Share

Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua
Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua
Author: Anna Smith

Bab 1

Author: Anna Smith
"Baiklah. Aku nggak jadi mengambil cuti. Aku mau mengundurkan diri."

Ruangan itu seketika menjadi begitu sunyi sampai-sampai suara pergerakan udara pun terdengar.

Daniel mengangkat kepalanya. Pena di tangannya berhenti di tengah goresan. Dia meletakkannya, lalu bersandar di kursinya sambil menatapku dengan saksama, seolah-olah akhirnya memastikan sesuatu yang selama ini sudah dia curigai. "Kamu serius?"

Daniel lalu berdiri dan berjalan mengitari meja. Suaranya terdengar rendah, dengan kesabaran letih yang bukannya menenangkan, malah terasa lebih seperti sikap merendahkan. "Alisa, bisakah kamu jelaskan sebenarnya apa kesalahanku?"

"Tiket Megan sudah dipesan sejak beberapa minggu lalu. Tiket itu nggak bisa dikembalikan. Aku kebetulan juga harus pergi ke Metiza untuk bertemu klien. Aku cuma mengajaknya ikut. Lagian, cuma beberapa hari. Kenapa kamu merasa seolah-olah aku lebih memilih dia daripada kamu?"

Daniel tidak marah, bahkan tidak meninggikan suaranya sedikit pun. Dia hanya menyampaikan apa yang menurutnya merupakan sebuah fakta sederhana dengan nada bicara yang benar-benar terdengar bingung.

"Kamu dulu nggak begini. Dulu, kamu selalu menyuruhku pergi saja dan menjamin bahwa dirimu bisa urus semuanya di sini. Kenapa sekarang kamu nggak bisa memahamiku lagi?"

Aku tidak mengatakan apa-apa. Daniel melangkah lebih dekat dan suaranya terdengar makin pelan. "Aku sudah berkali-kali bilang padamu bahwa kamu penting bagiku. Kamu sudah bersamaku sejak awal. Kamu membantuku membangun perusahaan ini dari nol."

Daniel berhenti sejenak. Dia sedang menungguku mengangguk, menyetujui perkataannya, serta menjadi diriku yang selalu memahami dan mendukungnya.

"Bisa kamu memercayaiku sekali lagi?"

Aku berdiri di sana sambil menatap Daniel. Gejolak di dalam diriku perlahan menjadi sangat hening.

Aku terlahir sebagai bagian dari Keluarga Desmana. Setiap hubungan yang pernah kukenal selalu disertai dengan pertukaran dan perhitungan di baliknya. Aku menghabiskan seluruh hidupku berusaha meninggalkan dunia tersebut. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa pernikahan yang sudah diatur, tanpa marga yang menjadi sandaran hidupku.

Ketika aku bertemu dengan Daniel, dia tidak tahu siapa diriku sebenarnya. Dia tidak tahu beban yang melekat pada margaku. Dia pernah membawakanku kopi pada tengah malam ketika aku masih bekerja. Dia tetap berada di sisiku saat aku sakit. Suatu kali menjelang fajar, dia memberitahuku, "Aku nggak peduli kamu berasal dari mana. Kita akan membangun sesuatu milik kita sendiri."

Aku berpegang pada kata-kata itu selama delapan tahun.

Aku percaya pada Daniel. Aku percaya bahwa dia mencintaiku karena diriku sendiri, bukan karena margaku.

Aku mengangguk dan meletakkan surat pengunduran diri yang sudah kutandatangani di atas meja Daniel, lalu mendorong surat itu ke arahnya.

"Ini bukan ancaman. Aku sudah muak sama hubungan ini."

Daniel terdiam selama beberapa saat. Kemudian, dia mengambil proposal proyek yang kuselesaikan setelah tiga malam penuh mengerjakannya dan menyerahkannya kepada Megan. "Kalau begitu, Megan yang akan ambil alih proyek ini."

Megan menatap Daniel, lalu menoleh ke arahku. Suaranya sangat kecil ketika menimpali, "Daniel, menurutku nggak boleh begini. Alisa sudah bekerja sangat keras untuk proyek ini ...."

"Ambil saja," sela Daniel. "Kamu sudah memahami cara kerja industri ini. Aku percaya padamu."

Setelah mengatakan itu, Daniel menatapku dengan tenang, seolah-olah menunggu untuk melihat bagaimana reaksiku.

Aku tidak lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dulu selalu kulontarkan kepada Daniel. Aku hanya kembali ke mejaku dan mulai membereskan barang-barangku.

Megan berdiri di belakangku dengan ragu-ragu. "Alisa, aku bisa membantumu ...."

"Nggak perlu," jawabku tanpa mengangkat kepala.

Linda datang dari mejanya dan berdiri di sampingku. "Ini nggak adil. Dia nggak bisa gini padamu."

Aku tersenyum tipis. "Ini bukan soal adil atau nggak. Aku cuma nggak mau kerja di sini lagi."

Aku menutup kotak barangku dan berjalan menuju pintu. Suara Daniel terdengar dari belakangku. "Alisa."

Daniel berucap, "Aku tahu kamu lagi marah sekarang. Istirahat saja seminggu untuk tenangkan dirimu. Posisimu akan tetap ada saat kamu kembali. Proyek itu juga akan kukembalikan padamu. Selain itu ketika kamu sudah siap, kita bisa pergi nikah."

Aku berdiri diam di sana sambil menatap jendela di ujung lorong, lalu menunggu beberapa saat sebelum memberikan respons.

"Daniel, kamu sudah nggak punya hak untuk menawarkan itu lagi padaku."

Delapan tahun. Aku telah memercayainya selama delapan tahun. Selama itu pula aku berusaha membuktikan bahwa aku bisa menjalani hidup seperti orang biasa, bahwa aku bisa menjadi seseorang tanpa bayang-bayang margaku yang menentukan segalanya. Aku pikir dia adalah pintu keluar dari dunia tersebut. Ternyata, aku hanya menemukan jalan buntu yang lain.

Tidak apa-apa. Aku memang telah memilih jalan yang salah, tetapi setidaknya sekarang aku sudah menemukan jalan untuk kembali. Kali ini, aku akan berjalan sendirian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua   Bab 10

    Empat bulan berlalu.Aku duduk di teras bersama kakekku sambil menikmati teh. Martin datang membawa sepiring biskuit almond dan koran pagi. "Nona Alisa, apa Anda sudah melihat berita hari ini?" Aku mengambil koran tersebut.Berita tentang kasus itu terpampang di halaman depan. Setelah Perusahaan Logistik Handoko runtuh, para penyelidik menemukan bahwa Daniel menjalankan skema investasi palsu untuk mempertahankan perusahaannya tetap bertahan.Daniel mengumpulkan dana dari para investor kecil dengan menggunakan nama-nama proyek palsu, lalu memakai investasi baru untuk menutupi kerugian sebelumnya. Jumlah uang yang terlibat sangat besar. Foto yang terpampang menunjukkan dirinya sedang dibawa pergi oleh dua pria bersetelan gelap. Dia terlihat seperti pria yang sudah hancur dari dalam. Keruntuhan perusahaannya bukanlah penyebab munculnya penipuan itu. Keruntuhan tersebut hanya membuat semuanya terungkap.Sebagian orang mengatakan bahwa semua itu terjadi karena kesalahan Daniel sendiri. Seba

  • Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua   Bab 9

    Pesta pernikahan akhirnya selesai. Aula perlahan menjadi kosong. Yang tersisa hanyalah meja-meja panjang yang dipenuhi gelas-gelas kosong dan lilin-lilin yang sudah padam. Aku duduk di ruang santai sambil mengusap wajahku. Ethan menyuruh semua staf keluar, lalu menutup pintu di belakang mereka.Ethan pun duduk di hadapanku. "Ada sesuatu yang sudah lama ingin kusampaikan padamu, tapi aku mau menunggu waktu yang tepat."Aku langsung duduk tegak dan menatapnya."Pertama kali aku melihatmu adalah delapan tahun yang lalu. Itu saat ulang tahun kakekmu." Ethan bersandar di kursinya. "Saat itu, dia sedang menguji senjata baru di lapangan tembak belakang. Setelah semua orang pergi, kamu tetap tinggal. Kamu menembakkan satu kotak penuh peluru. Bukan untuk bermain, juga bukan untuk pamer. Kamu cuma menembak, satu peluru demi satu peluru. Setelah selesai, kamu meletakkan senjatanya, mengusap tanganmu, lalu menoleh ke arah ruang kerja kakekmu."Aku berusaha mengingatnya. Kenangan itu terasa samar.

  • Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua   Bab 8

    Pada tanggal 15 Maret di rumah Keluarga Desmana.Aku duduk di depan cermin dengan mengenakan gaun pengantinku. Martin mengetuk pintu tiga kali. "Nona Alisa, waktunya tiba." Aku menarik napas, lalu membuka pintu. Kakekku sudah menungguku di ujung lorong. Ketika melihatku, matanya sempat memerah sesaat, tetapi dia segera memalingkan wajah dan berdeham. "Ayo, Nak." Aku pun meraih lengannya.Pintu aula besar terbuka. Meja-meja panjang berjajar di kedua sisi ruangan. Anggota Keluarga Rusli duduk di sebelah kiri, sementara anggota Keluarga Desmana duduk di sebelah kanan. Karpet merah tua membentang di tengah ruangan. Lilin-lilin menyala satu per satu di sepanjang jalan menuju altar. Udara dipenuhi aroma asap cerutu dan kayu tua. Ethan berdiri di ujung ruangan dengan setelan hitam. Dasinya terlihat rapi. Ketika melihatku, dia berhenti bergerak. Tak lama kemudian, aku berjalan menghampirinya.Pendeta mulai membacakan janji pernikahan, lalu tepuk tangan pelan terdengar dari para tamu. Segera se

  • Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua   Bab 7

    Di sebuah kamar suite hotel di Metiza. Daniel sudah menelepon klien terpentingnya sebanyak 20 kali. Setiap kali, salurannya selalu sibuk. Tiga klien yang sebelumnya sudah dijadwalkan untuk bertemu dengannya juga tidak datang.Asisten Daniel menelepon. "Pak Daniel, ada yang nggak beres. Beberapa klien lama kita mengirimkan pemberitahuan penghentian kerja sama pagi ini. Totalnya 20 klien, termasuk tiga kontrak tahunan yang kita tanda tangani tahun lalu. Mereka bersedia membayar denda, tapi bersikeras nggak mau melanjutkan kerja sama."Buku-buku jari Daniel memutih karena dia menggenggam ponselnya terlalu erat. "Apa alasan yang mereka berikan?""Nggak ada. Mereka cuma bilang ini adalah penyesuaian bisnis biasa. Tapi, nggak mungkin ada begitu banyak klien yang membuat penyesuaian pada hari yang sama."Daniel menutup telepon dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa.Sebelum sempat menarik napas dengan tenang, ponsel kedua Daniel berdering. Itu dari manajer dermaga. Suaranya terdengar gemetar ketika

  • Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua   Bab 6

    Tiga jam kemudian, rombongan mobil melewati gerbang rumah Keluarga Desmana.Pintu mobil terbuka. Di sana, terlihat kakekku sedang berdiri di tangga. Dia mengenakan mantel tua berwarna gelap. Kedua tangannya bertumpu pada tongkat yang menjadi tanda bahwa dirinya merupakan Kepala Keluarga Desmana. Sinar matahari jatuh di atas ubannya. Untuk pertama kalinya, aku menyadari betapa kurusnya dia sekarang. Punggungnya juga sedikit membungkuk.Aku berlari menghampiri kakekku dan memeluknya seperti yang dulu selalu kulakukan saat masih kecil.Tubuhnya sempat membeku sesaat. Kemudian, dia mengangkat satu tangan dan menepuk punggungku. "Akhirnya sudah pulang. Kamu sudah pulang ke rumah." Aku menekan wajahku ke bahunya sambil berkata, "Maafkan aku, Kakek." Dia tidak bertanya apa yang membuatku meminta maaf. Dia hanya menepuk punggungku lebih kuat.Setelah makan malam, kakekku memanggil Ethan dan diriku ke ruang kerjanya. Dia duduk di kursi berlengan lamanya dan mengetukkan tongkatnya sekali ke lant

  • Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua   Bab 5

    Daniel tidak sempat melihat wajahku dengan jelas sebelum aku berbalik. Di sisi lain dinding kaca, sesuatu menghantam dadanya seperti beban yang jatuh dari ketinggian yang bahkan tidak pernah dia tahu ada. Dia melangkah maju, tetapi dinding kaca itu menghentikannya. Aku berdiri di puncak tangga pesawat, menoleh kembali ke arah kota untuk terakhir kalinya, lalu berjalan masuk ke dalam kabin.Pintu tertutup di belakangku.Seorang pria sudah berada di dalam pesawat. Dia mengenakan jaket abu-abu gelap dengan lengan yang digulung dua kali. Tidak ada apa pun di tangannya selain segelas air yang sudah tersisa setengah. Dia mendongak ketika aku masuk, lalu menyapa, "Halo, tunanganku."Pria itu adalah Ethan Rusli, satu-satunya pewaris Keluarga Rusli dan pria yang dipilih kakekku untukku. Aku menaruh kacamata hitamku sambil berujar, "Ini pesawat Keluarga Desmana."Ethan meletakkan gelasnya di atas meja. "Kakek Evan yang mengutusku. Anggap saja ini sebuah kehormatan karena aku bisa menjemput tunan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status