"Lagi-lagi kamu merasa semua yang kamu lakuin itu begitu berarti."Aku melihat wajahnya yang seketika memucat dan kehilangan harapan."Pulanglah.""Kamu mau ngelakuin apa pun, aku nggak akan pernah kembali."Kemudian, aku berbalik dan berjalan menuju lorong apartemen."Brak."Pintu unit kututup rapat.Memisahkan hujan dan angin di luar, sekaligus memutus pandangan penuh keputusasaan Leonard.Malam itu, Leonard berdiri di bawah gedung sepanjang malam.Keesokan paginya, dia dibawa pergi dengan ambulans.Demam tinggi Leonard berkembang menjadi pneumonia akut.Dia tidak sadarkan diri di rumah sakit selama satu hari satu malam.Miko Herdian, sahabat terbaiknya, meneleponku.Begitu panggilan tersambung, dia langsung memarahiku habis-habisan."Yona, apa kamu benar-benar nggak punya hati?""Dia sampai mempertaruhkan nyawanya demi kamu, tapi kamu bahkan nggak mau datang jenguk dia ke rumah sakit?""Waktu sedang demam tinggi pun dia manggil nama kamu terus. Apa kamu baru puas kalau dia sudah ben
Read more