Short
Kita Berpisah Saat Semua Bunga Bermekaran 

Kita Berpisah Saat Semua Bunga Bermekaran 

By:  TomasCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Suamiku adalah pria yang sangat dingin dalam urusan ranjang. Setiap kali berhubungan intim, dia selalu mengatur waktunya dengan sangat ketat. Hingga malam ini. Saat kami baru setengah jalan, nada notifikasi khusus dari ponselnya tiba-tiba berbunyi. Dari ujung telepon terdengar isak tangis sekretarisnya. “Pak … pipa air di rumahku pecah. Aku takut .…” Tanpa ragu sedikit pun, Toni Avisena langsung mengenakan pakaiannya dan bangkit berdiri. Aku menggigit bibir, menahan rasa malu sambil meraih lengannya. “Sudah selarut ini, kita masih belum selesai ….” “Ayu sendirian. Dia nggak punya siapa-siapa. Aku ‘kan atasannya, nggak mungkin membiarkannya begitu saja.” Dia tak menoleh ke arahku. Dengan tenang, dia melepaskan genggamanku, lalu merapikan kerah bajunya. “Tugas hari ini sudah selesai.” “Soal sisanya ... lain kali akan kuganti.” Napasku tercekat. Jadi …. Selama ini, baginya aku hanyalah sebuah tugas. Tak lama setelah dia pergi, sebuah pesan masuk ke ponselku. Pengirimnya adalah Ayu. Sebuah foto yang menunjukkan dia sedang bersandar di bahu suamiku. [Kak, maaf banget, ya. Tadi aku benar-benar ketakutan. Lain kali, aku pasti minta Pak Toni menggantinya untuk Kakak. Malam ini, Kakak pakai “alat” itu dulu, ya.] Aku membaca pesan itu sampai selesai. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku bangkit dengan tenang, mandi sebentar, lalu mencuci seprai. Setelah itu, aku berganti mengenakan piyama baru. Dan mulai detik itu …. Aku benar-benar memutuskan untuk melepaskannya.

View More

Chapter 1

Bab 1

Jarum jam terus berputar.

Beberapa jam kemudian, terdengar bunyi klik pelan dari gagang pintu.

Toni akhirnya pulang.

Seperti biasanya, dia bahkan tak melirikku.

Setelah menggantung jasnya, dia langsung merebahkan diri di ranjang.

Tak lama kemudian, dia tertidur.

Di tubuhnya masih melekat aroma parfum asing.

Aku membalikkan badan.

Saat itulah ponselnya berdering tanpa henti.

Aku mengambilnya.

Pesan singkat dari Ayu.

[Makasih, ya, Pak, sudah bela-belain datang temani aku malam ini. Kakak nggak marah, ‘kan? Lain kali, aku datang minta maaf langsung sama Kakak.]

Aku menunduk menatap layar.

Bulu mataku sedikit bergetar.

Ujung jariku bergerak pelan, menggulir layar ke atas.

Percakapan mereka begitu mesra dan ambigu.

Toni membalas setiap pesannya dengan cepat.

Sama sekali berbeda dengan sikapnya yang selalu dingin terhadapku.

Tenggorokanku terasa tercekat.

Perlahan, aku mengetik balasan.

[Toni sudah tidur Aku juga nggak marah. Besok saja kamu mencarinya.]

Setelah mematikan layar, aku meletakkan kembali ponselnya di samping ranjang.

Aku memeluk bantal.

Lalu berbalik hendak tidur di kamar tamu.

Tiba-tiba .…

Seseorang mencengkeram pergelangan tanganku.

Sentuhan hangat itu membuat langkahku terhenti.

Matanya masih terpejam.

Dengan suara lirih, dia bergumam.

“Ayu … aku di sini ....”

Aku menatap wajah tampannya.

Senyum pahit terpancar di wajahku, lalu berbalik pergi.

….

Keesokan paginya.

Brak!

Pintu kamar ditendang hingga terbuka.

Sambil merapikan manset kemejanya, Toni bertanya dengan suara dingin.

“Kenapa kamu balas pesan Ayu seperti itu? Dia tuh masih lebih muda dari kita. Perasaannya sensitif. Masa kamu nggak ngerti?”

“Lagian, dia cuma sekretaris baruku. Apa untungnya kamu mengganggunya?”

Aku mengangkat kelopak mata.

Menatap lurus sorot matanya yang dipenuhi amarah.

“Cuma sekretaris?”

“Memangnya ada atasan yang memanggil nama sekretarisnya saat sedang tidur?”

Tubuh Toni langsung membeku.

Ekspresinya tampak sedikit canggung.

“Hubunganku sama dia cuma sebatas atasan dan bawahan.”

“Aku cuma sudah terbiasa sebut namanya. Sebagai istriku, jangan berpikiran terlalu sempit.”

Aku tak lagi menatapnya.

Hanya mengangguk pelan.

“Oke. Mulai sekarang, kamu boleh panggil namanya sesukamu. Silakan.”

Tiba-tiba dia mencengkeram lenganku.

Nada suaranya mulai dipenuhi ketidaksabaran.

“Aku sama Ayu benaran nggak punya hubungan apa-apa. Luna, berhenti menyindir seperti ini.”

Aku menundukkan pandangan.

Lalu menarik kembali tanganku.

Sambil merapikan kerah bajunya, aku tetap berbicara dengan tenang.

“Nggak punya hubungan apa-apa? Oke, aku mengerti.”

“Jadi … sebagai atasan, kamu juga memang biasa membelikannya pembalut?”

Punggung Toni langsung menegang.

Wajahnya perlahan menggelap.

Dia menarik napas dalam-dalam.

“Darah haidnya banyak. Punyamu nggak cukup untuk dia, jadi aku pergi membelikannya.”

Tanganku seketika terhenti.

Aku mendongak menatapnya.

“Wah … perhatian sekali. Sampai tahu sebanyak itu.”

Sebenarnya .…

Aku sudah lama menyadari ada yang tak beres.

Bukan hanya soal pembalut.

Di rumah kami mulai bermunculan gelas minum bergambar kartun.

Lipstik.

Bahkan pakaian yang belum sempat dibawanya pergi.

Hanya saja ....

Aku memilih untuk tak mempermasalahkannya satu per satu.

Toni mengernyit.

Dia berdiri tegak. Kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

Tatapannya datar ke arahku.

“Luna. Aku sudah menjelaskannya berkali-kali.”

“Kamu berubah. Kamu benar-benar jadi orang yang nggak masuk akal.”

Baru saja kalimat itu selesai .…

Ponselnya kembali berdering.

Nada dering yang sama seperti tengah malam tadi.

“Sudah, sana pergi,” ucapku tenang.

“Kalau nggak, nanti dia datang lagi ke sini mencariku.”

Bagaimanapun ....

Ini bukan pertama kalinya.

Bibir Toni bergerak pelan.

Seolah ingin mengatakan sesuatu.

Kali ini, dia sempat ragu sesaat.

Namun pada akhirnya, dia tetap berbalik dan pergi.

Aku mengembuskan napas panjang.

Lalu menunduk kepala, menatap peta.

Di sebuah kota kecil di wilayah selatan ....

Aku menggambar sebuah lingkaran merah.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status