Tepat pada saat itu, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar kencang, disusul suara pria yang berteriak, “Gwen, kamu di dalam, ‘kan?! Keluar!”Rupanya Riko, pacar Gwen menyusul ke sini. Kami berdua saling pandang dengan canggung, lalu buru-buru merapikan pakaian dan berpura-pura tenang saat membuka pintu.Riko melangkah masuk. begitu melihat bagian atasku yang telanjang, dia langsung bertanya, “Kok lama sekali buka pintunya? Kalian lagi apain?”Aksi yang tertunda sempat membuatku agak gugup, tapi aku berusaha berpura-pura tenang dan memasang raut wajah kesal. Aku menjawab, “Apanya apain? Kamu sendiri nggak tahu apa yang dirimu lakukan pada pacarmu? Kamu nggak tahu dia kabur dalam kondisi seperti apa?”Usai bicara, aku bertukar pandang dengan Gwen. Gwen pun peka dan langsung menangis histeris, “Kamu benar-benar nggak punya perasaan! Tadi mau memukulku, sekarang malah memfitnahku?! Lebih baik kita putus saja sekalian! Mulai sekarang, nggak perlu bertemu lagi!”Riko menatap kami dengan ta
Read more