Short
Countdown Cinta

Countdown Cinta

Oleh:  MuriazTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
12Bab
13Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Sinopsis

Selingkuh

null

Sistem

Pilih Kasih/Egois

Pelakor

Mandiri

Plot Twist

Drama

Aku bisa melihat hitungan mundur sebelum perasaan seseorang berakhir. Saat hitung mundur di atas kepala Ayah mencapai nol, dia meninggalkan surat cerai lalu mencampakkan Ibu dan aku. Saat hitung mundur di atas kepala sahabatku mencapai nol, akhirnya dia memberanikan diri meninggalkan mantan berengseknya itu. Karena itulah, aku sangat takut jika harus melihat hitung mundur di atas kepala Leonard Chandrata, suamiku. Syukurlah, selama tujuh tahun pernikahan kami, tak pernah ada hitung mundur di atas kepalanya. Berkali-kali aku merasa jadi perempuan paling beruntung karena menikah dengan pria sebaik dia. Sampai sebulan yang lalu, ketika dia menjemputku pulang kerja. Begitu aku mendongak, tulisan merah menyala itu langsung menusuk pandanganku. [702 hari 14 jam 22 menit.] Kurang dari dua tahun lagi. Dadaku serasa diremas. Aku mati-matian mencari jawabannya. Apa aku telah melakukan kesalahan? Atau dia ... sudah berubah hati? Jawabannya baru kutemukan pada suatu hari saat hujan deras mengguyur kota. Di depan gedung kantor, kami bertemu mahasiswi magang di perusahaannya. Gadis itu basah kuyup, tetapi senyumnya tetap cerah. Leonard mengulurkan selembar tisu dengan ekspresi setenang biasanya. Namun pada detik itulah, hitung mundur di atas kepalanya berubah drastis. [327 hari 4 jam 47 menit.] Berkurang lebih dari tiga ratus hari. Suara hujan begitu deras hingga memekakkan telinga. Dan saat itulah aku sadar, akhirnya aku menemukan penyebabnya.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

"Pak Leonard, Kakak, maaf ya. Hujannya deras sekali. Saya benar-benar nggak bisa dapat mobil."

Pintu mobil terbuka.

Angin bercampur tempias hujan menerobos masuk hingga membasahi jok kulit.

Kania Yustara menutup payungnya lalu menyelinap ke kursi belakang dengan tubuh yang masih basah kuyup.

Blus sifon putihnya menempel erat di tubuh, sementara air terus menetes dari rambutnya.

Penampilannya benar-benar acak-acakan.

Namun senyumnya tetap cerah.

Kedua tangan Leonard masih bertumpu di setir.

Dia bahkan tidak menoleh.

Dia hanya meraih beberapa lembar tisu dari tempat penyimpanan di samping, lalu mengulurkannya ke kursi belakang melewati bahuku.

"Lap dulu. Nanti masuk angin."

Suaranya lembut, penuh perhatian seperti biasanya.

Kania menerima tisu itu. Ujung jarinya tanpa sengaja menyentuh punggung tangan Leonard.

Namun, Leonard tidak langsung menarik tangannya.

"Terima kasih, Pak Leonard. Saya tahu Bapak memang paling perhatian sama kami para karyawan."

Kania mengatakannya sambil tersenyum, tanpa sedikit pun merasa canggung.

Barulah Leonard menarik tangannya, lalu mengusap setir perlahan dengan ujung jari.

"Nggak mudah buat perempuan harus keliling cari klien sendirian."

Aku duduk diam di kursi penumpang, menatap hujan lebat di balik kaca depan.

Wiper bergerak tanpa henti, menyapu lapisan demi lapisan air hujan.

Tepat saat Leonard mengucapkan kalimat "nggak mudah" itu,

aku melihat sendiri deretan angka merah di atas kepalanya kembali berubah.

[327 hari 4 jam 47 menit.]

Cahaya merah itu berkedip sesaat.

Lalu berubah jadi [289 hari 10 jam 12 menit.]

Hanya karena satu kalimat empati yang diucapkannya dengan ringan, waktu yang tersisa sebelum dia meninggalkanku kembali berkurang lebih dari satu bulan.

Aku memejamkan mata, sementara perutku mulai terasa mulas.

"Apa AC-nya terlalu dingin?" tanya Leonard tiba-tiba.

Kukira dia sedang bertanya padaku.

Aku bahkan sudah hendak menjawab, "Nggak kok."

Namun dari kursi belakang terdengar Kania bersin.

"Iya, agak dingin. Baju saya basah kuyup. Kena angin sedikit saja langsung menggigil."

Pandangan Leonard beralih ke panel tengah.

Dia memutar kenop AC dan menaikkan suhunya tiga derajat.

Setelah itu, matanya jatuh pada selimut kasmir yang berada di pangkuanku.

Selimut itu baru beberapa hari lalu kusimpan di mobil untuk menghangatkan kaki.

"Yona."

Dia memanggilku.

"Kasih selimut itu ke Kania. Nanti dia keburu kedinginan."

Aku menoleh menatapnya.

Cahaya di dalam mobil redup, sementara sorot lampu jalan silih berganti melintasi wajah tampannya.

Ekspresinya begitu tenang, seolah permintaan itu adalah hal yang paling biasa.

Tak ada sedikit pun kesan pilih kasih. Semuanya tampak begitu tulus dan wajar.

Begitulah Leonard.

Pria sempurna yang dipuji semua orang. Lembut, penuh perhatian, dan selalu memancarkan kebaikan yang terkadang terasa begitu menyakitkan bagiku.

Tanpa berkata apa-apa, aku mengambil selimut kasmir dari pangkuanku lalu menyerahkannya ke kursi belakang.

"Terima kasih, Kak!"

Kania langsung membungkus tubuhnya dengan selimut itu tanpa sungkan.

"Kakak baik banget. Pak Leonard benar-benar beruntung bisa menikah sama Kakak."

Dia mengusap hidungnya, lalu mengembuskan napas panjang dengan wajah sangat puas.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
12 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status