Ibu memperhatikanku dari atas sampai bawah, melihat celemekku yang kotor dan tanganku yang bentol-bentol karena kedinginan. Dia menghela napas pelan."Harusnya dulu Ibu nggak setuju biarin ayahmu bawa kamu pergi.""Kasihan banget kamu, kalau dia nggak sanggup membesarkanmu, harusnya dia pasrah aja."Aku membalasnya dengan tatapan dingin, "Nggak usah repot-repot peduli, Bu Dita. Kita sekarang cuma orang asing, Ibu bicara begini malah bikin orang salah paham."Wajahnya makin keruh, dia hendak mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya bisa terdiam.Setelah sekian lama, barulah dia berbalik dan pergi.Sepeninggalnya, aku berdiri di tempat sambil memegang nampan, jari-jariku terasa agak kaku.Seorang rekan kerja mendekat dan berbisik padaku, "Kamu nggak apa-apa?"Aku menggelengkan kepala.Rekan kerja yang lain ikut memelankan suaranya."Wanita yang tadi itu bukannya Bu Dita Joseva dari Grup Joseva, ya?""Dengar-dengar dia bucin banget sama mantan suaminya, dulu demi mantan suaminya itu, dia s
Mehr lesen