ANMELDENSetelah aku balikan dengan Jonatan Mundra, sahabat perempuannya itu kembali duduk di pangkuannya. "Kak, jangan cemburu dan marah lagi, ya. Sahabat sepertiku cuma duduk di pangkuan Kakak sendiri, nggak aneh-aneh." "Benar, 'kan, Kak? Lagi pula, aku juga nggak sudi pacaran sama orang jelek kayak kamu." Aku menjawab santai, "Nggak apa-apa." Sejak balikan, aku menjadi sosok pacar sempurna yang paling diimpikan Jonatan. Tak ada lagi cemburu saat dia bercanda dengan sahabat perempuannya, apalagi melacak keberadaannya dengan GPS. Bahkan saat mereka berciuman atas nama taruhan, tidur di ranjang yang sama, atau kebablasan berhubungan fisik saat mabuk, aku juga bisa menyodorkan obat pencegah kehamilan tanpa mengubah raut wajahku. "Aku ngerti, kamu nggak sengaja. Kamu cuma mabuk, aku nggak akan marah." Bukan karena aku sangat mencintai Jonatan. Melainkan karena Sistem berjanji, apa pun yang kuinginkan dari Jonatan bisa kubawa pulang ke duniaku. Tiga tahun ini, aku jelas tidak boleh sia-sia bermain-main dengannya.
Mehr anzeigenAku tersenyum dan mengiyakannya. Malam harinya, kami duduk di balkon sambil menikmati embusan angin malam. Di hadapan kami, berjajar botol-botol minuman yang sudah kosong.Dia agak mabuk, bersandar di pagar sambil berkata dengan penuh rasa haru. "Anita, coba kamu pikir, kenapa dulu kamu bisa suka sama pria macam begitu? Sudah bajingan, plin-plan pula, masih lebih baik anjing di pinggir jalan."Aku mengaduk minumanku di dalam gelas, cairan merah di dalamnya memancarkan kilauan indah di bawah sinar rembulan. "Namanya juga masih muda dan polos, aku pikir cinta itu hal paling besar di dunia. Sekarang baru sadar, sebesar-besarnya cinta di dunia ini, uang tetap yang nomor satu."Sahabatku tertawa sampai menepuk meja. "Bagus! Ayo, kita bersulang demi uang yang banyak!" Kami bersulang, mendongakkan kepala lalu meminum minuman kami sampai habis.Setelah bersulang, sahabatku menuangkan satu gelas lagi untuk dirinya sendiri. Dia tidak terburu-buru meminumnya, tapi memiringkan kepala menatapku
Aku memalingkan kepala menatapnya. Mata Farel sangat bersih, begitu jernih hingga aku bisa melihat dasarnya."Kak, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Dia menarik napas dalam-dalam, melangkah maju ke hadapanku."Aku tahu, mungkin Kakak cuma menganggapku menarik dan penurut, makanya membiarkanku tetap ada di sisimu." "Aku juga tahu, kalau Kakak pernah terluka dulu, dan nggak begitu percaya pada perasaan cinta lagi." "Tapi Kak ... aku serius."Dia melangkah maju sejenak, berdiri sangat dekat denganku. Begitu dekat hingga aku bisa melihat dengan jelas bulu matanya yang bergetar pelan."Bukan karena Kakak kaya raya, bukan karena Kakak cantik, tapi karena ...." "Aku suka padamu."Lampu di tepi jalan menyala terang, memancarkan cahaya kuning hangat yang menyelimuti tubuhnya, membingkai siluetnya menjadi lembut dan hangat. Setelah mengucapkan kalimat itu, dia menundukkan kepala dengan gugup. Seolah-olah sedang menunggu sebuah putusan hukuman.Melihat penampilannya yang seperti in
Perasaanku campur aduk. Aku segera menghubungi ambulans. Pada saat tubuhnya diangkat ke dalam mobil ambulans, Jonatan tersenyum tipis padaku. "Aku mencintaimu, Anita."Aku berdiri di luar mobil ambulans, memperhatikan tubuhnya yang didorong masuk. Darah terus mengucur deras dari luka di lehernya, membasahi seluruh tandunya. Tangannya terkulai dari tepi tandu, menggapai lemas ke arahku seolah ingin meraih sesuatu.Suaranya sudah sangat pelan hingga hampir tidak terdengar lagi, bibirnya bergerak-gerak, tiap kata seolah dikeluarkannya dengan mengerahkan sisa seluruh tenaganya. "Kehidupan selanjutnya ... aku pasti ... nggak akan membuatmu menderita lagi ...."Menatap pandangan matanya yang perlahan membuyar, dadaku sempat merasakan nyeri sejenak. Bukan karena cinta. Melainkan karena rasa kasihan. Kasihan karena dia baru menyadarinya saat semuanya saat sudah terlambat. Kasihan karena hal-hal yang ditebusnya dengan nyawa ini, sudah lama tidak bernilai lagi bagiku."Jonatan." Aku meman
Jonatan akhirnya paham apa yang kurasakan dulu, saat melihat kemesraannya dengan Tania. Sangat menyakitkan. Bagaikan ada orang yang mencabut jantungnya dari dalam dada, lalu menggilasnya berulang kali di atas tanah.Setiap suara yang terdengar dari celah pintu, bagaikan pisau tumpul yang menggergaji sarafnya bolak-balik. Dia teringat pada Anita, yang dulu pernah berada di posisi yang sama. Mendengarkan gelak tawanya bersama Tania di balik pintu, melihat unggahan ambigu Tania di ponsel, hingga melihatnya mencium wanita lain di tengah sorak-sorai kerumunan orang.Saat itu, dia menganggap wanita itu berlebihan. Menganggapnya tidak dewasa, terlalu sensitif, rapuh, dan histeris. Kini dia akhirnya mengerti. Bukan karena wanita itu terlalu lemah. Melainkan karena rasa sakit seperti ini, tidak akan sanggup ditanggung oleh manusia mana pun."Maafkan aku, Anita, maafkan aku!" Dia berdiri di depan pintu sambil menangis histeris.Aku tidak mau memedulikannya dan memilih untuk fokus membawa b






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.