"Milikmu?" Gerald tergagap, suaranya tiba-tiba melengking panik. Nyalinya menciut drastis melihat tatapan Maxwell yang seakan bisa mengulitinya hidup-hidup.Maxwell maju satu langkah. Auranya membeku. "Perlu kuperjelas lagi, Bajingan?"Gerald mundur teratur, wajahnya pucat pasi. "S-sial! Urusan kita belum selesai, Sylvia!" ancamnya dengan suara bergetar, berusaha menyelamatkan sisa harga dirinya di depan teman-temannya. "Ayo cabut!"Tanpa mempedulikan gengsinya lagi, pria brengsek itu berbalik dan langsung lari terbirit-birit."Woi, Bos! Tunggu!""Sialan, ditinggal kita!"Tiga preman bayaran itu saling pandang dengan panik, lalu ikut kocar-kacir berlari menyusul bos pengecut mereka, menghilang ditelan kegelapan malam."Pengecut," desis Maxwell dingin. Matanya menyipit penuh ancaman sebelum akhirnya ia menunduk, menatap gadis yang masih menenggelamkan wajah di dadanya."Sylvia," panggil Maxwell. Suaranya mengeras. Ia mencengkeram kedua bahu gadis itu, sedikit menjauhkannya. "Tatap aku."
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-25 อ่านเพิ่มเติม