Share

Bab 2

Penulis: Tomas
Hubunganku dengan Toni terjebak dalam kebuntuan yang sunyi.

Dia tak pulang.

Aku pun tak bertanya.

Keesokan paginya, di hari ketiga.

Tiba-tiba asistennya memberi laporan.

[Nyonya … beberapa hari ini Pak Toni sangat sibuk. Hari ini, bapak baru saja kembali dari Negara Sis.]

Aku pun membalas.

[Mulai sekarang, nggak perlu lagi memberitahuku.]

Saat menggulir riwayat percakapan ke atas, hampir seluruh isi pesanku selama ini berisi pertanyaan tentang Toni.

Aku bahkan lebih sering menghubungi asistennya daripada menghubungi suamiku sendiri.

Tak lama kemudian, pesan baru kembali masuk.

[Nyonya, apa kalian sedang bertengkar?]

Aku tak membalas.

Namun, asistennya kembali mengirim pesan.

[Di hati Pak Toni pasti masih ada Nyonya. Kalau nggak, dengan wataknya yang seperti itu, mana mungkin bapak yang lebih dulu mengejar Nyonya.]

Aku berkedip beberapa kali.

Memang benar.

Pernikahan kami .…

Awalnya adalah keinginannya.

Toni memang pria yang dingin.

Namun dulu, dia selalu meluangkan waktu untuk menemaniku.

Tatapannya hampir selalu tertuju padaku.

Dia juga sering memujiku cantik.

Hanya saja ....

Akhir cerita kami ternyata tak seindah yang kubayangkan.

Pesan dari asistennya kembali masuk.

[Pak Toni tahu hari ini ulang tahun Nyonya. Bapak sengaja membelikan gelang yang selama ini Nyonya inginkan.]

Sebuah foto pun dikirimkan bersamaan dengan pesan itu.

Ternyata benar.

Itu memang gelang yang berkali-kali kuungkit di hadapannya.

Tak kusangka dia masih mengingatnya.

Untuk sesaat, hatiku bergetar.

Aku mengembuskan napas panjang.

Lalu berbalik menuju dapur.

Aku mulai memasak makanan kesukaannya.

Malam harinya, Toni baru pulang.

Dia melonggarkan dasinya, lalu langsung berjalan menuju ruang kerja.

Aku lantas memanggilnya.

Toni menoleh dengan alis berkerut.

“Ada apa?”

Nada suaranya tetap sedingin biasanya.

Napasku mulai tak beraturan.

Jemariku mencengkeram erat tepi meja.

“Kamu tahu hari ini hari apa?”

Kerutan di dahinya semakin dalam.

“Memangnya hari apa?”

Hatiku dipenuhi rasa perih dan getir.

Aku membuka mulut dengan suara serak…

“Ulang tahunku.”

Akhirnya dia mengangguk pelan sambil membuka kancing manset di pergelangan tangannya.

“Oh … hari ini?”

“Aku lupa.”

Setelah itu ...

Tak ada lagi kata-kata.

Tenggorokanku terasa tercekat.

Tubuhku seperti diselimuti selimut katun basah.

Berat.

Pengap.

Toni hanya melirikku sekilas.

“Bulan depan akan kutebus.”

“Toh ini bukan hari yang harus dirayakan, ‘kan? Nggak perlu terlalu boros.”

Namun, beberapa detik kemudian .…

Aku melihat unggahan terbaru Ayu di Instagram Story.

Unggahan itu diposting satu jam sebelumnya.

Dalam foto tersebut .…

Terlihat gelang yang sudah kuinginkan berbulan-bulan.

Selain itu, ada banyak hal lain yang bahkan sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Di bawah foto itu, Ayu menulis sebuah caption.

[Makasih suamiku … (Sebenarnya sih, bosku, hehe.)]

Dan Toni membalasnya.

[Jangan bercanda. Memang sudah seharusnya.]

Sudut bibirku perlahan terangkat.

Aku teringat saat dulu meminta Toni memberikan tanda suka atau sesekali memberikan komentar di unggahanku.

Namun dia selalu menolak.

Katanya itu kekanak-kanakan.

Tak pantas dilakukan.

Aku tak mengerti.

Kalau begitu ...

Apa yang sedang dia lakukan sekarang?

Tanganku yang menggenggam ponsel mulai gemetar tak terkendali.

“Toni ... ternyata kamu juga bisa membalas komentar.”

“Kamu merasa senang bisa memberikan hadiah seperti ini?”

Toni mengerutkan kening.

Dia mengambil ponsel dari tanganku dan menunduk, lalu sibuk mengutak-atik sesuatu.

“Kalau nggak suka, tinggal blokir saja. Nggak usah dilihat.”

“Hadiah itu cuma bentuk perhatian kepada bawahan.”

“Supaya dia bekerja lebih giat.”

“Toh dia memang pantas mendapatkannya. Nggak seperti kamu … tiap hari kerjanya cuma diam di rumah, nggak melakukan apa-apa.”

Aku terpaku.

Tubuhku seolah tersambar petir.

Toni sering bekerja hingga larut malam.

Pola makannya juga berantakan.

Akibatnya, penyakit maag sering kambuh.

Dia sering mengeluh tak enak badan.

Dia juga selalu memuji sup buatanku enak.

Karena itu …

Aku mengundurkan diri dari pekerjaanku, fokus merawatnya di rumah.

Padahal selama bertahun-tahun menempuh pendidikan, aku selalu menjadi murid terbaik di mata para guru.

Aku sebenarnya pernah mendapat tawaran kuliah di luar negeri.

Seharusnya...

Aku bisa melangkah lebih jauh.

Namun …

Kenapa semuanya berubah menjadi seperti ini?

Dia yang lebih dulu mengatakan cinta padaku.

Tapi kenapa pada akhirnya ...

Orang yang terjebak dalam cinta itu hanya aku?

Aku mencengkeram dada.

Napasku terasa berat.

Tenggorokanku tercekat, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Toni bahkan tak menatapku.

Tatapannya justru tertuju pada meja makan.

Wajahnya masih menunjukkan ketidakpuasan.

“Selain itu … selama di rumah, apa kamu nggak bisa belajar memasak dengan benar?”

“Masakanmu hambar seperti ini. Melihatnya saja sudah nggak berselera.”

Aku menarik sudut bibirku.

Lalu tertawa sinis.

Benar juga.

Dia dan Ayu sudah terbiasa makan masakan pedas di luar.

Mana mungkin dia masih tertarik dengan masakan buatanku?

Detik berikutnya …

Terdengar suara pintu ruang kerja tertutup.

Singkat.

Tegas.

Aku berdiri sendirian di ruang tamu yang sunyi.

Aku menunduk.

Mengangkat tanganku.

Lalu membuang semua masakanku ke tempat sampah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kita Berpisah Saat Semua Bunga Bermekaran    Bab 9

    Tanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung berbalik dan pergi.Aku makan siang di sebuah restoran yang tak jauh dari rumah.Setelah itu, aku mengeluarkan ponsel dan membuka rekaman CCTV rumah.Di layar, Toni sedang duduk di dapur.Di hadapannya terbentang satu meja penuh masakan.Dia masih menungguku pulang.Melihat pemandangan itu, mataku langsung memanas.Dulu .…Akulah yang selalu menunggunya seperti itu.Kini, peran kami telah bertukar.Yang kurasakan hanyalah iba pada diriku yang dulu.Selesai makan, aku berjalan-jalan di pusat perbelanjaan terdekat.Hari semakin larut.Malam harinya, aku baru pulang ke rumah.Toni sudah pergi.Masakan di atas meja masih tersaji utuh.Dia memasak begitu banyak.Terlihat jelas dia benar-benar berusaha.Sayangnya .…Aku bahkan tak menyentuhnya.Aku langsung memanggil ART untuk membereskan meja dan membuang semua makanan itu.Hari-hari berikutnya, Toni tak pernah muncul lagi.Hidupku pun terasa jauh lebih tenang.Sampai suatu senja .…Ayu datang me

  • Kita Berpisah Saat Semua Bunga Bermekaran    Bab 8

    Dia terdiam cukup lama.Suasana di dalam mobil pun tenggelam dalam keheningan.Aku sempat berpikir kami akan terus terjebak dalam kebisuan seperti ini.Namun tiba-tiba, terdengar bunyi klik.Dia membuka kunci pintu mobil.Aku membuka pintu, lalu turun.“Terima kasih untuk hari ini.”“Kalau ada waktu, aku traktir kamu makan.”Aku mengambil koper, lalu berjalan masuk ke apartemen dengan tenang.Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan mengeringkan rambut.Saat melihat ke bawah melalui balkon, kulihat dia masih ada di sana.Jendela mobilnya sudah terbuka.Satu tangannya menjulur ke luar sambil menjepit sebatang rokok.Dia bertahan di sana cukup lama.Aku berbalik, lalu menutup tirai.….Keesokan harinya, aku baru terbangun menjelang siang.Sore harinya, saat keluar membuang sampah, aku mendapati Toni berdiri di depan pintu.Penampilannya tampak sedikit berantakan.Di tangannya tergenggam sekantong belanjaaan.Sepertinya dia sudah datang sejak pagi tadi.Melihat tatapan heranku, dia bu

  • Kita Berpisah Saat Semua Bunga Bermekaran    Bab 7

    Setelah meninggalkan Toni, aku pergi ke sebuah kota di wilayah selatan.Aku kembali menjalani perawatan di rumah sakit setempat selama beberapa waktu.Setelah keluar dari rumah sakit, aku terus berkeliling ke kota-kota di sekitarnya.Hingga suatu hari, begitu keluar dari stasiun, koperku tiba-tiba rusak.Luka di tubuhku memang sudah sembuh.Namun untuk sementara waktu, aku masih belum sanggup membawa beban yang terlalu berat.Saat aku sedang bimbang apakah harus meminta bantuan seseorang, beban di tanganku tiba-tiba terasa jauh lebih ringan.Aku mengembuskan napas lega.“Terima kasih.”Namun, ketika menoleh dan melihat orang yang membawakan koperku adalah Toni. Pria yang sudah beberapa bulan tak kutemui, aku langsung terpaku.Toni mengangkat koperku hanya dengan satu tangan.Suaranya sedikit bergetar.“Sama-sama.”Beberapa saat kemudian, aku akhirnya berhasil menenangkan diri.Aku berniat memesan taksi meninggalkan lokasi.Namun tiba-tiba, Toni meraih lenganku.Suaranya terdengar ragu.

  • Kita Berpisah Saat Semua Bunga Bermekaran    Bab 6

    Dia hanya berdiri terpaku.Sangat lama.Seolah seluruh tubuhnya membeku di tempat.Hingga akhirnya, telinganya berkedut pelan.Dia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.Napasnya perlahan melambat.Namun degup jantungnya justru semakin kencang.Dia segera menoleh.“Kamu sudah pulang. Aku mencarimu dari tadi ....”Namun, begitu melihat sosok yang datang, kata-kata yang belum sempat selesai itu langsung tercekat di tenggorokannya.Sorot matanya dipenuhi kekecewaan yang begitu dalam.“Kenapa malah kamu?”“Ngapain datang ke sini?”Ayu tersenyum sambil mempercepat langkah.Dia memeluk lengan Toni dengan manja.“Kangen sama Bapak.”“Bukannya Bapak sendiri yang bilang aku boleh datang kapan saja?”Tubuh Toni langsung menegang.Dengan gerakan nyaris tak terlihat, dia perlahan melepaskan pelukan Ayu.Tatapannya bahkan tak tertuju pada wanita itu.“Jam segini harusnya kamu masih kerja.”Ayu mengerucutkan bibir.Dia kembali merapatkan tubuhnya ke Toni.Suaranya terdengar sedikit kesa

  • Kita Berpisah Saat Semua Bunga Bermekaran    Bab 5

    Toni bergegas menghampiri.Tatapannya menyapu sekeliling.Hatinya tiba-tiba dilanda kepanikan.Dia berbalik dengan cepat, lalu mencengkeram seorang perawat yang berjaga di meja perawat.Suaranya bergetar tak terkendali.“Ke mana pasien di kamar itu?”Perawat itu mengernyit lalu mundur beberapa langkah.“Pak, tolong tenang dulu.”Perawat melirik ke arah ruang rawat yang dimaksud.“Pasien di ruang itu sudah menyelesaikan administrasi untuk keluar rumah sakit. Pagi tadi dia sudah pergi.”Napas Toni seketika tercekat.Jemarinya perlahan melepas perawat itu.Seluruh tubuhnya terasa membeku.“Pergi?”“Dengan luka seperti itu … mana mungkin dia bisa pergi?”“Lagian ... dia mau ke mana?”Perawat itu pun tampak heran.“Kami sudah berusaha membujuknya, tapi nggak ada gunanya.”“Dia bersikeras ingin pergi. Bahkan dokter pun nggak bisa menghentikannya.”Toni menelan ludah.Dia menarik napas panjang.Dengan langkah yang terasa begitu berat, dia kembali ke ruang rawat.Tangannya yang gemetar meraih

  • Kita Berpisah Saat Semua Bunga Bermekaran    Bab 4

    Di seberang telepon, Toni terdiam beberapa saat.Barulah kemudian dia menyadari ada yang tak beres.“Ada apa?”Aku memotret foto itu lalu mengirimkannya kepadanya.“Lihat baik-baik.”Dia kembali terdiam, lalu menghela napas.“Mereka salah kirim.”“Apa? Jadi … kalau fotonya nggak salah kirim, menurutmu melakukan foto prewedding dengannya itu hal yang wajar?”Suara Toni terdengar sedikit tak berdaya.“Datanglah ke kantor. Aku akan menjelaskan semuanya.”Setelah telepon ditutup, aku mengambil tas dan langsung pergi.Dadaku terasa sesak.Toni tak pernah mengizinkanku datang ke kantornya.Katanya, itu hanya akan memberi kesan yang kurang baik.Tak kusangka .…Satu-satunya kesempatan aku diizinkan datang justru karena masalah seperti ini.Baru saja hendak masuk ke lift, seorang karyawan langsung menghentikanku.“Maaf, orang luar nggak diperbolehkan masuk ke area kantor. Silakan menunggu di ruang tamu.”Aku baru saja hendak menjelaskan, tapi Ayu tiba-tiba muncul.Dia menarikku masuk.“Nggak a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status