Beberapa detik berlalu tanpa ada satu pun dari mereka yang berbicara. Arash kembali menatap layar ponsel di tangannya, membaca ulang informasi yang baru saja diberikan Rian. Kemudian, ia mengangkat wajah dan menatap Rian. Wajah asistennya masih dipenuhi kecemasan yang nyata. Arash terdiam sejenak. Setelah itu, ia mematikan layar ponsel dan mengembalikannya kepada Rian. “Ambil ini,” bisik Arash singkat. Suaranya terdengar tenang dan teratur, tanpa sedikit pun kepanikan. “Acara harus terus tetap berjalan.” Rian sempat menatapnya ragu. “Tapi, Pak, mereka sudah—” “Rian,” potong Arash pelan namun tegas. “Kalau kita tunda, para investor akan berpikir perusahaan kita sedang goyah. Jangan kasih mereka alasan untuk meragukan kita.” Arash membenarkan letak jas hitamnya, lalu mengubah raut wajahnya kembali menjadi sosok pimpinan yang dingin dan percaya diri. Setelah itu, ia melangkah menuju panggung utama. Di hadapan puluhan investor, pemegang saham, dan awak media, Arash berdiri dengan te
Last Updated : 2026-09-16 Read more