Carol mengira Levi hanya sedang bercanda dan sama sekali tidak menganggap serius ucapannya.Dia tidak tahu bahwa Levi benar-benar tulus. Ketulusan itu tidak pernah berubah, sejak usia 6 tahun hingga 28 tahun."Carol, aku akhirnya bisa bertemu denganmu lagi. Tolong cepat bangun ya?" Saat Levi kembali mengangkat kepala, yang dia lihat hanyalah sepasang mata yang memerah karena menangis."Levi ...." Suara Carol masih sedikit serak karena baru saja sadar. "Kenapa kamu nangis?""Carol, apa ada bagian yang terasa nggak nyaman? Tunggu sebentar, aku akan panggil dokter .... Tunggu aku, kamu harus menungguku!"Memandangi sosoknya yang pergi dengan tergesa-gesa, hati Carol dipenuhi berbagai perasaan yang bercampur aduk. Orang yang selalu melindunginya dengan sepenuh hati justru tidak pernah dia hargai. Sebaliknya, orang yang melukainya sedemikian dalam malah dia cintai habis-habisan.Carol memejamkan mata. Setetes air mata mengalir pelan dari sudut matanya. Mulai hari ini, Carol hanya akan hidup
Read more