LOGINTiga tahun setelah ibu dan ayah bercerai, aku bertemu ibu di Resto Bahari. Dia sedang makan bersama anak perempuannya, tatapannya tampak agak canggung saat melihatku. Sebelum pergi, dia membuka kode QR kontak dan menyodorkannya ke depanku. "Simpan WhatsApp Ibu, nanti Ibu kirim uang. Kamu sama ayahmu makan yang enak, ya." Aku mendorong kembali ponselnya. "Nggak usah, Bu Dita." "Dulu aja Ibu nggak pernah sebaik ini sama aku dan ayah." Wajah ibu mendadak kaku, alisnya bertaut rapat. "Kamu kok sama keras kepalanya kayak ayahmu? Kalau kamu ikut Ibu, kamu nggak bakal sampai jadi pelayan gini." "Kasih tahu ayahmu, kalau dia mau ngaku salah, Ibu bakal bawa kamu hidup enak." Aku menatapnya dingin tanpa bersuara. Apa dia tidak tahu kalau ayah sudah meninggal tiga tahun lalu?
View MoreBelakangan, anak perempuan Herman melihat orang tuanya bertengkar hebat dengan mata kepalanya sendiri, dia ketakutan sampai menangis histeris dan berkata, "Ayah seram banget ... Ibu juga seram banget ....""Aku nggak mau Ayah sama Ibu yang kayak gini ...."Ibu terpaku di tempat.Tahun-tahun ini, dia selalu memanjakan anak itu bagai menggenggam permata di telapak tangan, memberi apa pun yang diminta.Tapi, sebagus apa pun kehidupan itu, tetap tidak bisa membendung rasa trauma anak yang melihat langsung sisi paling buruk dari kedua orang tuanya.Tidak lama kemudian, anak itu mengalami kecelakaan di depan gerbang vila dan meninggal dunia.Saat televisi menayangkan berita itu, aku sedang duduk di ranjang rumah sakit.Pembawa acara menyampaikan bahwa putri dari CEO Grup Joseva dan suaminya mengalami kecelakaan lalu lintas di depan kompleks vila dan tewas di tempat.Aku menatap layar televisi, raut wajahku sangat tenang.Bagaimanapun juga, dia cuma anak kecil.Tapi, saat ayahku meninggal dul
Suara Herman yang terdengar malas-malasan segera terdengar dari seberang sana."Kenapa mendadak nanya soal ini?""Orang-orang kayak mereka, atas dasar apa pakai uangmu?""Aku cuma mau bikin mereka tahu diri.""Laki-laki miskin yang pintar pura-pura menyedihkan sama anak benalu, mana pantas dapat uang dari kamu?"Raut wajah ibu makin lama makin kelam."Kamu otak atik kartu itu?"Herman terkekeh pelan."Iya, aku nyuruh orang pindahkan uangnya.""Kenapa emang?""Dia bukannya suka sok sedih? Aku cuma mau lihat, kalau uang satu miliar itu nggak ada, apa dia masih bisa lanjut sandiwara.""Lagian, cuma kurang uang sedikit aja, 'kan? Fisiknya sendiri yang lemah sampai nggak sanggup bertahan terus meninggal, kok nyalahin aku?"Embusan napas ibu mendadak memberat."Kamu sadar 'kan kalau dia udah meninggal?""Kamu tahu nggak kalau yang kamu celakain itu nyawa manusia!"Seberang telepon hening sejenak, tak lama kemudian suaranya berubah dingin."Dita, kamu ngapain marah-marah sama aku?""Kalau dia
Aku terbaring di ruang operasi selama dua hari.Begitu terbangun, hanya ada warna putih yang membentang di depan mataku.Ibu duduk di samping ranjang pasien.Lingkaran hitam menghiasi bawah matanya, rambut-rambut halus di sekitar dagunya mulai bermunculan, seolah dia tidak memejamkan mata berhari-hari."Jangan gerak.""Dokter bilang kamu kehilangan banyak darah, kalau banyak gerak nanti lukanya terbuka lagi."Aku menarik tanganku kembali tanpa memandangnya."Pergi dari sini."Ruang rawat hening untuk waktu yang cukup lama.Pada akhirnya dia berbisik pelan, "Maaf."Aku cuma merasa hal ini sangat konyol."Baru ngomong gini sekarang, apa nggak merasa terlambat?"Dari lehernya terlihat menelan ludah, suaranya terdengar sangat serak."Ibu udah hubungi spesialis THT di luar negeri.""Soal telingamu, Ibu bakal cari cara ....""Bakal cari cara?" Aku langsung memotong ucapannya."Orang yang bikin telingaku rusak dulu 'kan Ibu sendiri?""Sekarang sok-sokan mau menebus kesalahan?"Wajahnya seketi
Reaksi pertamaku adalah menutup pintu.Tapi, aku tetap terlambat selangkah.Ibu menahan pintu dengan sekuat tenaga, lalu langsung menerobos masuk.Dia berdiri di dalam rumah, menatap meja altar dan foto di dinding, matanya perlahan-lahan mulai memerah."Ini apa?"Suaranya terdengar serak.Aku tidak menjawab.Dalam beberapa langkah dia menerjang ke depanku, lalu mendadak mencengkeram bahuku."Jawab, ini apa?!""Semua ini palsu, 'kan?!""Apa ayahmu yang nyuruh kamu pajang semua ini?! Apa dia sengaja sandiwara di depan Ibu?!"Makin bicara dia makin emosional, cengkeraman tangannya pun makin kencang.Kepala dan otakku sampai pusing karena diguncang olehnya, hingga akhirnya aku hilang kendali dan berteriak keras, "Lepasin aku!"Cengkeramannya justru makin keras."Dia di mana?""Kasih tahu Ibu, dia sebenarnya di mana!""Dia nggak mungkin meninggal!""Dia 'kan pintar pura-pura, mana mungkin meninggal!"Aku sedang memeluk foto ayah, karena diguncang seperti itu olehnya, genggamanku terlepas. B
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.