LOGINJantung Raisa serasa berhenti berdetak saat itu juga. Sentuhan tangannya pada lengan kokoh Anggara mendadak terasa membakar kulitnya sendiri. Dengan panik, Raisa bermaksud menarik diri dan membuka pintu mobil untuk kembali melarikan diri, namun terlambat.
Satu tangan kekar Anggara bergerak kilat menyambar pergelangan tangan Raisa, sementara tangan lainnya menekan tombol kunci otomatis. Ctek. Pintu mobil sport itu terkunci rapat. "Ingin lari ke mana lagi, Raisa?" suara Anggara bergema dalam kabin mobil yang sempit, begitu berat, dingin, dan sarat akan dominasi mutlak. Raisa mencengkeram sabuk pengaman, matanya liar menatap belasan pria berjas hitam yang kini sudah mengepung luar mobil sport tersebut. Evan, yang baru saja berlari terengah-engah, memberikan hormat tunduk di balik kaca jendela pengemudi. "P-lepaskan aku! Biarkan aku keluar!" jerit Raisa dengan suara bergetar hebat. Wajahnya yang pucat pasi kini memerah akibat perpaduan rasa takut, panik, dan malu yang teramat sangat karena baru saja 'menyerahkan diri' secara konyol ke dalam pelukan pria itu. Anggara tidak mengindahkan jeritan Raisa. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi pengemudi, menurunkan sedikit kaca mobil untuk memberi instruksi singkat pada Evan. "Bubar. Kembali ke kediaman Darenarendra dan siapkan semuanya," perintah Anggara dingin. "Baik, Tuan Anggara!" sahut Evan sigap sebelum membubarkan belasan anak buahnya. Kaca mobil kembali terangkat rapat. Anggara memutar kunci kontak, dan deru mesin mobil sport yang garang seketika meraung, membelah keheningan pagi daerah Nirwana. Mobil melaju cepat meninggalkan lokasi, membawa Raisa yang terjebak di kursi penumpang. Sepanjang perjalanan, atmosfer di dalam mobil terasa begitu mencekik. Raisa memeluk tubuhnya sendiri, merapat sejauh mungkin ke arah pintu sebelah kiri demi menjaga jarak dari Anggara. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya. "Kenapa kamu melakukan ini?" bisik Raisa lirih, suaranya parau menahan serak. "Aku hanya rakyat biasa, Tuan Anggara. Aku cuma salah tanda tangan karena mengira itu berkas pernikahan kekasihku yang mengkhianatiku. Kenapa kamu harus memburuku seperti kriminal?" Anggara melirik sekilas lewat kaca spion tengah. Kilat kesedihan dan keputusasaan di mata Raisa sempat membuat dadanya berdesir aneh, namun pria itu dengan cepat menguasai ekspresinya kembali. "Kesalahan atau bukan, nama Raisa Shazanafia sudah tercantum sah di dokumen pernikahan negara bersanding dengan namaku," sahut Anggara datar, jemari kokohnya mencengkeram kemudi dengan mantap. "Dan dalam dunia bisnis Darenarendra, tidak ada istilah pembatalan untuk dokumen yang sudah ditandatangani." "Ini bukan bisnis! Ini pernikahan! Ini hidupku!" seru Raisa penuh penegasan, membalikkan tubuh menghadap Anggara. "Aku tidak butuh uang satu miliarmu, aku tidak butuh kemewahanmu! Batalkan pernikahan gila ini ke mahkamah!" Anggara menepi tiba-tiba di bahu jalan sepi, menginjak rem hingga ban mobil mencicit nyaring. Sebelum Raisa sempat bereaksi, Anggara condong ke samping, mengikis jarak di antara mereka hingga Raisa bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di ceruk lehernya. Sepasang mata elang Anggara mengunci pandangan Raisa, mematikan seluruh argumen yang ingin diucapkan gadis itu. "Dengar baik-baik, Istriku," bisik Anggara pelan namun sangat tajam. "Kamu punya dua pilihan. Pertama, kamu menurut padaku, tinggal di kediamanku sebagai Nyonya Darenarendra, dan aku pastikan orang-orang yang menzalimimu—mantan kekasih tidak berguna serta ibu tirimu itu—akan berlutut memohon ampun padamu." Raisa menelan ludah dengan susah payah, bulu kuduknya meremang hebat. "P-pilihan kedua?" Senyum tipis yang sarat akan bahaya terukir di bibir tampan Anggara. "Pilihan kedua, kamu boleh mencoba kabur lagi... dan aku akan memastikan seluruh toko bunga tempatmu bekerja gulung tikar, kampusmu mencabut beasiswamu, dan hidupmu tidak akan pernah tenang di kota ini." Raisa mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya membelalak tak percaya. "Kamu... kamu iblis, Anggara!" "Aku hanya seorang suami yang sedang mengambil kembali hak milik sahnya," balas Anggara santai, kembali membetulkan posisi duduknya dan melajukan mobil menuju kawasan perumahan paling elit di ibu kota. "Selamat datang di kehidupan barumu, Nyonya Darenarendra." Sambutan Anggara membuat tubuh Raisa merinding.Deru mesin mobil sport milik Anggara akhirnya meredup saat kendaraan mewah itu melintasi gerbang besi tempa berukuran raksasa yang terbuka secara otomatis. Mobil itu membelah jalan setapak beraspal mulus, membelah pekarangan hijau seluas lapangan sepak bola dengan air mancur bertingkat di bagian tengahnya, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pilar-pilar megah bergaya klasik modern.Kediaman utama keluarga Darenarendra.Raisa menatap keluar jendela dengan napas tertahan. Kemewahan bangunan di depannya begitu megah, namun baginya, tempat ini tak ubahnya sebuah sangkar emas yang baru saja siap mengurungnya."Turun," perintah Anggara datar seraya mematikan mesin mobil.Pria itu keluar lebih dulu. Sebelum Raisa sempat berpikir untuk mengunci diri di dalam kabin, pintu di sisinya sudah dibukakan oleh Evan yang menyambut mereka dengan sikap hormat."Selamat datang di rumah, Nyonya Darenarendra," sapa Evan membungkuk sopan.Rai
Jantung Raisa serasa berhenti berdetak saat itu juga. Sentuhan tangannya pada lengan kokoh Anggara mendadak terasa membakar kulitnya sendiri. Dengan panik, Raisa bermaksud menarik diri dan membuka pintu mobil untuk kembali melarikan diri, namun terlambat.Satu tangan kekar Anggara bergerak kilat menyambar pergelangan tangan Raisa, sementara tangan lainnya menekan tombol kunci otomatis.Ctek.Pintu mobil sport itu terkunci rapat."Ingin lari ke mana lagi, Raisa?" suara Anggara bergema dalam kabin mobil yang sempit, begitu berat, dingin, dan sarat akan dominasi mutlak.Raisa mencengkeram sabuk pengaman, matanya liar menatap belasan pria berjas hitam yang kini sudah mengepung luar mobil sport tersebut. Evan, yang baru saja berlari terengah-engah, memberikan hormat tunduk di balik kaca jendela pengemudi."P-lepaskan aku! Biarkan aku keluar!" jerit Raisa dengan suara bergetar hebat. Wajahnya yang pucat pasi kini memerah akibat perpaduan rasa takut, panik, dan malu yang teramat sangat karen
Rencana matang Anggara untuk mengepung area kos Raisa ternyata meleset dari perkiraan. Usaha belasan anak buahnya yang berjaga dalam senyap di sekitar Gang Kelinci sejak tengah malam terbuang sia-sia. Mereka tidak tahu bahwa kamar kos di lantai dua itu sudah kosong sejak kemarin malam.Tepat saat semburat merah subuh mulai memecah langit, Raisa baru saja turun dari angkutan kota dengan langkah gontai. Gadis itu tidak berada di kosnya, melainkan baru saja menempuh perjalanan melelahkan dari rumah ibu tirinya di pinggiran kota."Dasar anak tidak tahu untung," gumam Raisa lirih, meniru makian ibu tirinya semalam dengan senyum getir. "Menyesal rasanya aku pulang ke kampung. Lagipula, aku pun tak tau kenapa aku memilih pulang kemarin. Ah... dasar orangtua kejam."Raisa merapatkan jaket tudungnya, mencoba menghalau hawa dingin subuh sekaligus menyembunyikan wajahnya yang pucat. Perutnya berbunyi nyaring, memprotes karena sejak kemarin malam tidak ada satu pun makanan yang masuk. Berniat men
"Tuan... Tuan... Bangun Tuan..."Satu kedipan. Dua kedipan.Aroma keringat, karet lantai gym, dan sensasi dingin yang mendadak menepuk pipinya dengan agak kurang ajar membuat kesadaran Anggara ditarik paksa dari trotoar jalanan malam yang sepi.Pandangannya yang semula kabur perlahan memfokus, menangkap bayangan siluet wajah yang sangat familiar di atasnya. Bukan wajah Raisa dengan senyum sinisnya yang menantang, melainkan wajah cemas Evan yang memegang sebuah handuk kecil dan botol air mineral.Anggara mengerang rendah. Rasa sakit menjalar di punggung dan lehernya. Pria itu baru menyadari dirinya masih terduduk di lantai, bersandar pada tiang besi tepat di bawah samsak gantung yang masih bergoyang pelan. Dia ketiduran karena saking lelahnya. Semua konfrontasi intens dengan Raisa tadi hanyalah proyeksi dari otaknya yang terlalu stres."T-Tuan Anggara? Anda tidak apa-apa?" suara Evan memecah keheningan ruang gym, terdengar sangat berhati-hati. "Saya tadi ke sini karena ada dokumen daru
Di sisi lain kota, atmosfer di dalam ruang kerja utama kediaman megah keluarga Darenarendra terasa begitu mencekik. Ruangan luas berlantai marmer hitam itu hening, hanya menyisakan deru napas tertahan dari Evan yang berdiri membeku di depan meja kerja jati yang besar.Di balik meja itu, Anggara duduk tegak. Setelan jasnya sudah berganti dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya. Sepasang mata elangnya menatap dingin lembar dokumen pernikahan di atas meja, sebelum akhirnya perlahan mendongak, menusuk tepat ke manik mata asisten pribadinya."Jadi kamu datang ke hadapanku hanya membawa kabar kosong, Evan?"Evan menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mulai bercucuran melewati pelipisnya. Ia menunduk dalam, tidak berani membalas tatapan dominan sang atasan. "M-maaf, Tuan Anggara. Tim kami sudah menyisir radius lima kilometer dari kantor catatan sipil, termasuk memeriksa CCTV di sekitar ga
Petang itu Raisa baru saja pulang dari kampus menuju toko florist tempatnya bekerja paruh waktu. Namun, baru beberapa langkah matanya dibuat melotot melihat brosur-brosur yang tersebar di beranda jalan. Beberapa menempel di pohon, beberapa lainnya pada dinding-dinding bangunan, dan yang paling membuatnya hampir jantungan adalah reklame sayembara pencarian dirinya terpampang jelas di atas sana. Napas Raisa tercekat di tenggorokan. Kakinya mendadak terasa lemas, seperti kehilangan tulang penyangga. Di atas papan reklame digital berukuran besar yang menyala di pinggir jalan raya, foto dirinya terpampang dengan sangat jelas—foto wajahnya yang diambil secara acak, kemungkinan dari tangkapan layar akun media sosialnya.Di bawah foto itu, deretan huruf kapital berwarna merah tebal seolah berteriak ke arahnya. DICARI: RAISA SHAZANAFIABARANG SIAPA YANG MENEMUKAN DAN MEMBAWANYA DALAM KEADAAN AMAN KEPADA ANGGARA DARENARENDRA DALAM WAKTU 5 HARI, AKAN DIBERIKAN IMBALAN TUNAI SEBESAR 1 MILIAR R







