Namun, semuanya sudah terlambat."Lepaskan."Aku menatapnya dengan dingin.Jari-jari Leonard seketika membeku.Dia belum pernah melihat tatapan sedingin itu dariku."Yona ...."Tiba-tiba, suara ceria terdengar dari samping."Pak Leonard?"Aku menoleh.Kania berdiri tidak jauh dari kami sambil membawa dua gelas kopi. Wajahnya tampak sangat terkeut.Pandangannya bergantian melihat Leonard dan aku."Kak, ada apa?"Dia segera menghampiri dengan ekspresi polos sekaligus khawatir."Apa Kakak marah sama Pak Leonard karena kejadian kemarin yang melibatkan saya?""Kalau memang ada yang salah, semuanya salah saya. Pak Leonard benar-benar orang baik, jadi jangan salahin beliau, ya."Dia menyerahkan salah satu gelas kopi kepada Leonard."Pak Leonard, semalam Bapak nggak tidur sama sekali. Minum kopi dulu supaya lebih segar."Leonard menatap gelas kopi itu, lalu menatapku.Tanpa sadar, dia melepaskan genggaman di pergelangan tanganku."Kania, kenapa kamu ada di sini?"Kania tersenyum tenang."Saya
Read more