Udara di dalam kamar nomor tujuh terasa berat, dipenuhi bau keringat, aroma vanilla-musk yang pekat, dan sisa-sisa napas panas yang belum sepenuhnya reda. Siska masih terduduk di atas lantai beralas karpet tipis, bahunya bergetar hebat. Ia menatap ibunya dengan campuran rasa takut dan amarah yang tertahan di tenggorokan.Eva tidak membuang waktu untuk berteriak atau meledakkan amarahnya. Tatapannya dingin, setajam silet yang siap merobek apa saja.Dengan gerakan dagu yang mengisyaratkan perintah mutlak, ia menunjuk ke arah pintu."Keluar, Siska," suara Eva rendah, tidak memberikan ruang untuk bantahan. "Atau kamu ingin semua rahasiamu di kantor ibumu ini terbongkar malam ini juga?"Siska mendesis pelan, air matanya tumpah dalam diam. Tanpa berkata-kata lagi, ia menyambar jaketnya yang berserakan, merangkak turun dari ranjang dengan langkah gontai lalu membanting pintu kamar itu dari luar.Brak. Kini, tinggallah aku dan Eva. Di bawah tatapan wanita paruh baya yang elegan itu, tubuhku
Dernière mise à jour : 2026-07-23 Read More