FAZER LOGINRadin Shah tak pernah menyangka kesetiaannya akan dihargai dengan pengkhianatan paling hina, ia dijual Safitri, istrinya sendiri, demi uang satu miliar rupiah. Kehidupan pernikahan mereka hancur seketika saat Radin mengetahui Safitri justru menggunakan uang tersebut untuk berfoya-foya dan berselingkuh dengan tetangga mereka. Di tengah keterpurukan, Radin menerima warisan misterius dari ibunya yang sekarat—sebuah keris kuno kecil yang harus dijaga dengan taruhan nyawa. Tak lama kemudian, sebuah kecelakaan fatal melempar roh Radin ke masa lalu saat ia koma selama sebulan. Di sana, ia bertemu sang leluhur, mengungkap rahasia besar, dan mengenali musuh bebuyutan yang keturunannya ternyata hidup di masa kini. Ketika akhirnya terbangun dari komanya, perlahan Radin Shah berubah bukan lagi pria malang yang bisa ditindas, ia telah berubah dan siap menuntut balas.
Ver maisBukk…!
Tubuh Radin Shah terjengkang ke lantai dingin. Punggungnya menghantam sudut ranjang. Rasa sakit di fisiknya tak seberapa, namun rasa hina yang mengoyak dada jauh lebih menyiksa. Di depan matanya, harga dirinya sebagai seorang suami runtuh, diinjak-injak oleh kaki istrinya sendiri.
“Dasar laki-laki mokondo! Sudah pengangguran, di ranjang letoy, payah! Disuruh kerja enak malah menolak!” semprot Safitri, sang istri, sembari menunjuk wajah Radin dengan penuh jijik.
Padahal, wajah suaminya tidaklah jelek, tampan dan tinggi malah, tapi badan Radin ringkih dan kurus, seolah kurang gizi.
Radin hanya bisa menghela napas panjang. Dia bangkit perlahan, membenarkan letak sarung dan kaus lusuhnya yang tampak menyedihkan.
Di titik ini, dia terlalu lelah untuk membantah, muak dengan pertengkaran yang terus berulang setiap hari, seolh rutinitas yang justru makin membuatnya tertekan.
Pria bertubuh kurus namun berwajah ganteng itupun melangkah keluar kamar dengan pikiran suntuk. Radin duduk termangu di kursi plastik ruang tamu yang reyot. Tangannya yang gemetar meraih sekotak rokok murahan di atas meja.
Tinggal tersisa tiga batang.
Asap mengepul ke langit-langit rumah kontrakan mereka yang sempit. Bersamaan dengan itu, makian tertahan lolos dari sela giginya. Nahas, niat menolong nyawa justru menjerumuskannya ke dalam neraka rumah tangga.
Dulu, ia menikahi Safitri karena wanita itu nyaris jadi bulan-bulanan massa akibat merebut suami, seorang juragan kampung sebelah. Namun sekarang, hidup miskin membuat tabiat asli istrinya kembali membusuk.
Padahal...dia tahu siapa latar belakang Safitri ini, seorang mantan LC! Di sebuah karaoke di Jakarta Selatan ini, yang kadang tak ragu jajakan tubuh moleknya, demi uang!
Brak!
Pintu kamar mendadak terbuka kasar. Safitri keluar dengan gaun ketatnya yang mini, menatap Radin dengan pandangan merendahkan yang sama persis seperti dua hari lalu, saat pekerjaan ‘gila’ itu ditawarkan padanya.
“Pikirkan lagi, Radin!" bentak Safitri, melipat tangan di dada. "Utang kita di warung dan rentenir sudah menumpuk, juga di pinjol. Aku malu ditagih terus tiap hari dan yang mengerikan debt collektor sudah main ancam!”
Radin menatap tajam istrinya. Penolakan kerasnya tempo hari berujung pada pertengkaran hebat, dan malam ini punggungnya masih berdenyut nyeri akibat tendangan Safitri.
"Tapi kan yang ngutang kamu, yang habisin uangnya juga kamu!" sahut Radin lemah.
"Sudahlah, biar aku cari kerja tambahan. Kuli bangunan pun aku mau, asal bukan melacurkan diri!" balas Radin, suaranya serak namun tegas.
“Tante Lin itu posisinya di ujung tanduk!" Safitri mengabaikan ucapan Radin, terus melontarkan kata-kata tajam. "Kalau tahun ini dia tidak bisa kasih ahli waris, suaminya bakal serahkan semua harta ke anak-anak adiknya. Kamu pikir kenalanku zaman LC dulu itu bakal pelit? Satu miliar, Radin! Cuma suruh tidur seminggu, bodoh banget sih kamu menolaknya!”
Radin bangkit dari kursi plastik reyotnya. Dadanya naik-turun menahan amarah. "Aku ini suamimu, Fit! Bukan suami sewaan!"
Safitri mendengus kasar, membalas tatapan Radin tanpa gentar. "Wajahmu tampan, asetmu juga nggak bikin malu, gede dan kekar Radin. Tante Lin pasti langsung kepincut! Daripada kamu sok suci tapi kita mati kelaparan!"
Tanpa mempedulikan urat leher Radin yang menegang, Safitri merogoh tas kecilnya dan menarik keluar ponsel. "Masih mau menolak? Biar aku yang paksa."
Ia menekan layar ponsel, merekam pesan suara. "Tante, besok malam umpan tampannya meluncur ke Kamar Apartemen 404. Aku sudah atur semuanya. Tapi aku butuh DP seratus juta ditransfer sekarang juga..."
Deg!
Kagetnya Radin dengan kelancangan istrinya. "Berhenti, Safitri!" Radin maju, mencoba merebut ponsel itu.
Namun, Safitri dengan sigap menepis tangannya mundur. Tak sampai semenit, ponsel di tangan wanita itu bergetar.
Senyum serakah langsung mengembang di bibir merah menyalanya. Wanita itu langsung menyodorkan layar ponselnya tepat ke depan wajah Radin, membuat pria itu terpaku seketika.
Angka Rp100.000.000 terpampang jelas di layar mutasi rekening.
"Lihat? Uangnya sudah masuk." Safitri melempar gantungan kunci apartemen itu hingga mendarat keras di dada Radin, lalu jatuh bergemerincing ke lantai. "Besok malam Tante Lin menunggumu. Datang ke Kamar 404, atau kita cerai dan kamu membusuk di penjara karena semua pinjol itu pakai data KTP-mu!"
Radin membeku. Skakmat. Jika Safitri kabur, ia yang akan dikejar rentenir dan polisi.
Tanpa menunggu jawaban, Safitri berbalik pergi. Langkah sandal tingginya menghentak tajam, disusul suara bantingan pintu luar yang menggetarkan dinding kontrakan.
“Sialan! Punya suami kok bodohnya kayak keledai!” sungut Safitri sambil pergi meninggalkan Radin yang hanya bisa terdiam seribu bahasa...!!!
**
Dengan dada yang masih bergemuruh hebat oleh amarah, ia memutar tubuh, bermaksud kembali ke area parkiran motor untuk mengambil matik bekasnya.Namun, seolah takdir belum puas mencabik-cabik hidupnya hari ini, kesialannya justru bertambah berkali-kali lipat.Dari kejauhan, mata tajam Radin menangkap siluet seorang pemuda asing yang tengah sibuk mengutak-atik dan menghidupkan paksa mesin motornya di area parkiran liar taman kota tersebut dengan kunci palsunya."Hei, maling! Bangsat, itu motorku!" teriak Radin lantang, suaranya menggelegar hingga seketika mengundang perhatian orang-orang di sekitar taman.Brummmm!Mesin motor matik itu meraung keras. Si maling langsung menarik gas dalam-dalam dan melaju kencang. Radin yang didera kepanikan luar biasa nekat menerjang maju, berusaha menahan bagian belakang motornya.Tetapi, sebelum tangannya sempat mencengkeram besi behel, sebuah hantaman keras mendarat telak di tubuhnya.Bukk!Radin terkena tendangan brutal dari pemuda bermotor lain yang
Padahal... jika mau berkaca, Radin sendiri pun tidak kalah mengenaskan dan perlu dikasihani.Sempat mengalami perbaikan gizi dan memiliki tubuh yang proporsional serta bugar selama satu bulan penuh hidup mewah bersama Tante Lin, kini penampilannya kembali ke setelan pabrik.Bahkan 2 bulanan lalu Mba Iis dengen bercanda bilang, wajah dan tubuh Radin, bagus banget, nggak kalah dari tubuh artis Jefri Nichol! Rahang Radin juga kokoh dan berdagu belah, kulitnya juga cerah.Kini…. Tanpa asupan makanan yang layak dan didera stres berkepanjangan, tubuh jangkungnya kembali terlihat kurus kering dan ringkih, brewoknya pun mulai lebat nggak di cukur lebih dari satu bulan.Mengusir rasa ragu yang sempat melintas, Radin merogoh saku celananya. Ia mengambil uang satu juta rupiah dari dompet lusuhnya—yang secara otomatis membuat simpanannya kini kian kritis, hanya tersisa empat jutaan lagi."Ini, Mbak... simpan saja uang ini. Jangan pernah berpikir untuk mengembalikannya dulu. Semoga ini bisa sediki
Dua bulan kemudian…Dengan badan lesu dan bahu merosot, Radin jalankan pelan motornya menyusuri gang sempit menuju rumah bedengnya.Hari ini seharusnya menjadi hari yang membahagiakan karena jadwal menerima honor mengajar.Namun, kenyataan pahit kembali menamparnya. Gaji honorernya yang sudah tertunggak selama enam bulan lagi-lagi ditunda oleh pihak yayasan.Padahal... honornya hanya 350 ribu rupiah sebulan. Angka yang teramat kecil, namun sangat berarti untuk menyambung hidupnya di kerasnya kota Jakarta.Saat tangannya mendorong pintu papan rumah bedeng sewaannya yang sudah reot, sayup-sayup telinga Radin menangkap suara lengkingan bising dari bedeng sebelah. Itu suara pertengkaran hebat antara Mbak Iis dan Sapto, suaminya.Mbak Iis mengamuk, memaki Sapto yang sudah satu bulan menghilang tanpa kabar dengan seribu alasan, tetapi hari ini tiba-tiba pulang tanpa rasa bersalah.Belum sempat Radin melangkah lebih jauh ke dalam kamarnya, terdengar suara dentuman keras. Sapto pergi begitu s
Radin Shah kini benar-benar dikurung di dalam apartemen mewah Tante Lin selama satu minggu penuh, persis seperti surat perjanjian awal.Siang dan malam, pria kurus itu dipaksa untuk terus menumpahkan seluruh benih terbaiknya ke dalam rahim Tante Lin yang tengah haus akan keturunan.Namun, tanpa sepengetahuan Radin, sebuah pengkhianatan baru sedang berjalan di luar dinding apartemen.Pada hari ketiga, Safitri yang sudah pulang sejak malam pertama, diam-diam menghubungi Tante Lin. Dengan sejuta alasan palsu dan sikap memohon-mohon yang licik, dia meminta agar Tante Lin mengirimkan uang muka tambahan sebesar empat ratus juta rupiah terlebih dahulu.Sisa lima ratus juta rupiah sisanya baru akan diserahkan setelah Tante Lin dinyatakan positif hamil.“Tolonglah Tante Lin, aku mau bayar hutang, maklumlah, aku dan si Radin kan banyak kebutuhan sehari-hari…!” kata Safitri sengaja jual nama suaminya.Tante Lin yang teramat puas dengan stamina dan pelayanan luar biasa dari Radin sama sekali tida


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações