Nadine memaksakan senyum, lalu berjalan ke meja makan dan duduk."Terima kasih, Nenek."Anita menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Nadine, wajahmu masih kelihatan pucat. Makan yang banyak biar badanmu cepat pulih. Kalau Damien berani ganggu kamu lagi, Nenek pasti bantu kamu hajar dia!"Nadine menundukkan kepala dan mulai makan. Matanya sedikit berkaca-kaca. Selama bertahun-tahun, hanya Nenek yang masih mengingat makanan kesukaannya."Nenek, aku nggak apa-apa. Jangan khawatir."Anita menghela napas. Dia masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi saat ini Damien turun dari lantai atas. Wajahnya tampak muram. Tatapannya berhenti sejenak pada Nadine, lalu dia berkata kepada Anita, "Nenek, aku berangkat ke kantor."Anita mengernyit, lalu menegurnya dengan nada tidak senang, "Kamu ini ... Nadine masih sakit, kamu malah mau pergi ke kantor.""Nenek, ada urusan mendesak di perusahaan."Karena Damien sudah menjawab seperti itu, Anita tentu tidak bisa lagi menahannya. Dia hanya bisa menyuruh Damie
閱讀更多