Share

Bab 2

Penulis: Anna Smith
Aku berbalik untuk pergi, tetapi Linda meraih lenganku. Matanya terlihat memerah. "Kamu benar-benar akan pergi begitu saja? Setelah semua yang sudah kamu curahkan untuk perusahaan ini ...."

Sebelum aku sempat menjawab, suara lembut seseorang terdengar dari belakangku. Nadanya penuh keraguan tetapi tetap lembut. "Linda, tolong jangan bilang gitu. Nanti, Alisa jadi makin sedih."

Aku menoleh. Megan berjalan mendekati kami dengan sepatu hak tingginya. Dia masih memegang proposal yang kutulis. Ekspresinya terlihat hangat, seolah-olah dia sedang berusaha melindungiku dari sesuatu.

"Alisa sudah membuat keputusannya sendiri. Kita harus menghargainya. Akhir-akhir ini, dia sudah terlalu lelah. Daniel merasa khawatir, makanya suruh Alisa istirahat."

Megan sedikit menundukkan kepalanya. Suaranya melunak ketika menambahkan, "Sejujurnya, aku selalu mengagumi segala hal yang Alisa curahkan untuk perusahaan ini. Tapi, aku nggak pernah ingin dia berpikir bahwa aku sedang menggantikan posisinya. Kalau dia masih mau proyek ini, aku bisa langsung kembalikan."

Megan mengangkat kepalanya dan menatapku dengan tatapan yang begitu jujur hingga hampir sulit membedakan apakah itu benar-benar tulus. "Alisa, kamu tahu sendiri aku nggak pernah ingin menggantikanmu."

Linda tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap Megan, lalu menatapku, kemudian segera kembali ke mejanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Pintu lift terbuka. Daniel keluar sambil memegang kunci mobil. Tatapannya melewatiku begitu saja, seolah-olah aku hanya sebuah benda yang ada di sana. "Megan, ayo pergi. Mobilnya sudah menunggu."

Daniel sampai di pintu. Di luar, hujan sudah mulai turun. Seorang petugas keamanan berlari menghampirinya sambil membawa payung. Daniel mengambil payung itu dan mengarahkannya ke Megan. "Ayo. Jangan sampai kamu kehujanan."

Megan mengikutinya dengan sepatu hak tingginya, sementara petugas keamanan membukakan pintu penumpang untuknya. Tanpa ragu sedikit pun, dia masuk ke kursi depan seolah-olah tempat itu memang selalu menjadi miliknya.

Sebelum pintu tertutup, Megan sedikit mencondongkan tubuh keluar dan tersenyum kepadaku. Suaranya terdengar cukup jelas untuk menembus suara hujan. "Alisa, makasih untuk semua yang sudah kamu bangun di sini."

"Daniel bilang, sekarang semua itu menjadi tanggung jawabku." Megan memiringkan kepalanya, seolah-olah baru teringat sesuatu. "Oh ya, aku ambil tanaman laba-labanya juga. Daniel bilang tanaman itu bakal terlihat lebih cocok di kantorku. Apalagi, kamu sudah pergi."

Daniel duduk di kursi pengemudi dengan satu tangannya berada di kemudi. Dia melirikku sekilas. "Sebaiknya kamu masuk. Hujannya makin deras."

Jendela mobil perlahan tertutup. Air hujan mengalir di sepanjang kaca dan mengaburkan wajah mereka hingga hanya menjadi bayangan yang samar. Mobil itu melaju melewati genangan air. Tak lama kemudian, lampu belakangnya menghilang di tengah derasnya hujan.

Aku berdiri di depan pintu sambil membiarkan percikan hujan mengenai anak tangga dan membasahi ujung sepatuku.

Tanaman laba-laba itu milikku. Aku merawatnya selama enam tahun, sejak masih berupa tunas kecil dengan tiga helai daun hingga tumbuh menjadi tanaman besar yang berbunga. Dulu, Daniel sering berkata bahwa keberadaan tanaman itu membuat kantor terasa seperti rumah. Sekarang, dia memberikannya kepada wanita lain.

Linda datang menghampiriku dari belakang. Dia berdiri di sampingku sambil menatap jalan kosong tempat mobil itu menghilang, lalu bertanya pelan, "Kamu benar-benar akan pergi?"

"Ya."

Aku berdiri di pintu masuk dan melihat hujan mengaburkan segalanya.

Daniel sudah lupa. Dia lupa bahwa aku yang mengawal proyek itu sejak awal hingga selesai. Dia lupa bahwa aku pernah bekerja selama tiga bulan tanpa menerima gaji ketika perusahaan sedang mengalami masa sulit. Dia lupa bahwa setiap kali dia meneleponku larut malam karena tidak bisa tidur, aku selalu menjawabnya.

Daniel mengira aku hanya sedang ngambek. Dia mengira aku akan tetap menunggu panggilannya seperti yang selalu kulakukan.

Daniel tidak pernah tahu bahwa aku bukan bertahan demi dirinya. Aku bertahan demi membuktikan bahwa aku mampu, bahwa aku bisa bertahan hidup tanpa bayang-bayang marga Desmana.

Bahwa kalimat "aku nggak peduli kamu berasal dari mana" yang pernah Daniel ucapkan dulu, benar-benar berarti. Meski sekarang, pria yang mengucapkannya sudah lupa akan hal tersebut.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua   Bab 10

    Empat bulan berlalu.Aku duduk di teras bersama kakekku sambil menikmati teh. Martin datang membawa sepiring biskuit almond dan koran pagi. "Nona Alisa, apa Anda sudah melihat berita hari ini?" Aku mengambil koran tersebut.Berita tentang kasus itu terpampang di halaman depan. Setelah Perusahaan Logistik Handoko runtuh, para penyelidik menemukan bahwa Daniel menjalankan skema investasi palsu untuk mempertahankan perusahaannya tetap bertahan.Daniel mengumpulkan dana dari para investor kecil dengan menggunakan nama-nama proyek palsu, lalu memakai investasi baru untuk menutupi kerugian sebelumnya. Jumlah uang yang terlibat sangat besar. Foto yang terpampang menunjukkan dirinya sedang dibawa pergi oleh dua pria bersetelan gelap. Dia terlihat seperti pria yang sudah hancur dari dalam. Keruntuhan perusahaannya bukanlah penyebab munculnya penipuan itu. Keruntuhan tersebut hanya membuat semuanya terungkap.Sebagian orang mengatakan bahwa semua itu terjadi karena kesalahan Daniel sendiri. Seba

  • Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua   Bab 9

    Pesta pernikahan akhirnya selesai. Aula perlahan menjadi kosong. Yang tersisa hanyalah meja-meja panjang yang dipenuhi gelas-gelas kosong dan lilin-lilin yang sudah padam. Aku duduk di ruang santai sambil mengusap wajahku. Ethan menyuruh semua staf keluar, lalu menutup pintu di belakang mereka.Ethan pun duduk di hadapanku. "Ada sesuatu yang sudah lama ingin kusampaikan padamu, tapi aku mau menunggu waktu yang tepat."Aku langsung duduk tegak dan menatapnya."Pertama kali aku melihatmu adalah delapan tahun yang lalu. Itu saat ulang tahun kakekmu." Ethan bersandar di kursinya. "Saat itu, dia sedang menguji senjata baru di lapangan tembak belakang. Setelah semua orang pergi, kamu tetap tinggal. Kamu menembakkan satu kotak penuh peluru. Bukan untuk bermain, juga bukan untuk pamer. Kamu cuma menembak, satu peluru demi satu peluru. Setelah selesai, kamu meletakkan senjatanya, mengusap tanganmu, lalu menoleh ke arah ruang kerja kakekmu."Aku berusaha mengingatnya. Kenangan itu terasa samar.

  • Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua   Bab 8

    Pada tanggal 15 Maret di rumah Keluarga Desmana.Aku duduk di depan cermin dengan mengenakan gaun pengantinku. Martin mengetuk pintu tiga kali. "Nona Alisa, waktunya tiba." Aku menarik napas, lalu membuka pintu. Kakekku sudah menungguku di ujung lorong. Ketika melihatku, matanya sempat memerah sesaat, tetapi dia segera memalingkan wajah dan berdeham. "Ayo, Nak." Aku pun meraih lengannya.Pintu aula besar terbuka. Meja-meja panjang berjajar di kedua sisi ruangan. Anggota Keluarga Rusli duduk di sebelah kiri, sementara anggota Keluarga Desmana duduk di sebelah kanan. Karpet merah tua membentang di tengah ruangan. Lilin-lilin menyala satu per satu di sepanjang jalan menuju altar. Udara dipenuhi aroma asap cerutu dan kayu tua. Ethan berdiri di ujung ruangan dengan setelan hitam. Dasinya terlihat rapi. Ketika melihatku, dia berhenti bergerak. Tak lama kemudian, aku berjalan menghampirinya.Pendeta mulai membacakan janji pernikahan, lalu tepuk tangan pelan terdengar dari para tamu. Segera se

  • Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua   Bab 7

    Di sebuah kamar suite hotel di Metiza. Daniel sudah menelepon klien terpentingnya sebanyak 20 kali. Setiap kali, salurannya selalu sibuk. Tiga klien yang sebelumnya sudah dijadwalkan untuk bertemu dengannya juga tidak datang.Asisten Daniel menelepon. "Pak Daniel, ada yang nggak beres. Beberapa klien lama kita mengirimkan pemberitahuan penghentian kerja sama pagi ini. Totalnya 20 klien, termasuk tiga kontrak tahunan yang kita tanda tangani tahun lalu. Mereka bersedia membayar denda, tapi bersikeras nggak mau melanjutkan kerja sama."Buku-buku jari Daniel memutih karena dia menggenggam ponselnya terlalu erat. "Apa alasan yang mereka berikan?""Nggak ada. Mereka cuma bilang ini adalah penyesuaian bisnis biasa. Tapi, nggak mungkin ada begitu banyak klien yang membuat penyesuaian pada hari yang sama."Daniel menutup telepon dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa.Sebelum sempat menarik napas dengan tenang, ponsel kedua Daniel berdering. Itu dari manajer dermaga. Suaranya terdengar gemetar ketika

  • Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua   Bab 6

    Tiga jam kemudian, rombongan mobil melewati gerbang rumah Keluarga Desmana.Pintu mobil terbuka. Di sana, terlihat kakekku sedang berdiri di tangga. Dia mengenakan mantel tua berwarna gelap. Kedua tangannya bertumpu pada tongkat yang menjadi tanda bahwa dirinya merupakan Kepala Keluarga Desmana. Sinar matahari jatuh di atas ubannya. Untuk pertama kalinya, aku menyadari betapa kurusnya dia sekarang. Punggungnya juga sedikit membungkuk.Aku berlari menghampiri kakekku dan memeluknya seperti yang dulu selalu kulakukan saat masih kecil.Tubuhnya sempat membeku sesaat. Kemudian, dia mengangkat satu tangan dan menepuk punggungku. "Akhirnya sudah pulang. Kamu sudah pulang ke rumah." Aku menekan wajahku ke bahunya sambil berkata, "Maafkan aku, Kakek." Dia tidak bertanya apa yang membuatku meminta maaf. Dia hanya menepuk punggungku lebih kuat.Setelah makan malam, kakekku memanggil Ethan dan diriku ke ruang kerjanya. Dia duduk di kursi berlengan lamanya dan mengetukkan tongkatnya sekali ke lant

  • Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua   Bab 5

    Daniel tidak sempat melihat wajahku dengan jelas sebelum aku berbalik. Di sisi lain dinding kaca, sesuatu menghantam dadanya seperti beban yang jatuh dari ketinggian yang bahkan tidak pernah dia tahu ada. Dia melangkah maju, tetapi dinding kaca itu menghentikannya. Aku berdiri di puncak tangga pesawat, menoleh kembali ke arah kota untuk terakhir kalinya, lalu berjalan masuk ke dalam kabin.Pintu tertutup di belakangku.Seorang pria sudah berada di dalam pesawat. Dia mengenakan jaket abu-abu gelap dengan lengan yang digulung dua kali. Tidak ada apa pun di tangannya selain segelas air yang sudah tersisa setengah. Dia mendongak ketika aku masuk, lalu menyapa, "Halo, tunanganku."Pria itu adalah Ethan Rusli, satu-satunya pewaris Keluarga Rusli dan pria yang dipilih kakekku untukku. Aku menaruh kacamata hitamku sambil berujar, "Ini pesawat Keluarga Desmana."Ethan meletakkan gelasnya di atas meja. "Kakek Evan yang mengutusku. Anggap saja ini sebuah kehormatan karena aku bisa menjemput tunan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status