Nada baru saja memutar kunci. Begitu pintu terbuka, langkahnya langsung terhenti. Aroma masakan menyergap lebih dulu daripada cahaya lampu di dalam. Bukan aroma makanan yang biasa ia buat sendiri sepulang kerja, melainkan aroma kaldu yang dimasak lama, mentega yang meleleh di wajan panas, dan sesuatu yang dipanggang hingga garing di pinggirnya. Ia melangkah masuk perlahan. Meja makan sudah tersusun penuh, sup masih mengepul di mangkuk porselen, ayam panggang berkilau minyak dengan kulit kecokelatan, sayuran tertata rapi seperti di foto majalah kuliner, dan di ujung meja, semangkuk puding karamel ikut menghiasi meja makan. Di tengah semua kemewahan dadakan itu, Fian berdiri membelakangi kompor. Kemeja putihnya digulung sampai siku, ada noda tepung samar di lengan kirinya, bukti ia benar-benar turun tangan, bukan sekadar memesan dari restoran lalu menatanya seolah buatan sendiri. Nada menutup pintu pelan-pelan, masih sulit mempercayai apa yang dilihatnya. "Apa ini?" Fian meno
Zuletzt aktualisiert : 2026-08-30 Mehr lesen