Kami duduk di ruang tengah yang masih berantakan sisa kekacauan tadi pagi.Kardus-kardus yang sempat diturunkan kembali oleh anak buah Haji Rasyid masih menumpuk di sudut, isinya berantakan, tidak sempat dirapikan lagi. Aku duduk di samping ibu, sementara Revan mengambil posisi di kursi seberang, tenang seolah tidak baru saja menyelesaikan masalah sebesar itu."Revan," panggilku pelan sambil mencoba menarik lengan jasnya, "maksud kamu tadi, aku nggak bisa tinggal di sini lagi—""Alia," tegur ibu, "nggak sopan lho bisik-bisik gitu di depan tamu.""Nggak apa-apa, Bu," sela Revan, tersenyum tipis. "Justru saya yang mau jelasin semuanya sekarang."Dia menoleh ke ibu, menegakkan punggungnya sedikit lebih formal."Bu, perkenalkan, nama saya Revan. Saya bos baru Alia."Ibu mengangguk pelan, masih mencerna, sementara Laras yang duduk di sudut ruangan tiba-tiba memicingkan mata, memperhatikan wajah Revan lekat-lekat, lupa sejenak pada pelipisnya yang masih memerah."Kayak pernah lihat," gumam
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-07-26 อ่านเพิ่มเติม