“Pintu ini tak boleh tertutup rapat lagi.”Suci berhenti tepat di ambang pintu ruang rawat, suaranya tajam, tanpa ragu sedikit pun. Ia menatap Putra dengan sorot mata yang penuh kewaspadaan—tak lagi sekadar rasa cemas, melainkan tekad yang kuat. Putra mengangguk mantap, rahangnya mengeras. Ia mengerti: peringatan Ibu Dina bukan sekadar firasat kosong.“Kita tak boleh terbuai oleh ketenangan yang ia tunjukkan,” sahut Putra rendah namun tegas. “Dia pandai menyembunyikan segalanya—terutama saat merasa paling terpuruk.”Mereka melangkah masuk perlahan. Dina duduk bersandar di bantal, menatap jendela kaca yang membiarkan langit sore tampak kelabu. Sikapnya tenang, terlalu tenang—persis seperti topeng yang selama ini ia pakai rapi. Saat mendengar langkah kaki, kepalanya beralih perlahan, senyum tipis terukir di bibirnya—namun tak sampai ke matanya.“Kalian kembali cepat sekali,” ucapnya lembut, nada bicaranya halus dan terkontrol. “Ada yang terlupa?”“Hanya ingin memastikan kau tak merasa s
Última actualización : 2026-08-31 Leer más