Share

Bab 4

Penulis: Tomas
Di seberang telepon, Toni terdiam beberapa saat.

Barulah kemudian dia menyadari ada yang tak beres.

“Ada apa?”

Aku memotret foto itu lalu mengirimkannya kepadanya.

“Lihat baik-baik.”

Dia kembali terdiam, lalu menghela napas.

“Mereka salah kirim.”

“Apa? Jadi … kalau fotonya nggak salah kirim, menurutmu melakukan foto prewedding dengannya itu hal yang wajar?”

Suara Toni terdengar sedikit tak berdaya.

“Datanglah ke kantor. Aku akan menjelaskan semuanya.”

Setelah telepon ditutup, aku mengambil tas dan langsung pergi.

Dadaku terasa sesak.

Toni tak pernah mengizinkanku datang ke kantornya.

Katanya, itu hanya akan memberi kesan yang kurang baik.

Tak kusangka .…

Satu-satunya kesempatan aku diizinkan datang justru karena masalah seperti ini.

Baru saja hendak masuk ke lift, seorang karyawan langsung menghentikanku.

“Maaf, orang luar nggak diperbolehkan masuk ke area kantor. Silakan menunggu di ruang tamu.”

Aku baru saja hendak menjelaskan, tapi Ayu tiba-tiba muncul.

Dia menarikku masuk.

“Nggak apa-apa, aku mengenalnya.”

Sikapnya begitu santai, tampak leluasa.

Seolah-olah dialah nyonya rumah di tempat ini.

Dia membawaku masuk ke ruangan Toni, lalu menuangkan segelas air.

“Pak Toni masih rapat, Kak. Tunggu sebentar, ya.”

Aku tak menyentuh gelas itu.

Sebaliknya, pandanganku menyapu seluruh ruangan.

Di atas sofa tergeletak piyama couple.

Bahkan cangkir milik Toni kini berganti menjadi cangkir couple.

Di atas meja kerja terpajang banyak kerajinan tangan yang mereka buat bersama.

Aku tak kuasa menyunggingkan senyum sinis.

Setelah menikah, aku selalu bilang ingin membuat kerajinan tangan bersamanya.

Namun, dia selalu menolak.

Kadang beralasan sibuk, tak punya waktu.

Kadang berkata lain kali saja.

Dan pada akhirnya ....

Tak pernah sekali pun terwujud.

Kini aku akhirnya mengerti.

Dia hanya tak ingin melakukannya bersamaku.

Ayu juga tampak tak peduli.

Sambil tersenyum, dia mulai membereskan barang-barang di ruangan.

“Kak, jangan salah paham. Aku sama Pak Toni nggak ada hubungan apa-apa.”

“Aku tahu Kakak masih sedih. Aku juga tahu hubungan suami istri kalian nggak terlalu sedikit, jadi Pak Toni mungkin nggak bisa memuaskan Kakak. Nanti akan kubujuk dia.”

“Meski begitu … Pak Toni memang staminanya luar biasa. Lagian Kakak juga takut sakit, jadi nggak heran kalau dia jadi malas melakukannya .…”

Meski berkata begitu, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum yang menantang.

Hatiku seolah berdarah.

Aku mencibir dingin.

“Oh .…”

“Jadi, sampai urusan ranjang kami pun kamu tahu?”

Ayu tersenyum.

Wajahnya tiba-tiba memerah.

“Itu karena Pak Toni percaya sama aku. Aku bahkan punya videonya.”

Sambil berbicara, dia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkannya kepadaku.

“Bestie-ku juga sudah nonton. Katanya Kakak terlalu kaku.”

“Aneh juga, ya.”

“Padahal ibu Kakak dulu seorang pelakor. Harusnya Kakak nggak sampai begitu .…”

Tatapannya perlahan menyapu tubuhku.

Seolah berusaha menyembunyikan sesuatu, tapi justru semakin kentara.

Aku tersentak kaget.

Tubuhku seketika mulai gemetar.

“Kamu … bahkan tahu soal itu?”

Ayu menggenggam tanganku sambil tersenyum lembut.

“Kak, aku benar-benar nggak sengaja.”

“Tapi ... punya ibu yang begitu memalukan, wajar kalau Pak Toni nggak menyukaimu.”

Aku langsung mengibaskan tangannya.

Napasku semakin sesak.

“Jangan sembarangan bicara tentang ibuku!”

Peristiwa yang menimpa ibuku dulu memang sempat menggemparkan publik.

Saat itu, ibuku jatuh sakit.

Tak sanggup lagi membesarkanku.

Ibu membawaku menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk mencari ayahku.

Namun yang kami temukan .…

Ayah sudah memiliki istri dan anak.

Kami diusir.

Mereka memaki ibu habis-habisan.

Menyebutnya perempuan tak tahu malu.

Demi melindungiku .…

Ibu memilih menghantamkan kepalanya ke dinding hingga meninggal.

Padahal ....

Sejak awal sampai akhir .…

Ibuku adalah korban.

Dia sama sekali tak mengetahui apa pun.

Ibu begitu polosnya selalu mengira suaminya hanya pergi mencari nafkah.

Hanya Toni yang tahu semua kejadian itu.

Dan ternyata ....

Dia menceritakan semuanya kepada orang lain.

Mataku langsung memerah.

Aku mengangkat tangan.

Hendak menampar Ayu.

Namun tepat saat itu, Toni masuk ke dalam ruangan.

Dia mendorongku menjauh.

“Luna! Aku memanggilmu ke sini untuk menyelesaikan masalah.”

“Bukan untuk membuat keributan.”

Aku mendorong tubuhnya sekuat tenaga.

Lalu mencengkeram kerah bajunya.

“Kenapa kamu menunjukkan video itu kepadanya?”

“Kenapa kamu juga ceritakan soal ibuku kepada mereka?”

“Kamu tahu ‘kan kalau ibuku nggak bersalah!”

Nada suara Toni melunak.

Namun ekspresinya tetap terlihat acuh tak acuh.

“Ayu nggak sengaja melihat videonya. Lagian, dia cuma kasih tahu sahabatnya. Dia sudah berjanji nggak akan menyebarkannya.”

“Kalau soal ibumu ....”

Dia sengaja memanjangkan nada suaranya.

“Nggak mungkin ada asap kalau nggak ada api.”

Aku sampai tertawa saking kesalnya.

Tatapanku kosong.

Bagus sekali.

Katanya tak akan disebarkan.

Katanya tak mungkin ada asap kalau tak ada api.

Aku mengerahkan seluruh tenagaku ingin menamparnya.

Namun, tubuhku justru kehilangan keseimbangan akibat hasrat itu.

Hingga akhirnya membentur rak buku di belakang.

Rak itu berguncang hebat.

Aku melihat rak buku itu roboh ke arahku.

Jantungku berdegup kencang.

Dan refleks pertama Toni ....

adalah menarik Ayu menjauh.

Detik berikutnya .…

Brak!

Tubuhku tertimpa rak buku, terjepit di bagian paling bawah.

Dengan kesadaran yang mulai memudar, aku masih sempat menatap ke arahnya.

Di detik terakhir sebelum kehilangan kesadaran .…

Aku melihat Toni terbelalak.

Dia berlari ke arahku.

….

Setelah sadar, entah sudah berapa lama waktu berlalu.

Tiga tulang rusukku patah.

Kali ini .…

Justru Toni yang lebih dulu mengirim pesan.

[Aku lagi beli baju buatmu. Suka yang mana?]

Namun di sudut foto yang dia kirimkan .…

Aku masih melihat Ayu yang sedang sibuk mencoba pakaian.

Mungkin ....

Aku hanya sekalian dibelikan.

Tiba-tiba aku ingin tertawa.

Menghadapi perhatiannya yang begitu langka ....

Kali ini, aku tak ingin menanggapinya.

Dengan tenang, aku menghapus kontak Toni.

Kutinggalkan surat cerai.

Lalu melangkah menuju bandara.

....

Lama berselang, Toni tak kunjung menerima balasan dari Luna.

Apa Luna sudah tidur?

Toni memilihkan beberapa stel pakaian sesuai selera Luna.

Saat kembali ke rumah sakit..

Yang dilihatnya hanyalah ranjang kosong.

Serta ....

Surat cerai yang tergeletak di atasnya.

Pupil matanya langsung menyusut.

Kantong belanja di tangannya seketika jatuh ke lantai.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kita Berpisah Saat Semua Bunga Bermekaran    Bab 9

    Tanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung berbalik dan pergi.Aku makan siang di sebuah restoran yang tak jauh dari rumah.Setelah itu, aku mengeluarkan ponsel dan membuka rekaman CCTV rumah.Di layar, Toni sedang duduk di dapur.Di hadapannya terbentang satu meja penuh masakan.Dia masih menungguku pulang.Melihat pemandangan itu, mataku langsung memanas.Dulu .…Akulah yang selalu menunggunya seperti itu.Kini, peran kami telah bertukar.Yang kurasakan hanyalah iba pada diriku yang dulu.Selesai makan, aku berjalan-jalan di pusat perbelanjaan terdekat.Hari semakin larut.Malam harinya, aku baru pulang ke rumah.Toni sudah pergi.Masakan di atas meja masih tersaji utuh.Dia memasak begitu banyak.Terlihat jelas dia benar-benar berusaha.Sayangnya .…Aku bahkan tak menyentuhnya.Aku langsung memanggil ART untuk membereskan meja dan membuang semua makanan itu.Hari-hari berikutnya, Toni tak pernah muncul lagi.Hidupku pun terasa jauh lebih tenang.Sampai suatu senja .…Ayu datang me

  • Kita Berpisah Saat Semua Bunga Bermekaran    Bab 8

    Dia terdiam cukup lama.Suasana di dalam mobil pun tenggelam dalam keheningan.Aku sempat berpikir kami akan terus terjebak dalam kebisuan seperti ini.Namun tiba-tiba, terdengar bunyi klik.Dia membuka kunci pintu mobil.Aku membuka pintu, lalu turun.“Terima kasih untuk hari ini.”“Kalau ada waktu, aku traktir kamu makan.”Aku mengambil koper, lalu berjalan masuk ke apartemen dengan tenang.Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan mengeringkan rambut.Saat melihat ke bawah melalui balkon, kulihat dia masih ada di sana.Jendela mobilnya sudah terbuka.Satu tangannya menjulur ke luar sambil menjepit sebatang rokok.Dia bertahan di sana cukup lama.Aku berbalik, lalu menutup tirai.….Keesokan harinya, aku baru terbangun menjelang siang.Sore harinya, saat keluar membuang sampah, aku mendapati Toni berdiri di depan pintu.Penampilannya tampak sedikit berantakan.Di tangannya tergenggam sekantong belanjaaan.Sepertinya dia sudah datang sejak pagi tadi.Melihat tatapan heranku, dia bu

  • Kita Berpisah Saat Semua Bunga Bermekaran    Bab 7

    Setelah meninggalkan Toni, aku pergi ke sebuah kota di wilayah selatan.Aku kembali menjalani perawatan di rumah sakit setempat selama beberapa waktu.Setelah keluar dari rumah sakit, aku terus berkeliling ke kota-kota di sekitarnya.Hingga suatu hari, begitu keluar dari stasiun, koperku tiba-tiba rusak.Luka di tubuhku memang sudah sembuh.Namun untuk sementara waktu, aku masih belum sanggup membawa beban yang terlalu berat.Saat aku sedang bimbang apakah harus meminta bantuan seseorang, beban di tanganku tiba-tiba terasa jauh lebih ringan.Aku mengembuskan napas lega.“Terima kasih.”Namun, ketika menoleh dan melihat orang yang membawakan koperku adalah Toni. Pria yang sudah beberapa bulan tak kutemui, aku langsung terpaku.Toni mengangkat koperku hanya dengan satu tangan.Suaranya sedikit bergetar.“Sama-sama.”Beberapa saat kemudian, aku akhirnya berhasil menenangkan diri.Aku berniat memesan taksi meninggalkan lokasi.Namun tiba-tiba, Toni meraih lenganku.Suaranya terdengar ragu.

  • Kita Berpisah Saat Semua Bunga Bermekaran    Bab 6

    Dia hanya berdiri terpaku.Sangat lama.Seolah seluruh tubuhnya membeku di tempat.Hingga akhirnya, telinganya berkedut pelan.Dia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.Napasnya perlahan melambat.Namun degup jantungnya justru semakin kencang.Dia segera menoleh.“Kamu sudah pulang. Aku mencarimu dari tadi ....”Namun, begitu melihat sosok yang datang, kata-kata yang belum sempat selesai itu langsung tercekat di tenggorokannya.Sorot matanya dipenuhi kekecewaan yang begitu dalam.“Kenapa malah kamu?”“Ngapain datang ke sini?”Ayu tersenyum sambil mempercepat langkah.Dia memeluk lengan Toni dengan manja.“Kangen sama Bapak.”“Bukannya Bapak sendiri yang bilang aku boleh datang kapan saja?”Tubuh Toni langsung menegang.Dengan gerakan nyaris tak terlihat, dia perlahan melepaskan pelukan Ayu.Tatapannya bahkan tak tertuju pada wanita itu.“Jam segini harusnya kamu masih kerja.”Ayu mengerucutkan bibir.Dia kembali merapatkan tubuhnya ke Toni.Suaranya terdengar sedikit kesa

  • Kita Berpisah Saat Semua Bunga Bermekaran    Bab 5

    Toni bergegas menghampiri.Tatapannya menyapu sekeliling.Hatinya tiba-tiba dilanda kepanikan.Dia berbalik dengan cepat, lalu mencengkeram seorang perawat yang berjaga di meja perawat.Suaranya bergetar tak terkendali.“Ke mana pasien di kamar itu?”Perawat itu mengernyit lalu mundur beberapa langkah.“Pak, tolong tenang dulu.”Perawat melirik ke arah ruang rawat yang dimaksud.“Pasien di ruang itu sudah menyelesaikan administrasi untuk keluar rumah sakit. Pagi tadi dia sudah pergi.”Napas Toni seketika tercekat.Jemarinya perlahan melepas perawat itu.Seluruh tubuhnya terasa membeku.“Pergi?”“Dengan luka seperti itu … mana mungkin dia bisa pergi?”“Lagian ... dia mau ke mana?”Perawat itu pun tampak heran.“Kami sudah berusaha membujuknya, tapi nggak ada gunanya.”“Dia bersikeras ingin pergi. Bahkan dokter pun nggak bisa menghentikannya.”Toni menelan ludah.Dia menarik napas panjang.Dengan langkah yang terasa begitu berat, dia kembali ke ruang rawat.Tangannya yang gemetar meraih

  • Kita Berpisah Saat Semua Bunga Bermekaran    Bab 4

    Di seberang telepon, Toni terdiam beberapa saat.Barulah kemudian dia menyadari ada yang tak beres.“Ada apa?”Aku memotret foto itu lalu mengirimkannya kepadanya.“Lihat baik-baik.”Dia kembali terdiam, lalu menghela napas.“Mereka salah kirim.”“Apa? Jadi … kalau fotonya nggak salah kirim, menurutmu melakukan foto prewedding dengannya itu hal yang wajar?”Suara Toni terdengar sedikit tak berdaya.“Datanglah ke kantor. Aku akan menjelaskan semuanya.”Setelah telepon ditutup, aku mengambil tas dan langsung pergi.Dadaku terasa sesak.Toni tak pernah mengizinkanku datang ke kantornya.Katanya, itu hanya akan memberi kesan yang kurang baik.Tak kusangka .…Satu-satunya kesempatan aku diizinkan datang justru karena masalah seperti ini.Baru saja hendak masuk ke lift, seorang karyawan langsung menghentikanku.“Maaf, orang luar nggak diperbolehkan masuk ke area kantor. Silakan menunggu di ruang tamu.”Aku baru saja hendak menjelaskan, tapi Ayu tiba-tiba muncul.Dia menarikku masuk.“Nggak a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status