Aku berbalik untuk pergi, tetapi Linda meraih lenganku. Matanya terlihat memerah. "Kamu benar-benar akan pergi begitu saja? Setelah semua yang sudah kamu curahkan untuk perusahaan ini ...."Sebelum aku sempat menjawab, suara lembut seseorang terdengar dari belakangku. Nadanya penuh keraguan tetapi tetap lembut. "Linda, tolong jangan bilang gitu. Nanti, Alisa jadi makin sedih."Aku menoleh. Megan berjalan mendekati kami dengan sepatu hak tingginya. Dia masih memegang proposal yang kutulis. Ekspresinya terlihat hangat, seolah-olah dia sedang berusaha melindungiku dari sesuatu."Alisa sudah membuat keputusannya sendiri. Kita harus menghargainya. Akhir-akhir ini, dia sudah terlalu lelah. Daniel merasa khawatir, makanya suruh Alisa istirahat."Megan sedikit menundukkan kepalanya. Suaranya melunak ketika menambahkan, "Sejujurnya, aku selalu mengagumi segala hal yang Alisa curahkan untuk perusahaan ini. Tapi, aku nggak pernah ingin dia berpikir bahwa aku sedang menggantikan posisinya. Kalau d
Read more