LOGINSuamiku adalah pria yang sangat dingin dalam urusan ranjang. Setiap kali berhubungan intim, dia selalu mengatur waktunya dengan sangat ketat. Hingga malam ini. Saat kami baru setengah jalan, nada notifikasi khusus dari ponselnya tiba-tiba berbunyi. Dari ujung telepon terdengar isak tangis sekretarisnya. “Pak … pipa air di rumahku pecah. Aku takut .…” Tanpa ragu sedikit pun, Toni Avisena langsung mengenakan pakaiannya dan bangkit berdiri. Aku menggigit bibir, menahan rasa malu sambil meraih lengannya. “Sudah selarut ini, kita masih belum selesai ….” “Ayu sendirian. Dia nggak punya siapa-siapa. Aku ‘kan atasannya, nggak mungkin membiarkannya begitu saja.” Dia tak menoleh ke arahku. Dengan tenang, dia melepaskan genggamanku, lalu merapikan kerah bajunya. “Tugas hari ini sudah selesai.” “Soal sisanya ... lain kali akan kuganti.” Napasku tercekat. Jadi …. Selama ini, baginya aku hanyalah sebuah tugas. Tak lama setelah dia pergi, sebuah pesan masuk ke ponselku. Pengirimnya adalah Ayu. Sebuah foto yang menunjukkan dia sedang bersandar di bahu suamiku. [Kak, maaf banget, ya. Tadi aku benar-benar ketakutan. Lain kali, aku pasti minta Pak Toni menggantinya untuk Kakak. Malam ini, Kakak pakai “alat” itu dulu, ya.] Aku membaca pesan itu sampai selesai. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku bangkit dengan tenang, mandi sebentar, lalu mencuci seprai. Setelah itu, aku berganti mengenakan piyama baru. Dan mulai detik itu …. Aku benar-benar memutuskan untuk melepaskannya.
View MoreTanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung berbalik dan pergi.Aku makan siang di sebuah restoran yang tak jauh dari rumah.Setelah itu, aku mengeluarkan ponsel dan membuka rekaman CCTV rumah.Di layar, Toni sedang duduk di dapur.Di hadapannya terbentang satu meja penuh masakan.Dia masih menungguku pulang.Melihat pemandangan itu, mataku langsung memanas.Dulu .…Akulah yang selalu menunggunya seperti itu.Kini, peran kami telah bertukar.Yang kurasakan hanyalah iba pada diriku yang dulu.Selesai makan, aku berjalan-jalan di pusat perbelanjaan terdekat.Hari semakin larut.Malam harinya, aku baru pulang ke rumah.Toni sudah pergi.Masakan di atas meja masih tersaji utuh.Dia memasak begitu banyak.Terlihat jelas dia benar-benar berusaha.Sayangnya .…Aku bahkan tak menyentuhnya.Aku langsung memanggil ART untuk membereskan meja dan membuang semua makanan itu.Hari-hari berikutnya, Toni tak pernah muncul lagi.Hidupku pun terasa jauh lebih tenang.Sampai suatu senja .…Ayu datang me
Dia terdiam cukup lama.Suasana di dalam mobil pun tenggelam dalam keheningan.Aku sempat berpikir kami akan terus terjebak dalam kebisuan seperti ini.Namun tiba-tiba, terdengar bunyi klik.Dia membuka kunci pintu mobil.Aku membuka pintu, lalu turun.“Terima kasih untuk hari ini.”“Kalau ada waktu, aku traktir kamu makan.”Aku mengambil koper, lalu berjalan masuk ke apartemen dengan tenang.Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan mengeringkan rambut.Saat melihat ke bawah melalui balkon, kulihat dia masih ada di sana.Jendela mobilnya sudah terbuka.Satu tangannya menjulur ke luar sambil menjepit sebatang rokok.Dia bertahan di sana cukup lama.Aku berbalik, lalu menutup tirai.….Keesokan harinya, aku baru terbangun menjelang siang.Sore harinya, saat keluar membuang sampah, aku mendapati Toni berdiri di depan pintu.Penampilannya tampak sedikit berantakan.Di tangannya tergenggam sekantong belanjaaan.Sepertinya dia sudah datang sejak pagi tadi.Melihat tatapan heranku, dia bu
Setelah meninggalkan Toni, aku pergi ke sebuah kota di wilayah selatan.Aku kembali menjalani perawatan di rumah sakit setempat selama beberapa waktu.Setelah keluar dari rumah sakit, aku terus berkeliling ke kota-kota di sekitarnya.Hingga suatu hari, begitu keluar dari stasiun, koperku tiba-tiba rusak.Luka di tubuhku memang sudah sembuh.Namun untuk sementara waktu, aku masih belum sanggup membawa beban yang terlalu berat.Saat aku sedang bimbang apakah harus meminta bantuan seseorang, beban di tanganku tiba-tiba terasa jauh lebih ringan.Aku mengembuskan napas lega.“Terima kasih.”Namun, ketika menoleh dan melihat orang yang membawakan koperku adalah Toni. Pria yang sudah beberapa bulan tak kutemui, aku langsung terpaku.Toni mengangkat koperku hanya dengan satu tangan.Suaranya sedikit bergetar.“Sama-sama.”Beberapa saat kemudian, aku akhirnya berhasil menenangkan diri.Aku berniat memesan taksi meninggalkan lokasi.Namun tiba-tiba, Toni meraih lenganku.Suaranya terdengar ragu.
Dia hanya berdiri terpaku.Sangat lama.Seolah seluruh tubuhnya membeku di tempat.Hingga akhirnya, telinganya berkedut pelan.Dia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.Napasnya perlahan melambat.Namun degup jantungnya justru semakin kencang.Dia segera menoleh.“Kamu sudah pulang. Aku mencarimu dari tadi ....”Namun, begitu melihat sosok yang datang, kata-kata yang belum sempat selesai itu langsung tercekat di tenggorokannya.Sorot matanya dipenuhi kekecewaan yang begitu dalam.“Kenapa malah kamu?”“Ngapain datang ke sini?”Ayu tersenyum sambil mempercepat langkah.Dia memeluk lengan Toni dengan manja.“Kangen sama Bapak.”“Bukannya Bapak sendiri yang bilang aku boleh datang kapan saja?”Tubuh Toni langsung menegang.Dengan gerakan nyaris tak terlihat, dia perlahan melepaskan pelukan Ayu.Tatapannya bahkan tak tertuju pada wanita itu.“Jam segini harusnya kamu masih kerja.”Ayu mengerucutkan bibir.Dia kembali merapatkan tubuhnya ke Toni.Suaranya terdengar sedikit kesa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.