Aku masih berdiri di ujung tangga, mengumpulkan diri sebelum benar-benar turun ke ruang tengah. Suara langkah dari taman sudah berhenti, mungkin Farel sudah masuk. Aku menarik napas panjang, mencoba menata wajahku sewajar mungkin, lalu melangkah turun. Farel duduk santai di sofa, kaki disilangkan di atas meja kaca, HP di tangan. Begitu melihatku, dia menyeringai seperti biasa, seolah dunia baik-baik saja. "Eh, Alia," sapanya, nadanya kembali ke gaya jahil yang biasa dia pakai. "Baru bangun? Jam segini?" "Nggak," jawabku, duduk di sofa seberangnya, menjaga jarak yang terasa perlu. "Kamu ngapain di sini pagi-pagi?" "Numpang lewat aja," jawabnya enteng, tidak menatapku langsung, matanya lebih sibuk dengan layar HP. "Sekalian nyampein pesan dari Mama." "Pesan apa?" "Makan malam. Besok." Dia melempar kalimat itu biasa saja. "Besok?" Aku setengah berdiri dari duduk. "Secepat itu? Kok mendadak banget?" "Mama bilang udah kelamaan ditunda," Farel mengangkat bahu, masih tidak menata
Terakhir Diperbarui : 2026-08-03 Baca selengkapnya