Mag-log inNada duduk di mejanya, tepat di depan ruang CEO. Posisi yang sejak beberapa hari terakhir membuat separuh kantor diam-diam bertanya-tanya.
Layar komputer menyala, menampilkan laporan yang belum selesai. Tapi jemarinya justru sibuk memutar-mutar salep kecil pemberian David.Semalam pria itu membuatnya merasa begitu kecil. Pagi ini pria yang sama justru memberinya obat."Orang aneh," gumam Nada."Kalau David membenciku, kenapa dia masih peduli?" Ia buru-buruDavid menggendong Nada ke kamar tamu di lantai bawah, meletakkannya perlahan di atas ranjang berseprai putih. Napas wanita itu masih tersengal tidak teratur, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya yang pucat.David meraih ponselnya, mencari satu nama yang jarang ia hubungi selarut ini."dr. Wirawan. Datang ke griya tawang sekarang juga.""Pak David? Ada apa?" Suara di seberang masih serak, baru terbangun."Darurat. Bawa semua yang diperlukan.""Baik, Pak. Saya segera berangkat."Sambungan terputus. David duduk di tepi ranjang dan menggenggam jemari Nada yang terasa dingin."Kamu harus baik-baik saja," bisiknya.David mengusap punggung tangan Nada perlahan, lalu berdiri. Bayangan wajah Fian dan Clarissa kembali melintas di kepalanya. Ia meraih ponselnya lagi, menekan nomor asisten pribadinya."Pak David?" Suara Raka menjawab cepat."Fian Pradana baru saja keluar dari sini.""Saya sudah mendapat laporan dari satpam, Pak.""Bagus." Suara David terdengar rendah. "Berarti kamu juga t
Mobil berhenti tepat di depan griya tawang, lampu-lampu taman menyala temaram di sepanjang jalan masuk.Fian turun lebih dulu, membuka pintu belakang, lalu menyeret tubuh Nada yang nyaris tak bertenaga keluar dari jok. Clarissa mengikuti di belakang, sepatu haknya berdenting angkuh di paving batu.Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, tapi lampu di lantai atas griya tawang masih menyala.Fian menekan bel. Beberapa detik berlalu, tidak ada jawaban. Ia menekan bel untuk kedua kalinya. Kali ini terdengar langkah kaki dari dalam.Pintu terbuka. David berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja kerja yang lengannya digulung sampai siku. Matanya bergerak dari Fian, ke Clarissa, lalu berhenti di Nada.Napas David tertahan.Nada lemas total, kepalanya tidak bisa tegak. Wajahnya pucat pasi, dan dari sudut matanya, air mata masih menetes."Nada?" Suaranya keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan."Apa yang kal
Beberapa menit setelah makan, Nada mulai merasa ada yang aneh. Awalnya hanya rasa hangat yang menjalar dari tengkuk. Kemudian kepalanya terasa berat. Pandangannya perlahan mengabur di bagian tepi, sementara jarinya mulai kesemutan saat mencoba meraih gelas. Ketika membuka mulut, lidahnya terasa kelu. "Fian..." Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya, seperti berasal dari ruangan lain.Fian muncul dari lorong, wajahnya masih menyimpan raut cemas yang sempurna. "Kenapa? Kamu kenapa, Nad?""Aku... nggak tahu. Kepalaku—""Astaga." Fian buru-buru berlutut di sampingnya, memegang bahunya seolah menahan tubuh Nada agar tidak jatuh dari kursi. "Kamu pucat banget. Kita ke rumah sakit sekarang."Untuk sesaat, kewaspadaan Nada nyaris runtuh melihat kepanikan di wajah Fian. Suaranya terdengar seperti suami yang benar-benar takut kehilangan istrinya.Namun tubuh Nada semakin lemas. Napasnya mulai tidak teratur, sementara Fian masih berlutut di hadapannya. Aneh, kalau Fian benar-benar panik
Nada baru saja memutar kunci. Begitu pintu terbuka, langkahnya langsung terhenti. Aroma masakan menyergap lebih dulu daripada cahaya lampu di dalam. Bukan aroma makanan yang biasa ia buat sendiri sepulang kerja, melainkan aroma kaldu yang dimasak lama, mentega yang meleleh di wajan panas, dan sesuatu yang dipanggang hingga garing di pinggirnya. Ia melangkah masuk perlahan. Meja makan sudah tersusun penuh, sup masih mengepul di mangkuk porselen, ayam panggang berkilau minyak dengan kulit kecokelatan, sayuran tertata rapi seperti di foto majalah kuliner, dan di ujung meja, semangkuk puding karamel ikut menghiasi meja makan. Di tengah semua kemewahan dadakan itu, Fian berdiri membelakangi kompor. Kemeja putihnya digulung sampai siku, ada noda tepung samar di lengan kirinya, bukti ia benar-benar turun tangan, bukan sekadar memesan dari restoran lalu menatanya seolah buatan sendiri. Nada menutup pintu pelan-pelan, masih sulit mempercayai apa yang dilihatnya. "Apa ini?" Fian meno
Nada duduk di mejanya, tepat di depan ruang CEO. Posisi yang sejak beberapa hari terakhir membuat separuh kantor diam-diam bertanya-tanya.Layar komputer menyala, menampilkan laporan yang belum selesai. Tapi jemarinya justru sibuk memutar-mutar salep kecil pemberian David. Semalam pria itu membuatnya merasa begitu kecil. Pagi ini pria yang sama justru memberinya obat."Orang aneh," gumam Nada."Kalau David membenciku, kenapa dia masih peduli?" Ia buru-buru menepis pertanyaan itu. Jangan cari arti dari sesuatu yang mungkin memang tidak berarti.Tiga tahun lalu ia pergi tanpa penjelasan. Bagi David, itu mungkin terlihat seperti pengkhianatan. Mungkin sekarang pria itu hanya ingin membalas. Membuatnya berharap sedikit demi sedikit, lalu menghancurkannya ketika ia sudah tidak bisa mundur."Iya. Pasti dia cuma sedang membalas," bisiknya.Tapi kalau benar begitu, kenapa satu kata "maaf" yang diucapkan pria itu terasa lebih be
Pagi itu Nada datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Bukan karena ada pekerjaan yang mendesak, melainkan karena ia tidak tahan lagi berada di rumah.Semalaman ia nyaris tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, cengkeraman Fian kembali terasa di lehernya.Ia berdiri di depan pintu lift sambil menggenggam tali tasnya erat-erat, lehernya masih berdenyut nyeri. Jakarta pagi itu terik, tapi Nada tetap melilitkan syal tipis ke lehernya, menutupi bekas kemerahan yang ditinggalkan Fian semalam.Pintu lift terbuka.Baru satu langkah, Nada berhenti mendadak.Di dalam lift berdiri David, bersama asistennya.Mata mereka bertemu sepersekian detik sebelum Nada buru-buru menunduk. Kalimat semalam kembali terngiang di kepalanya. Apa kamu memang terbiasa dijual oleh suamimu?Rahang David mengeras."Aku naik berikutnya saja," gumam Nada, mundur satu langkah."Ngapain bengong di situ?" Sintia muncul dari belakang mem







