Mag-log in"Gunakan wajah polosmu itu untuk merayu David." Nada menatap suaminya tak percaya. "Aku istrimu, Fian." Fian tersenyum sinis. "Itulah kenapa kamu harus berhasil." --- Tiga tahun menjadi istri kontrak, Nada bertahan dalam pernikahan tanpa cinta demi biaya pengobatan ibunya. Namun hidupnya jungkir balik saat perusahaan suaminya diambil alih oleh David, cinta pertama yang pernah ia tinggalkan tiga tahun lalu. Kini David kembali sebagai CEO yang dingin dan penuh dendam, sementara suaminya sendiri rela menjadikan Nada sebagai alat demi mempertahankan kekuasaan. Di antara kebohongan, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu, mampukah Nada bertahan... atau justru terjebak dalam obsesi pria yang belum pernah benar-benar melupakannya?
view more"Jangan pernah bermimpi menjadi bagian dari keluarga ini, Nada."
Fian melempar jas abu-abunya ke atas sofa tanpa menoleh. Aroma parfum wanita lain menguar pekat dari kerah kemejanya yang kusut. Nada berdiri mematung di dekat meja makan yang mulai mendingin. Lilin berbentuk angka tiga di atas kue kecil di hadapannya baru saja padam semenit lalu. "Aku tahu diri, Fian," sahutnya pelan. "Bagus kalau kamu sadar." Fian melonggarkan dasinya kasar. "Aku sudah memenuhi janjiku membayar seluruh biaya operasi ibumu," lanjutnya dingin. Ia berbalik, menatap Nada dengan mata elang yang tidak bersahabat. "Sebagai gantinya, jalankan tugasmu sebagai Nyonya Pradana di depan publik." Ia mendengus sinis. "Hanya di depan Kakek." Fian melangkah mendekat, auranya mengintimidasi. "Posisi Direktur Utamaku di anak perusahaan sedang digoyang investor baru." "Kalau Kakek sampai tahu kita sandiwara dan mencoretku dari sisa warisan holding, aku bisa hancur," ancamnya tajam. Kedua tangan Nada mengepal di balik daster brokat, menahan diri agar tidak gemetar. "Termasuk membiarkanmu menemui Clarissa tiap malam?" tanyanya getir. Fian menghentikan langkah tepat di ambang pintu kamar tamu. Kamar yang menjadi tempat tidurnya selama tiga tahun ini. "Ya," ucap Fian mutlak. "Bukankah sejak awal kita sepakat?" lanjutnya santai. "Pernikahan ini hanya transaksi bisnis agar aku mendapatkan takhta tertinggi di Pradana Group, Nada." Punggung tegapnya menjauh. Nada hanya bisa menatapnya berjalan pergi, napasnya tertahan. "Transaksi yang sudah lunas," tambahnya sebelum menutup pintu. Klik. Bunyi kunci dari dalam terdengar seperti vonis mati bagi sisa harga dirinya. Embusan napas panjang tak mampu meredakan sesak di dadanya. Tiga tahun berlalu, dan Nada tetap hanya menjadi tameng tak terlihat di rumah mewah ini. Matahari pagi menembus kaca jendela rumah mereka. Riasan tipis dipoles secepat mungkin, sekadar menyamarkan lingkaran hitam di bawah mata Nada. Tidak ada sarapan bersama. Fian sudah berangkat sejak subuh tanpa berpamitan. Pintu dikunci, lalu Nada bergegas menuju halte busway terdekat. Begitu memasuki lobi Pradana Tower, wajahnya otomatis berganti topeng. Bukan istri Direktur Utama. Hanya staf biasa Divisi Pemasaran, dengan nama belakang yang sengaja tak pernah ia ucapkan pada siapa pun di sini. Posisi ini didapatkannya sendiri, lewat wawancara dan tes seperti pelamar lain, bukan belas kasih keluarga Pradana. "Nada! Kamu sudah dengar gosipnya?" Sintia langsung menghadang begitu Nada baru saja meletakkan tas kerja di kubikel. Napasnya memburu, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Gosip apa?" tanya Nada seraya menyalakan komputer. "Anak perusahaan kita, PT Pradana Tbk, kolaps karena investasi bodong Pak Fian di Sumatra!" Sintia berbisik heboh. "Grup investasi raksasa asal Singapura resmi membeli 51 persen saham kita hari ini untuk menyuntik dana segar." Sintia mendekatkan wajahnya, memelankan suara. "Katanya pemegang saham mayoritas baru yang ambil alih." Nada hanya membalas dengan senyum tipis. Bagi pekerja rendahan sepertinya, siapa pun pemilik sahamnya tidak akan mengubah beban kerja. "Semua staf diminta berkumpul di lobi utama sekarang," lanjut Sintia menarik lengannya. "Cepat, Nada. Nanti kita kena tegur!" Mereka setengah berlari menuju lobi. Area luas itu sudah dipadati ratusan karyawan yang berdiri dengan wajah tegang. Kasak-kusuk terdengar di setiap sudut ruangan. "Kudengar perusahaannya diambil alih karena Pak Fian hampir membuat kita bangkrut." "Iya, untung Kakeknya Pak Fian masih punya sisa saham lewat perusahaan induk, jadi Pak Fian masih dipertahankan sebagai Direktur Utama sementara selama masa transisi." Langkah Nada terhenti sesaat mendengar nama suaminya disebut. Pandangannya melayang ke barisan paling depan. Benar saja. Fian berdiri di sana dengan jas abu-abu terbaiknya, tampak gelisah. Di sebelahnya berdiri Clarissa, Direktur HRD sekaligus wanita yang diam-diam menjadi simpanan Fian. Mereka tampak tegang menanti kedatangan sang pemilik baru perusahaan. Tiba-tiba, suasana lobi mendadak hening. Pintu kaca otomatis terbuka lebar. Beberapa pengawal berjas hitam masuk terlebih dahulu, membuat barisan pengamanan darurat. Atmosfer lobi mendadak tegang. Di tengah-tengah mereka, melangkah seorang pria berpostur tegap dengan jas biru gelap yang dijahit khusus. Langkahnya tenang. Auranya begitu mendominasi hingga membuat ruangan yang luas terasa menyusut. Nada mendongak, mencoba melihat wajah sang penyelamat perusahaan. Seketika, napasnya tercekat. Wajah itu tampan, bersih, nyaris tanpa cela. Dan sepasang mata kelabu yang sangat ia kenal. David. Cinta pertamanya yang ia tinggalkan tanpa penjelasan demi menyelamatkan ibunya. Jantungnya berdebar liar, menghantam dadanya tanpa ampun. Tangannya membeku di sisi tubuh. Bagaimana mungkin dia ada di sini? Pria yang dulu hanya bekerja paruh waktu di perpustakaan kampus kini berdiri sebagai pemilik baru gedung ini. David melangkah mantap ke depan barisan direksi. Fian langsung maju, mengulurkan tangan dengan senyum bisnis yang dipaksakan. "Selamat datang di Pradana Group, Pak David," ucap Fian formal, membungkuk sedikit demi menjaga posisinya yang kini di ujung tanduk. David menghentikan langkahnya. Ia menatap tangan Fian sesaat, lalu menyambutnya dengan jabat tangan singkat tanpa ekspresi. "Terima kasih, Pak Fian," sahut David dingin. Suara baritonnya yang berat bergema di lobi, mengirimkan getaran aneh ke saraf Nada. Pandangan David mulai menyapu barisan karyawan. Perlahan, iris kelabunya bergerak ke arah divisi Nada. Kepala Nada buru-buru tertunduk, bersembunyi di balik tubuh Sintia yang lebih tinggi. "Jangan lihat aku," jerit Nada dalam hati. Namun langkah sepatu pantofel David yang mahal justru terdengar mendekat. Detak jantung Nada semakin tidak karuan. Langkah itu berhenti tepat di depannya. "Ibu Nada Amanda?"David menggendong Nada ke kamar tamu di lantai bawah, meletakkannya perlahan di atas ranjang berseprai putih. Napas wanita itu masih tersengal tidak teratur, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya yang pucat.David meraih ponselnya, mencari satu nama yang jarang ia hubungi selarut ini."dr. Wirawan. Datang ke griya tawang sekarang juga.""Pak David? Ada apa?" Suara di seberang masih serak, baru terbangun."Darurat. Bawa semua yang diperlukan.""Baik, Pak. Saya segera berangkat."Sambungan terputus. David duduk di tepi ranjang dan menggenggam jemari Nada yang terasa dingin."Kamu harus baik-baik saja," bisiknya.David mengusap punggung tangan Nada perlahan, lalu berdiri. Bayangan wajah Fian dan Clarissa kembali melintas di kepalanya. Ia meraih ponselnya lagi, menekan nomor asisten pribadinya."Pak David?" Suara Raka menjawab cepat."Fian Pradana baru saja keluar dari sini.""Saya sudah mendapat laporan dari satpam, Pak.""Bagus." Suara David terdengar rendah. "Berarti kamu juga t
Mobil berhenti tepat di depan griya tawang, lampu-lampu taman menyala temaram di sepanjang jalan masuk.Fian turun lebih dulu, membuka pintu belakang, lalu menyeret tubuh Nada yang nyaris tak bertenaga keluar dari jok. Clarissa mengikuti di belakang, sepatu haknya berdenting angkuh di paving batu.Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, tapi lampu di lantai atas griya tawang masih menyala.Fian menekan bel. Beberapa detik berlalu, tidak ada jawaban. Ia menekan bel untuk kedua kalinya. Kali ini terdengar langkah kaki dari dalam.Pintu terbuka. David berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja kerja yang lengannya digulung sampai siku. Matanya bergerak dari Fian, ke Clarissa, lalu berhenti di Nada.Napas David tertahan.Nada lemas total, kepalanya tidak bisa tegak. Wajahnya pucat pasi, dan dari sudut matanya, air mata masih menetes."Nada?" Suaranya keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan."Apa yang kal
Beberapa menit setelah makan, Nada mulai merasa ada yang aneh. Awalnya hanya rasa hangat yang menjalar dari tengkuk. Kemudian kepalanya terasa berat. Pandangannya perlahan mengabur di bagian tepi, sementara jarinya mulai kesemutan saat mencoba meraih gelas. Ketika membuka mulut, lidahnya terasa kelu. "Fian..." Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya, seperti berasal dari ruangan lain.Fian muncul dari lorong, wajahnya masih menyimpan raut cemas yang sempurna. "Kenapa? Kamu kenapa, Nad?""Aku... nggak tahu. Kepalaku—""Astaga." Fian buru-buru berlutut di sampingnya, memegang bahunya seolah menahan tubuh Nada agar tidak jatuh dari kursi. "Kamu pucat banget. Kita ke rumah sakit sekarang."Untuk sesaat, kewaspadaan Nada nyaris runtuh melihat kepanikan di wajah Fian. Suaranya terdengar seperti suami yang benar-benar takut kehilangan istrinya.Namun tubuh Nada semakin lemas. Napasnya mulai tidak teratur, sementara Fian masih berlutut di hadapannya. Aneh, kalau Fian benar-benar panik
Nada baru saja memutar kunci. Begitu pintu terbuka, langkahnya langsung terhenti. Aroma masakan menyergap lebih dulu daripada cahaya lampu di dalam. Bukan aroma makanan yang biasa ia buat sendiri sepulang kerja, melainkan aroma kaldu yang dimasak lama, mentega yang meleleh di wajan panas, dan sesuatu yang dipanggang hingga garing di pinggirnya. Ia melangkah masuk perlahan. Meja makan sudah tersusun penuh, sup masih mengepul di mangkuk porselen, ayam panggang berkilau minyak dengan kulit kecokelatan, sayuran tertata rapi seperti di foto majalah kuliner, dan di ujung meja, semangkuk puding karamel ikut menghiasi meja makan. Di tengah semua kemewahan dadakan itu, Fian berdiri membelakangi kompor. Kemeja putihnya digulung sampai siku, ada noda tepung samar di lengan kirinya, bukti ia benar-benar turun tangan, bukan sekadar memesan dari restoran lalu menatanya seolah buatan sendiri. Nada menutup pintu pelan-pelan, masih sulit mempercayai apa yang dilihatnya. "Apa ini?" Fian meno


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu