"Jangan bergerak," bisik Maxwell parau, suaranya teredam di helai rambut Sylvia. Pelukannya semakin mengencang, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, gadis ini akan lenyap dari genggamannya. "Biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar saja, Sylvia." Sylvia tersenyum tipis di dalam dekapan itu. Hatinya berdenyut hangat melihat sisi rapuh dari seorang pria yang selalu tampak tak terkalahkan di mata dunia. Gadis itu berjinjit sedikit, menempelkan bibirnya di rahang kokoh Maxwell, mengecupnya lembut berkali-kali seraya berbisik manis: "Aku di sini, Kak. Aku aman. Nggak ada yang menyakitiku..." Kecupan kecil itu bagai embun sejuk yang menyiram kobaran api di kepala Maxwell. Perlahan, Maxwell mengangkat wajahnya. Sorot mata elangnya yang tadi kelam kini berubah jernih, dipenuhi oleh kehangatan dan rasa cinta yang begitu pekat. Jemari besarnya yang hangat menangkup kedua pipi Sylvia, menuntun wajah mungil itu agar mendongak menatapnya. Ibu jari Maxwell membelai lembut bibir
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-10-02 อ่านเพิ่มเติม