Dua detik.Lima detik.Sepuluh detik.Tak satu kata pun keluar dari mulut Arash. Ia hanya berdiri diam dengan rahangnya mengeras, sementara pandangannya tertahan pada Gisel.Gisel terkekeh pelan setelah sekian lama menunggu.“Kenapa diam aja, Mas?” tanya Gisel. Suaranya terdengar tenang, meskipun ada getaran kecil di dalamnya. “Susah banget, ya, cuma buat memilih?”Tatapan Gisel berpindah dari Arash ke arah Laras yang masih berdiri di dekat tangga. Namun, keduanya hanya diam membisu.Tapi entah kenapa, pada saat itu Gisel merasa sudah mendapatkan jawabannya.Arash tidak memilih siapa pun. Atau mungkin, justru karena dia tidak sanggup memilih, Gisel sudah tahu siapa yang sebenarnya lebih ia pikirkan.Gisel mengembuskan napas panjang. Rasanya seperti baru saja melepaskan sesuatu yang selama ini ia tahan terlalu lama.“Oke...” bisiknya sambil mengangguk kecil. “Aku paham.”Gisel menatap Arash sekali lagi. “Kalau kamu memang nggak bisa menyuruh Mbak Laras pergi, biar aku aja yang pergi.”
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-09-23 อ่านเพิ่มเติม