenarannya, yaitu tentang perasaannya terhadap Anggara. Ditambah lagi, mantan kekasih pria itu terus mencoba merebut kembali hatinya. Hanya satu yang pasti, Raisa memiliki candu terhadap sentuhan Anggara.
view more"Silakan tandatangani di bagian ini, pengantin prianya sedang ke toilet."
Perintah itu berasal dari seorang petugas kantor catatan sipil, yang agak mendesak wanita berkulit putih di depannya. Bukan tanpa alasan, melainkan karena situasi dan kondisi kantor sipil hari itu sangat padat, akibat meningkatnya angka pernikahan. Wanita yang diketahui bernama Raisa itu segera menurut tanpa banyak protes. Ia pun merasa pengap berdiri di antara ramainya kerumunan, namun karena kedatangannya adalah atas perintah sang kekasih, maka ia dengan senang hati berdesak-desakan demi sebuah ikatan sakral—pernikahan. "Sudah," ucapnya sembari mendorong kertas ke depan petugas. "Terima kasih. Sekarang silakan ke loket sana untuk menunggu suami anda," ucap petugas mempersilakan, yang langsung diangguki oleh Raisa. Wanita mana yang tak bahagia, jika hubungannya berakhirnya dengan pernikahan? Itulah yang saat ini dialami oleh Raisa Shazanafia. Jantungnya berdebar kuat, hatinya berbunga-bunga karena akhirnya sang kekasih memintanya datang ke kantor sipil untuk menandatangani surat pernikahan. "Akhirnya hubungan penuh liku-liku ini berakhir bahagia," ucapnya pelan diakhiri senyum tipis penuh haru. Semua kenangan serta perjuangan hubungannya dengan sang kekasih berputar bak rekaman kenangan tak terlupakan. Ia masih tak menyangka, laki-laki yang kerap cekcok dengannya itu mengambil langkah manis, yang membuat wanita mana saja terkesima. Tidak terasa sepuluh menit berlalu, namun suaminya tak kunjung kembali. Bosan, Raisa pun memutuskan berjalan ke arah pintu utama untuk mencari udara segar. Namun, baru saja beberapa detik langkahnya terhenti. Dahinya mengkerut, matanya menyipit, dan otaknya memprosesnya dengan cepat apa yang sedang ia lihat. "Angga?" Ia berucap lirih setengah kaget, pasalnya pria yang terlihat membukakan pintu mobil dan menyambut sosok wanita di dalamnya itu adalah Angga Sebastian—kekasihnya. "Angga dan... i-itu kan Kimberly? Mereka... mereka kenapa satu mobil?" Tidak tahan, Raisa pun hendak segera mengikuti, tetapi urung karena langkah sepasang insan itu bukan ke arah taman indah di seberang kantor sipil, melainkan ke arah kantor itu sendiri. Apalagi yang dilakukan sepasang kekasih mendatangi kantor catatan sipil kalau bukan untuk mengurus pernikahan? "Enggak, enggak mungkin mereka mendaftar menikah. Aku pasti salah lihat. Itu bukan Angga. Angga asli sedang di toilet." Berulang-ulang Raisa meyakinkan diri bahwa pemandangan di depannya hanyalah ilusi. Nahas, ilusi kali ini terlalu nyata untuk dipungkiri. Faktanya, Angga dan wanita itu kini sudah semakin dekat ke arah Raisa. Dan sepertinya mereka sudah saling menyadari keberadaan satu sama lain. "Angga." Tap. Langkah Angga dan kekasihnya yang seksi berhenti bersamaan. Begitupula ketika menoleh ke arah Raisa yang wajahnya sudah seperti jemuran kering. Tetapi tidak dengan Angga serta Kimberly, mereka memasang senyum sinis dan meremehkan. "Angga, siapa wanita ini? Kenapa kalian datang kemari?" protes Raisa penuh penegasan, namun dengan intonasi nada marah yang ditekan. "Tentu saja kami ingin menikah, memangnya apalagi?" Bukan dari Angga, melainkan Kimberly yang menjawab ketus pertanyaan Raisa. "Menikah?" Raisa mengulang kata itu, suaranya bergetar menahan sesak di dada. "Angga, kamu bercanda, kan? Tadi malam... tadi malam kamu sendiri yang kirim pesan ke aku!" Dengan tangan yang mulai gemetar, Raisa meraba tasnya, mengeluarkan ponsel, dan menyodorkan layar benda pipih itu tepat di depan wajah Angga. Isinya adalah pesan teks singkat yang sejak subuh tadi membuat senyum Raisa tak pudar. (Datang ke capil meja 3 besok, bawa KTP. Kita urus pernikahan kita secepatnya.) Angga melirik layar ponsel Raisa sekilas. Bukannya panik atau merasa bersalah, pria itu justru menepuk jidatnya sendiri lalu terkekeh sinis, seolah baru saja melihat kelucuan yang tidak penting. "Ya ampun, Raisa. Jadi karena pesan ini kamu datang ke sini?" Angga menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah meremehkan. "Itu salah kirim! Aku mau kirim pesan itu ke Kimberly, tapi karena nama kontak kalian sama-sama berada di daftar chat teratas, aku salah pencet. Lagipula kamu geer sekali. Sadar diri saja lah, mana mungkin aku mau menikahi mu. Mendadak pula." Dunia Raisa rasanya runtuh seketika. Kenyataan itu menghantamnya jauh lebih menyakitkan daripada tamparan fisik. "Salah kirim?" bisik Raisa lirih. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai menggenang di pelupuk mata. "Tiga tahun kita pacaran, Ngga. Tiga tahun aku menemanimu dari nol, dan kamu bilang pesan ini cuma salah kirim?!" Kimberly mendengus malas, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Raisa dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Duh, kasihan sekali mantanmu ini, Sayang. Saking ngebetnya pengen nikah sama orang kaya, sampai gak bisa membedakan mana pesan buat dia, mana yang buat calon istri sah." Beberapa orang di sekitar pintu masuk mulai menoleh, berbisik-bisik menjadikan Raisa sebagai pusat tontonan yang memalukan. Rasa malu dan hancur berbaur menjadi satu, membuat pasokan oksigen di paru-paru Raisa terasa menipis. "Dengar ya, Raisa. Kimberly ini anak pemilik perusahaan tempat keluargaku menanam modal. Dia bisa bantu masa depan karierku. Sedangkan kamu? Cuma staff toko florist yang gajinya kecil sekali. Kita tidak selevel. Mending kamu pulang sekarang, jangan bikin malu diri sendiri di sini!" "Karier? Jadi karena karier, kamu buang aku kayak sampah setelah semua yang kita lewati, Angga?" "Tidak juga, melainkan karena aku tidak melihat masa depan cerah saat bersamamu. Paham?!" Raisa tidak sanggup lagi. Sambil menahan sesak di dada ia membalikkan badan, menerobos kerumunan orang dengan kasar, tidak memedulikan tatapan mata yang terus menghujamnya. Ia berlari sekencang mungkin keluar dari pintu utama, menuruni anak tangga kantor, dan terus berlari menjauhi gedung terkutuk itu. _____ Di sisi lain, seorang pria mengenakan setelan jas mahal baru saja keluar dari toilet. Dan ia menerima kabar bahwa berkas pernikahannya telah ditandatangani oleh wanita asing, namun kini wanita itu telah hilang. "Bagaimana bisa hilang?" "Maaf, Tuan Anggara. Situasi di depan loket tadi sangat kacau dan padat. Wanita yang tidak sengaja menandatangani berkas Anda baru saja terlibat keributan dengan mantan kekasihnya. Dia dihina habis-habisan di depan umum hingga akhirnya berlari keluar gedung dalam kondisi histeris. Anak buah kita kehilangan jejaknya di sekitar perempatan jalan raya." Anggara mengetatkan rahangnya. Sepasang mata elangnya berkilat tajam penuh amarah. Ia menatap lekat-lekat dokumen pernikahan di tangan. Di sana, di atas meterai resmi, nama Raisa Shazanafia sudah tertulis rapi, bersanding sah dengan namanya. "Gunakan semua jaringan media kita. Sebarkan foto dan identitas Raisa Shazanafia ke seluruh platform digital, grup informasi kota, hingga ke jaringan ojek online saat ini juga," perintah Anggara dingin. Evan mendongak, terkejut. "Sebuah pengumuman terbuka, Tuan?" "Ya. Buat sayembara besar-besaran. Barang siapa yang berhasil menemukan keberadaan Raisa dalam keadaan aman dan membawanya ke hadapan ku dalam waktu maksimal lima hari, maka aku akan memberinya uang tunai 1 Miliar Rupiah."Rencana matang Anggara untuk mengepung area kos Raisa ternyata meleset dari perkiraan. Usaha belasan anak buahnya yang berjaga dalam senyap di sekitar Gang Kelinci sejak tengah malam terbuang sia-sia. Mereka tidak tahu bahwa kamar kos di lantai dua itu sudah kosong sejak kemarin malam.Tepat saat semburat merah subuh mulai memecah langit, Raisa baru saja turun dari angkutan kota dengan langkah gontai. Gadis itu tidak berada di kosnya, melainkan baru saja menempuh perjalanan melelahkan dari rumah ibu tirinya di pinggiran kota."Dasar anak tidak tahu untung," gumam Raisa lirih, meniru makian ibu tirinya semalam dengan senyum getir. "Menyesal rasanya aku pulang ke kampung. Lagipula, aku pun tak tau kenapa aku memilih pulang kemarin. Ah... dasar orangtua kejam."Raisa merapatkan jaket tudungnya, mencoba menghalau hawa dingin subuh sekaligus menyembunyikan wajahnya yang pucat. Perutnya berbunyi nyaring, memprotes karena sejak kemarin malam tidak ada satu pun makanan yang masuk. Berniat men
"Tuan... Tuan... Bangun Tuan..."Satu kedipan. Dua kedipan.Aroma keringat, karet lantai gym, dan sensasi dingin yang mendadak menepuk pipinya dengan agak kurang ajar membuat kesadaran Anggara ditarik paksa dari trotoar jalanan malam yang sepi.Pandangannya yang semula kabur perlahan memfokus, menangkap bayangan siluet wajah yang sangat familiar di atasnya. Bukan wajah Raisa dengan senyum sinisnya yang menantang, melainkan wajah cemas Evan yang memegang sebuah handuk kecil dan botol air mineral.Anggara mengerang rendah. Rasa sakit menjalar di punggung dan lehernya. Pria itu baru menyadari dirinya masih terduduk di lantai, bersandar pada tiang besi tepat di bawah samsak gantung yang masih bergoyang pelan. Dia ketiduran karena saking lelahnya. Semua konfrontasi intens dengan Raisa tadi hanyalah proyeksi dari otaknya yang terlalu stres."T-Tuan Anggara? Anda tidak apa-apa?" suara Evan memecah keheningan ruang gym, terdengar sangat berhati-hati. "Saya tadi ke sini karena ada dokumen daru
Di sisi lain kota, atmosfer di dalam ruang kerja utama kediaman megah keluarga Darenarendra terasa begitu mencekik. Ruangan luas berlantai marmer hitam itu hening, hanya menyisakan deru napas tertahan dari Evan yang berdiri membeku di depan meja kerja jati yang besar.Di balik meja itu, Anggara duduk tegak. Setelan jasnya sudah berganti dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya. Sepasang mata elangnya menatap dingin lembar dokumen pernikahan di atas meja, sebelum akhirnya perlahan mendongak, menusuk tepat ke manik mata asisten pribadinya."Jadi kamu datang ke hadapanku hanya membawa kabar kosong, Evan?"Evan menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mulai bercucuran melewati pelipisnya. Ia menunduk dalam, tidak berani membalas tatapan dominan sang atasan. "M-maaf, Tuan Anggara. Tim kami sudah menyisir radius lima kilometer dari kantor catatan sipil, termasuk memeriksa CCTV di sekitar ga
Petang itu Raisa baru saja pulang dari kampus menuju toko florist tempatnya bekerja paruh waktu. Namun, baru beberapa langkah matanya dibuat melotot melihat brosur-brosur yang tersebar di beranda jalan. Beberapa menempel di pohon, beberapa lainnya pada dinding-dinding bangunan, dan yang paling membuatnya hampir jantungan adalah reklame sayembara pencarian dirinya terpampang jelas di atas sana. Napas Raisa tercekat di tenggorokan. Kakinya mendadak terasa lemas, seperti kehilangan tulang penyangga. Di atas papan reklame digital berukuran besar yang menyala di pinggir jalan raya, foto dirinya terpampang dengan sangat jelas—foto wajahnya yang diambil secara acak, kemungkinan dari tangkapan layar akun media sosialnya.Di bawah foto itu, deretan huruf kapital berwarna merah tebal seolah berteriak ke arahnya. DICARI: RAISA SHAZANAFIABARANG SIAPA YANG MENEMUKAN DAN MEMBAWANYA DALAM KEADAAN AMAN KEPADA ANGGARA DARENARENDRA DALAM WAKTU 5 HARI, AKAN DIBERIKAN IMBALAN TUNAI SEBESAR 1 MILIAR R


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.