Aku tersenyum dan mengiyakannya. Malam harinya, kami duduk di balkon sambil menikmati embusan angin malam. Di hadapan kami, berjajar botol-botol minuman yang sudah kosong.Dia agak mabuk, bersandar di pagar sambil berkata dengan penuh rasa haru. "Anita, coba kamu pikir, kenapa dulu kamu bisa suka sama pria macam begitu? Sudah bajingan, plin-plan pula, masih lebih baik anjing di pinggir jalan."Aku mengaduk minumanku di dalam gelas, cairan merah di dalamnya memancarkan kilauan indah di bawah sinar rembulan. "Namanya juga masih muda dan polos, aku pikir cinta itu hal paling besar di dunia. Sekarang baru sadar, sebesar-besarnya cinta di dunia ini, uang tetap yang nomor satu."Sahabatku tertawa sampai menepuk meja. "Bagus! Ayo, kita bersulang demi uang yang banyak!" Kami bersulang, mendongakkan kepala lalu meminum minuman kami sampai habis.Setelah bersulang, sahabatku menuangkan satu gelas lagi untuk dirinya sendiri. Dia tidak terburu-buru meminumnya, tapi memiringkan kepala menatapku
اقرأ المزيد