Sayangnya, di saat Sylvia sedang menangis diam-diam di atas sofa rumahnya, di lantai paling atas gedung pencakar langit, lampu ruang kerja CEO masih menyala terang benderang.Maxwell duduk kaku di kursi kebesarannya. Jasnya sudah dilempar sembarangan ke sofa. Kemeja putihnya kusut, lengannya digulung hingga siku, dan rambutnya yang biasa tersisir rapi kini berantakan akibat terlalu sering diusap kasar.Pria yang biasanya mampu mengambil keputusan bernilai triliunan rupiah dalam hitungan detik itu, kini justru lumpuh total. Otaknya blank.Tangannya perlahan terangkat, menyentuh bibirnya sendiri. Sensasi manis, lembut, dan aroma buah beri dari bibir Sylvia seakan masih menempel di sana, membakar ingatannya berulang kali.'Sialan. Kenapa aku tadi lepas kendali?' rutuk Maxwell dalam hati, memejamkan matanya dengan frustrasi. 'Kenapa aku malah menciumnya dengan brutal?!'Maxwell memutar adegan itu berpuluh-puluh kali dalam kepalanya, di mana dia secara impulsif mencium Sylvia, bukan cuma c
Last Updated : 2026-09-15 Read more