Jarum jam terus berputar.Beberapa jam kemudian, terdengar bunyi klik pelan dari gagang pintu.Toni akhirnya pulang.Seperti biasanya, dia bahkan tak melirikku.Setelah menggantung jasnya, dia langsung merebahkan diri di ranjang.Tak lama kemudian, dia tertidur.Di tubuhnya masih melekat aroma parfum asing.Aku membalikkan badan.Saat itulah ponselnya berdering tanpa henti.Aku mengambilnya.Pesan singkat dari Ayu.[Makasih, ya, Pak, sudah bela-belain datang temani aku malam ini. Kakak nggak marah, ‘kan? Lain kali, aku datang minta maaf langsung sama Kakak.]Aku menunduk menatap layar.Bulu mataku sedikit bergetar.Ujung jariku bergerak pelan, menggulir layar ke atas.Percakapan mereka begitu mesra dan ambigu.Toni membalas setiap pesannya dengan cepat.Sama sekali berbeda dengan sikapnya yang selalu dingin terhadapku.Tenggorokanku terasa tercekat.Perlahan, aku mengetik balasan.[Toni sudah tidur Aku juga nggak marah. Besok saja kamu mencarinya.]Setelah mematikan layar, aku meletakk
Ler mais