Elara menatap Kaelen dengan tatapan penuh arti, berharap jawaban Kaelen bertentangan dengan segala ucapan Orin. Orin masih berdiri di depan pintu, seringainya penuh ejekan. “Apa maksud Orin ‘aku dan kau pernah melakukan ini’?” tanya Elara kembali. Rahang Kaelen mengeras, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Kedua tangannya terkepal kuat, matanya setajam pisau mengarah ke Orin, tapi mata tajam itu selalu menghindari tatapan Elara. Napas Elara memburu. Tatapan Kaelen yang menghindar itu cukup menjadi jawaban. Ada banyak hal yang tidak ia ceritakan. Orin justru tersenyum melihat reaksi itu. “Kau masih menyembunyikannya darinya?” “Diam, atau kupatahkan lehermu,” desis Kaelen. Orin hanya mengangkat bahu, mengabaikan ancaman itu. "Elara, kau pikir ini yang pertama? Dulu, jauh sebelum hari ini tiba, seseorang pernah berdiri di tempat kamu berdiri sekarang." Ia menjeda sejenak, menatap Kaelen. "Kekuatan yang sama. Perasaan yang sama, namun ikatannya belum sesakral sekaran
Última actualización : 2026-10-04 Leer más