Share

Bab 5

Author: Hanafi
Ibu mendadak berdiri mendengar kalimat itu. Raut wajahnya kelihatan sangat suram.

"Kamu gila, ya?"

"Kamu tega-teganya menyumpahi ayahmu kayak gitu?"

"Orang kayak dia itu paling pintar pura-pura menyedihkan, mana mungkin segampang itu meninggal?"

"Apa dia sembunyi lagi? Apa dia yang nyuruh kamu ngomong begini?"

Aku cuma menatapnya dingin.

"Kalau Ibu nggak percaya, cari aja dia sendiri. Kalau bisa, gali lagi ayahku dari dalam tanah."

Dia menatapku tajam, seolah ingin mencari sedikit saja jejak kebohongan di wajahku.

Namun, tatapanku sama sekali tidak teralih sedikit pun.

Dia akhirnya perlahan kehilangan tenaga, melemparkan kalimat "kamu bakal menyesal", lalu berbalik pergi.

Sepeninggalnya, manajer baru berjalan mendekat perlahan.

"Anu ... hari ini kamu pulang dulu aja, ya."

"Soal restoran ...."

Dia tidak menyelesaikan ucapannya, tapi aku sudah mengerti.

Aku membereskan barang-barangku tanpa bersuara, lalu pulang sendirian ke kontrakan.

Sampai di kontrakan, aku mendorong pintu dan masuk.

Foto almarhum di meja altar terpajang dengan tenang.

Di sampingnya ada krisan putih dan tempat dupa.

Aku berjalan mendekat, mengulurkan tangan mengelus wajah ayah di foto itu.

Air mataku seketika menetes.

"Yah ..."

"Coba aja aku bisa cari uang lebih banyak lagi."

"Pasti Ayah nggak bakal meninggal, 'kan?"

Aku duduk di lantai sambil memeluk foto mendiang, pikiranku penuh dengan kenangan beberapa hari terakhir tiga tahun lalu.

Dokter bilang, ayah sudah bisa dijadwalkan untuk operasi.

Tapi, harus bayar satu miliar dulu di awal.

Itu kesempatan terakhir.

Asalkan uangnya terkumpul, ayah masih bisa bertahan hidup.

Demi mengumpulkan uang itu, hampir semua hal sudah kulakukan.

Suatu malam, mobil ibu pelan-pelan melintas di samping pasar malam.

Dia jelas-jelas melihatku.

Tapi, dia tidak turun dari mobil.

Dia cuma menyuruh asistennya turun untuk membeli semua bunga di tanganku dan memberikanku sebuah kartu bank.

Aku berdiri di tempat memperhatikan mobil itu menjauh, malah sempat berpikiran naif, apa dia akhirnya sudah sedikit melunak.

Ternyata keesokan paginya, Herman mendadak menerobos masuk ke rumah sakit.

Dia melayangkan tangannya dan menamparku keras-keras.

"Nggak tahu malu."

"Ayahmu merebut wanitaku, kamu juga ikut-ikutan pura-pura menyedihkan?!"

Dia sengaja tidak memelankan suaranya, sampai semua orang di bangsal mendengar.

Dia memaki ayahku sebagai pebinor, memakiku sebagai anak haram.

Semua orang menatapku.

Aku gemetaran saking marahnya, lalu berteriak padanya, "Kamu yang pebinor!"

Tanpa panik, dia mengeluarkan dua akta nikah dan memamerkannya di depanku.

"Akta nikah punya ayahmu itu palsu."

"Yang ini baru asli."

"Aku ini suami sahnya!"

Aku menerjang maju ingin melihat lebih jelas.

Namun, dia malah menjerit, lalu sengaja menjatuhkan dirinya sendiri menggelinding dari tangga.

"Mbak Dita, tolong aku! Anakmu mau celakain aku!"

Kemudian, ibu datang.

Saat berikutnya, aku ditendang sampai terlempar keras menabrak tangga dan kartu bank pemberiannya bahkan jatuh ke lantai.

Telingaku bergetar rasanya seperti mau pecah.

Tapi, dari awal sampai akhir, dia cuma menatapku dingin, matanya penuh rasa jijik.

Dia menggendong Herman, lalu berlari menuju ruang instalasi gawat darurat tanpa menoleh sedikit pun.

Aku memungut kartu itu, seolah memungut sedotan terakhir untuk bertahan hidup.

Tapi, saat-saat sebelum operasi, perawat memberitahuku kalau kartu itu sama sekali tidak ada uangnya.

Aku berdiri di depan loket, pikiranku mendadak kosong melompong.

Aku tidak ingat bagaimana caranya bisa kembali ke kamar rawat.

Ayah menggenggam tanganku dengan lemas.

Tapi, dia tetap berusaha tersenyum padaku.

Dia mengelus wajahku dan bilang jangan takut.

Dia juga bilang, kalau nanti sudah sembuh, dia bakal membawaku ke luar negeri, jauh-jauh dari tempat ini.

Dia bilang pernah berjanji padaku untuk selalu merayakan ulang tahun bersama.

Aku menangis sambil berkata, "Aku nggak mau Ayah meninggal, aku pasti akan kumpulin biaya operasinya buat Ayah!"

Aku mencari pasar ilegal dan menandatangani perjanjian jual beli organ.

Semua yang bisa kujual ingin kujual, asalkan bisa menyelamatkan nyawa ayah.

Saat aku kembali lagi ke kamar rawat, dokter dan perawat sudah mengerumuni pintu.

Aku menerobos masuk, melihat ayah terbaring di sana sudah tidak bernapas lagi.

Sekarang, sudah tiga tahun berlalu.

Selama tiga tahun ini, aku membawa fotonya, tidak pernah berani membiarkannya lepas dari tubuhku.

Kini Dita malah datang mencari, bilang ingin bertemu dengannya.

Aku memeluk foto ayahku, menangis sampai sesak napas.

"Yah, aku kangen Ayah ...."

"Aku bakal bawa Ayah pergi, aku nggak bakal biarin dia nemuin Ayah."

Aku tidak tahu berapa lama aku menangis.

Sampai akhirnya dari luar pintu terdengar suara kunci diputar.

Aku mendadak mendongak.

Ibu berdiri di depan pintu.

Tatapannya melewati tubuhku, jatuh ke atas meja altar, lalu berlanjut ke foto almarhum ayah di pelukanku.

Detik berikutnya, raut wajahnya mendadak pucat pasi bagai kertas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Seorang Ibu juga Bisa Durhaka   Bab 9

    Belakangan, anak perempuan Herman melihat orang tuanya bertengkar hebat dengan mata kepalanya sendiri, dia ketakutan sampai menangis histeris dan berkata, "Ayah seram banget ... Ibu juga seram banget ....""Aku nggak mau Ayah sama Ibu yang kayak gini ...."Ibu terpaku di tempat.Tahun-tahun ini, dia selalu memanjakan anak itu bagai menggenggam permata di telapak tangan, memberi apa pun yang diminta.Tapi, sebagus apa pun kehidupan itu, tetap tidak bisa membendung rasa trauma anak yang melihat langsung sisi paling buruk dari kedua orang tuanya.Tidak lama kemudian, anak itu mengalami kecelakaan di depan gerbang vila dan meninggal dunia.Saat televisi menayangkan berita itu, aku sedang duduk di ranjang rumah sakit.Pembawa acara menyampaikan bahwa putri dari CEO Grup Joseva dan suaminya mengalami kecelakaan lalu lintas di depan kompleks vila dan tewas di tempat.Aku menatap layar televisi, raut wajahku sangat tenang.Bagaimanapun juga, dia cuma anak kecil.Tapi, saat ayahku meninggal dul

  • Seorang Ibu juga Bisa Durhaka   Bab 8

    Suara Herman yang terdengar malas-malasan segera terdengar dari seberang sana."Kenapa mendadak nanya soal ini?""Orang-orang kayak mereka, atas dasar apa pakai uangmu?""Aku cuma mau bikin mereka tahu diri.""Laki-laki miskin yang pintar pura-pura menyedihkan sama anak benalu, mana pantas dapat uang dari kamu?"Raut wajah ibu makin lama makin kelam."Kamu otak atik kartu itu?"Herman terkekeh pelan."Iya, aku nyuruh orang pindahkan uangnya.""Kenapa emang?""Dia bukannya suka sok sedih? Aku cuma mau lihat, kalau uang satu miliar itu nggak ada, apa dia masih bisa lanjut sandiwara.""Lagian, cuma kurang uang sedikit aja, 'kan? Fisiknya sendiri yang lemah sampai nggak sanggup bertahan terus meninggal, kok nyalahin aku?"Embusan napas ibu mendadak memberat."Kamu sadar 'kan kalau dia udah meninggal?""Kamu tahu nggak kalau yang kamu celakain itu nyawa manusia!"Seberang telepon hening sejenak, tak lama kemudian suaranya berubah dingin."Dita, kamu ngapain marah-marah sama aku?""Kalau dia

  • Seorang Ibu juga Bisa Durhaka   Bab 7

    Aku terbaring di ruang operasi selama dua hari.Begitu terbangun, hanya ada warna putih yang membentang di depan mataku.Ibu duduk di samping ranjang pasien.Lingkaran hitam menghiasi bawah matanya, rambut-rambut halus di sekitar dagunya mulai bermunculan, seolah dia tidak memejamkan mata berhari-hari."Jangan gerak.""Dokter bilang kamu kehilangan banyak darah, kalau banyak gerak nanti lukanya terbuka lagi."Aku menarik tanganku kembali tanpa memandangnya."Pergi dari sini."Ruang rawat hening untuk waktu yang cukup lama.Pada akhirnya dia berbisik pelan, "Maaf."Aku cuma merasa hal ini sangat konyol."Baru ngomong gini sekarang, apa nggak merasa terlambat?"Dari lehernya terlihat menelan ludah, suaranya terdengar sangat serak."Ibu udah hubungi spesialis THT di luar negeri.""Soal telingamu, Ibu bakal cari cara ....""Bakal cari cara?" Aku langsung memotong ucapannya."Orang yang bikin telingaku rusak dulu 'kan Ibu sendiri?""Sekarang sok-sokan mau menebus kesalahan?"Wajahnya seketi

  • Seorang Ibu juga Bisa Durhaka   Bab 6

    Reaksi pertamaku adalah menutup pintu.Tapi, aku tetap terlambat selangkah.Ibu menahan pintu dengan sekuat tenaga, lalu langsung menerobos masuk.Dia berdiri di dalam rumah, menatap meja altar dan foto di dinding, matanya perlahan-lahan mulai memerah."Ini apa?"Suaranya terdengar serak.Aku tidak menjawab.Dalam beberapa langkah dia menerjang ke depanku, lalu mendadak mencengkeram bahuku."Jawab, ini apa?!""Semua ini palsu, 'kan?!""Apa ayahmu yang nyuruh kamu pajang semua ini?! Apa dia sengaja sandiwara di depan Ibu?!"Makin bicara dia makin emosional, cengkeraman tangannya pun makin kencang.Kepala dan otakku sampai pusing karena diguncang olehnya, hingga akhirnya aku hilang kendali dan berteriak keras, "Lepasin aku!"Cengkeramannya justru makin keras."Dia di mana?""Kasih tahu Ibu, dia sebenarnya di mana!""Dia nggak mungkin meninggal!""Dia 'kan pintar pura-pura, mana mungkin meninggal!"Aku sedang memeluk foto ayah, karena diguncang seperti itu olehnya, genggamanku terlepas. B

  • Seorang Ibu juga Bisa Durhaka   Bab 5

    Ibu mendadak berdiri mendengar kalimat itu. Raut wajahnya kelihatan sangat suram."Kamu gila, ya?""Kamu tega-teganya menyumpahi ayahmu kayak gitu?""Orang kayak dia itu paling pintar pura-pura menyedihkan, mana mungkin segampang itu meninggal?""Apa dia sembunyi lagi? Apa dia yang nyuruh kamu ngomong begini?"Aku cuma menatapnya dingin."Kalau Ibu nggak percaya, cari aja dia sendiri. Kalau bisa, gali lagi ayahku dari dalam tanah."Dia menatapku tajam, seolah ingin mencari sedikit saja jejak kebohongan di wajahku.Namun, tatapanku sama sekali tidak teralih sedikit pun.Dia akhirnya perlahan kehilangan tenaga, melemparkan kalimat "kamu bakal menyesal", lalu berbalik pergi.Sepeninggalnya, manajer baru berjalan mendekat perlahan."Anu ... hari ini kamu pulang dulu aja, ya.""Soal restoran ...."Dia tidak menyelesaikan ucapannya, tapi aku sudah mengerti.Aku membereskan barang-barangku tanpa bersuara, lalu pulang sendirian ke kontrakan.Sampai di kontrakan, aku mendorong pintu dan masuk.

  • Seorang Ibu juga Bisa Durhaka   Bab 4

    Selama masa-masa itu, aku tidak tahu sudah berapa kali menelepon ibu.Semuanya tidak diangkat.Padahal di internet, berita tentang dia dan Herman bertebaran di mana-mana.Membeli jam tangan mewah dengan harga fantastis di tempat lelang, menyewa kapal pesiar buat ulang tahun, beritanya terus-terusan jadi topik hangat.Akhirnya, sambil membawa surat pemberitahuan kondisi kritis, aku pergi mencarinya sendiri.Namun, dia justru sangat marah dan memarahiku dengan nada tinggi."Baru ikut ayahmu berapa hari, kamu udah pintar bohong, ya?!""Dia cuma mau balik lagi, 'kan? Harus banget bikin heboh begini?"Dia melemparkan sebuah kartu bank ke wajahku."Di dalam sini ada satu miliar, ambil terus pergi, jangan ganggu sisa waktu Ibu sama Herman."Kartu itu menggores wajahku hingga terluka.Namun, saat itu aku sama sekali tidak peduli pada rasa sakitnya.Aku cuma berpikir, akhirnya ayahku bisa diselamatkan.Tidak lama kemudian, Herman datang ke rumah sakit.Dia mencegatku di koridor dan langsung bla

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status