MasukTanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung berbalik dan pergi.Aku makan siang di sebuah restoran yang tak jauh dari rumah.Setelah itu, aku mengeluarkan ponsel dan membuka rekaman CCTV rumah.Di layar, Toni sedang duduk di dapur.Di hadapannya terbentang satu meja penuh masakan.Dia masih menungguku pulang.Melihat pemandangan itu, mataku langsung memanas.Dulu .…Akulah yang selalu menunggunya seperti itu.Kini, peran kami telah bertukar.Yang kurasakan hanyalah iba pada diriku yang dulu.Selesai makan, aku berjalan-jalan di pusat perbelanjaan terdekat.Hari semakin larut.Malam harinya, aku baru pulang ke rumah.Toni sudah pergi.Masakan di atas meja masih tersaji utuh.Dia memasak begitu banyak.Terlihat jelas dia benar-benar berusaha.Sayangnya .…Aku bahkan tak menyentuhnya.Aku langsung memanggil ART untuk membereskan meja dan membuang semua makanan itu.Hari-hari berikutnya, Toni tak pernah muncul lagi.Hidupku pun terasa jauh lebih tenang.Sampai suatu senja .…Ayu datang me
Dia terdiam cukup lama.Suasana di dalam mobil pun tenggelam dalam keheningan.Aku sempat berpikir kami akan terus terjebak dalam kebisuan seperti ini.Namun tiba-tiba, terdengar bunyi klik.Dia membuka kunci pintu mobil.Aku membuka pintu, lalu turun.“Terima kasih untuk hari ini.”“Kalau ada waktu, aku traktir kamu makan.”Aku mengambil koper, lalu berjalan masuk ke apartemen dengan tenang.Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan mengeringkan rambut.Saat melihat ke bawah melalui balkon, kulihat dia masih ada di sana.Jendela mobilnya sudah terbuka.Satu tangannya menjulur ke luar sambil menjepit sebatang rokok.Dia bertahan di sana cukup lama.Aku berbalik, lalu menutup tirai.….Keesokan harinya, aku baru terbangun menjelang siang.Sore harinya, saat keluar membuang sampah, aku mendapati Toni berdiri di depan pintu.Penampilannya tampak sedikit berantakan.Di tangannya tergenggam sekantong belanjaaan.Sepertinya dia sudah datang sejak pagi tadi.Melihat tatapan heranku, dia bu
Setelah meninggalkan Toni, aku pergi ke sebuah kota di wilayah selatan.Aku kembali menjalani perawatan di rumah sakit setempat selama beberapa waktu.Setelah keluar dari rumah sakit, aku terus berkeliling ke kota-kota di sekitarnya.Hingga suatu hari, begitu keluar dari stasiun, koperku tiba-tiba rusak.Luka di tubuhku memang sudah sembuh.Namun untuk sementara waktu, aku masih belum sanggup membawa beban yang terlalu berat.Saat aku sedang bimbang apakah harus meminta bantuan seseorang, beban di tanganku tiba-tiba terasa jauh lebih ringan.Aku mengembuskan napas lega.“Terima kasih.”Namun, ketika menoleh dan melihat orang yang membawakan koperku adalah Toni. Pria yang sudah beberapa bulan tak kutemui, aku langsung terpaku.Toni mengangkat koperku hanya dengan satu tangan.Suaranya sedikit bergetar.“Sama-sama.”Beberapa saat kemudian, aku akhirnya berhasil menenangkan diri.Aku berniat memesan taksi meninggalkan lokasi.Namun tiba-tiba, Toni meraih lenganku.Suaranya terdengar ragu.
Dia hanya berdiri terpaku.Sangat lama.Seolah seluruh tubuhnya membeku di tempat.Hingga akhirnya, telinganya berkedut pelan.Dia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.Napasnya perlahan melambat.Namun degup jantungnya justru semakin kencang.Dia segera menoleh.“Kamu sudah pulang. Aku mencarimu dari tadi ....”Namun, begitu melihat sosok yang datang, kata-kata yang belum sempat selesai itu langsung tercekat di tenggorokannya.Sorot matanya dipenuhi kekecewaan yang begitu dalam.“Kenapa malah kamu?”“Ngapain datang ke sini?”Ayu tersenyum sambil mempercepat langkah.Dia memeluk lengan Toni dengan manja.“Kangen sama Bapak.”“Bukannya Bapak sendiri yang bilang aku boleh datang kapan saja?”Tubuh Toni langsung menegang.Dengan gerakan nyaris tak terlihat, dia perlahan melepaskan pelukan Ayu.Tatapannya bahkan tak tertuju pada wanita itu.“Jam segini harusnya kamu masih kerja.”Ayu mengerucutkan bibir.Dia kembali merapatkan tubuhnya ke Toni.Suaranya terdengar sedikit kesa
Toni bergegas menghampiri.Tatapannya menyapu sekeliling.Hatinya tiba-tiba dilanda kepanikan.Dia berbalik dengan cepat, lalu mencengkeram seorang perawat yang berjaga di meja perawat.Suaranya bergetar tak terkendali.“Ke mana pasien di kamar itu?”Perawat itu mengernyit lalu mundur beberapa langkah.“Pak, tolong tenang dulu.”Perawat melirik ke arah ruang rawat yang dimaksud.“Pasien di ruang itu sudah menyelesaikan administrasi untuk keluar rumah sakit. Pagi tadi dia sudah pergi.”Napas Toni seketika tercekat.Jemarinya perlahan melepas perawat itu.Seluruh tubuhnya terasa membeku.“Pergi?”“Dengan luka seperti itu … mana mungkin dia bisa pergi?”“Lagian ... dia mau ke mana?”Perawat itu pun tampak heran.“Kami sudah berusaha membujuknya, tapi nggak ada gunanya.”“Dia bersikeras ingin pergi. Bahkan dokter pun nggak bisa menghentikannya.”Toni menelan ludah.Dia menarik napas panjang.Dengan langkah yang terasa begitu berat, dia kembali ke ruang rawat.Tangannya yang gemetar meraih
Di seberang telepon, Toni terdiam beberapa saat.Barulah kemudian dia menyadari ada yang tak beres.“Ada apa?”Aku memotret foto itu lalu mengirimkannya kepadanya.“Lihat baik-baik.”Dia kembali terdiam, lalu menghela napas.“Mereka salah kirim.”“Apa? Jadi … kalau fotonya nggak salah kirim, menurutmu melakukan foto prewedding dengannya itu hal yang wajar?”Suara Toni terdengar sedikit tak berdaya.“Datanglah ke kantor. Aku akan menjelaskan semuanya.”Setelah telepon ditutup, aku mengambil tas dan langsung pergi.Dadaku terasa sesak.Toni tak pernah mengizinkanku datang ke kantornya.Katanya, itu hanya akan memberi kesan yang kurang baik.Tak kusangka .…Satu-satunya kesempatan aku diizinkan datang justru karena masalah seperti ini.Baru saja hendak masuk ke lift, seorang karyawan langsung menghentikanku.“Maaf, orang luar nggak diperbolehkan masuk ke area kantor. Silakan menunggu di ruang tamu.”Aku baru saja hendak menjelaskan, tapi Ayu tiba-tiba muncul.Dia menarikku masuk.“Nggak a







