Udara dingin dari pendingin ruangan kafe mendadak terasa seperti embusan angin malam yang menusuk tulang. Mataku masih terpaku pada pantulan bayangan di kaca jendela besar kafe. Jarak kami hanya terpisahkan oleh aspal jalan raya yang panas dan deretan kendaraan yang merayap pelan.Di antara kerumunan pejalan kaki yang lalu-lalang, sosok Rara berdiri bagaikan hantu siang bolong. Jaket kulit hitam yang membalut tubuhnya tampak kontras dengan teriknya matahari Jakarta hari itu. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin jalanan, menutupi sebagian wajahnya, namun tatapannya tidak bisa disembunyikan. Sepasang mata itu menyala terang, memancarkan amarah yang membara, rasa tidak terima, dan kepemilikan yang terluka. Ia menatapku tanpa berkedip, seolah ingin merobek-robek kaca jendela kafe ini menggunakan tangannya sendiri.Dadaku bergemuruh hebat. Ada rasa kaget yang mencengkeram paru-paru, bercampur aduk dengan sensasi aneh berupa rasa bersalah yang menusuk pelan. Hubunganku dengan
Last Updated : 2026-08-07 Read more