"Kenapa kamu nggak marah?" Jonatan menatapku dengan dahi berkerut rapat. Saat terpancing datang ke sini oleh pesan anonim, aku sudah menebak apa yang terjadi di balik pintu. Dulu aku pernah marah. Sejak kami pacaran, Jonatan selalu memanjakan Tania Joli, sahabat perempuannya yang tumbuh bersama sejak kecil. Katanya, Tania adalah sahabat terbaiknya. Namun, saat mereka makan menggunakan sendok yang sama, aku mengamuk dan membalikkan meja. Saat mereka kalah permainan Truth or Dare lalu berciuman, aku menampar muka Tania sampai bengkak, kemudian memasang pelacak di ponsel Jonatan. Teman-teman Jonatan membenciku, Jonatan memakiku orang gila dan tidak waras, sementara Tania menangis dan memutuskan hubungan dengannya. Hingga akhirnya, Tania pingsan akibat demam tinggi empat puluh derajat di rumah. Setelah diselamatkan, dia berkata kesal kepada Jonatan, "Siapa yang menyuruh orang jelek kayak kamu menyelamatkanku? Sebentar lagi pacarmu datang, aku bakal dipukuli lagi. Bukannya mati kare
Baca selengkapnya