"Bilang kalau aku berlebihan, ya," bisik Nick serak saat melepaskan pungutan bibirnya, menatap mata Arin dalam-dalam. "Aku takut nyakitin kamu."Arin menggeleng cepat, napasnya tersengal. "Nggak akan. Aku percaya Kakak nggak bakal nyakitin aku. Tolong, jangan berhenti."Nick tersenyum tipis. Ia menunduk, mengecup leher Arin pelan lalu memberikan isapan ringan di urat nadinya. Tangan pria itu turun mengusap pinggang Arin yang masih tegang. "Santai, Sayang," bisik Nick lembut tepat di telinganya. "Jangan dibawa tegang atau takut." Arin menelan ludah dengan getir. 'Ini respons alamiku', batin Arin nanar.Dua tahun bersama Nolan, otaknya selalu menerjemahkan sentuhan fisik sebagai sebuah ancaman. Ototnya sudah terbiasa menegang kaku untuk melindungi diri dari rasa sakit. Tapi malam ini berbeda. Jari-jari Nick tidak sedang menghukum atau menuntut kepatuhan. Jari-jari itu sedang bertanya, memuja, dan memberi ruang."Maaf," bisik Arin, matanya memanas malu. "Aku... Emang kaku.""Ssst, jan
Terakhir Diperbarui : 2026-08-07 Baca selengkapnya