Radin sempat terdiam sejenak. Di hadapannya, Tante Lin sudah berdiri sangat dekat, napas hangatnya terasa di wajah.Di belakang, Tuan Tirta Wijaya duduk santai di sofa kulit mahal, menyalakan cerutu, asap tipis mengepul sambil matanya yang tajam menatap lurus ke arah mereka.Tidak ada rasa cemburu. Hanya antusiasme gelap yang membuat ujung bibirnya terangkat.“Hasil yang dulu gagal… makanya aku dan di damping suamiku berobat ke Cina. Saat ini kita lakukan, agar aku bisa hamil,” bisik Tante Lin lagi, suaranya lembut tapi penuh desakan.Radin menelan ludah dan mengangguk pelan. Tanpa ragu lagi, ia membalas luatan bibir Tante Lin.Mulut mereka bertemu dalam ciuman yang mula-mula ragu, lalu berubah liar. Lidah Tante Lin menyelinap masuk, menghisap, menggigit pelan bibir bawah Radin.Tangan perempuan itu sudah merayap ke dada Radin, membuka kancing kemeja satu per satu dengan gerakan terburu-buru.Tuan Tirta menghembuskan asap cerutu pelan.“Bagus… lanjutkan. Jangan malu-malu!” perintah Tua
Last Updated : 2026-09-05 Read more