Share

Bab 3

Author: Tomi
Gadis ini kelihatan polos dari luar, tapi benda yang disumpal di dalamnya lumayan dalam juga.

Aku tak buru-buru mengulurkan tangan ke dalam untuk mencabut benda itu, melainkan menikmati pemandangan di depanku sambil mengelus dan memainkan area sekitarnya dengan lembut.

“Sayang, sini biar kubantu redakan dulu, kalau nggak nanti kamu bisa kesakitan.”

Dia sangat patuh dan hanya menggigit bibirnya menahan diri, sampai-sampai aku malah merasa agak bersalah.

Aku pun memeluknya, satu tanganku meremas sembarangan bagian bawah tubuhnya, sementara tangan yang lain mengelus kepalanya sambil menanyakan apa yang terjadi sebelumnya, mencoba mengalihkan perhatiannya.

Sambil terisak-isak, dia menceritakan hubungannya dengan pacarnya. Kejadian hari ini pun ulah pacarnya.

Karena ada masalah yang kurang menyenangkan di atas ranjang, pacarnya emosi dan mau main fisik. Dia pun kabur dan begitu melihat ada orang di pos satpam, dirinya langsung masuk.

Usai cerita, nada bicaranya semakin terisak.

Melihat emosinya yang semakin kacau, aku buru-buru meraih tangannya dan meletakkannya di badanku.

“Jangan menangis, om nggak seharusnya mengungkit luka lamamu… om yang salah. Sebagai gantinya, kamu boleh bebas memegang om sesuka hati.”

Usai bicara, jariku yang tadinya bermain bebas di bawah mulai masuk menembus area intimnya.

“Hm… om, kuat sekali… uh… nikmat sekali….”

Wajahnya merona, masih berusaha keras menahan agar kedua kakinya tak menjepit erat.

Namun perlahan-lahan, gerakan jariku yang menjelajah di dalamnya memberi rangsangan yang sangat dahsyat. Dia bahkan sampai tak punya tenaga lagi untuk memegangku dan terus-terusan mau meringkukkan tubuhnya. Dia hanya bisa memakai sisa kesadarannya untuk memeluk lenganku erat-erat sambil merapatkan tubuhnya tanpa sadar.

Karena bersentuhan kulit dan dorongan gravitasi, bokongnya menempel sangat erat di lenganku. Terasa agak licin tanpa halangan kain sehelai pun.

Aku tak tahan lagi, lalu menambah sedikit tenaga untuk menusuk area intimnya, menggunakan permukaan jariku yang kasar untuk menyiksa titik paling sensitifnya.

Dia mendesah pasrah sambil memegang tanganku. Dua gundukan putih di dadanya tertekan rapat di lenganku mengikuti setiap hentakan. Aku bahkan bisa merasakan titik keras di dadanya yang menggesek lenganku.

Aku sempat terpana sejenak, seluruh tubuhku gemetaran, napasku semakin memburu dan otakku mulai membayangkan untuk menindihnya di atas meja, lalu menghentaknya dengan keras dari belakang.

Di tengah pikiran yang semakin liar, aku menyentuh sebuah benda yang basah kuyup.

Memperkirakan ukuran dan frekuensinya, aku berdecak kagum dalam hati. Ternyata permainan gadis ini lumayan ekstrim juga.

Aku sengaja mendorong benda itu sedikit lebih dalam. Lalu saat dia menjerit terisak, aku menarik talinya dan mencabut benda itu keluar.

Bentuknya bulat, berkilau basah, seperti sudah mengendap lama di dalam sana.

Itu adalah sebuah vibrator.

Dia langsung kehilangan seluruh tenaganya, terkulai di pelukanku seperti boneka yang rusak, hanya bisa gemetaran dan terengah-engah.

Aku mengulurkan tangan, ujung jariku masih berlumuran cairan tubuhnya yang keluar saat dia kenikmatan. Aku mengusapkan cairan itu ke bokongnya, lalu meremas tubuhnya perlahan-lahan.

Kedua kakinya masih terbuka lebar, air di bawah tubuhnya sampai mengotori badanku, membuatnya terlihat seolah-olah diriku habis menusuknya sampai tak terkontrol.

“Lain kali jangan pakai benda ini lagi, nggak bagus untuk tubuh. Lihat, tadi hampir saja nggak bisa dikeluarkan.”

Dia bersandar pasrah di pelukanku. Dia hanya bergumam pelan menanggapi nasihatku, lalu….

Aku merasakan ada sesuatu menyentuh bagian bawah tubuhku yang sudah menegang sejak tadi.

Dia mendongak, menatapku dengan tatapan yang penuh gairah.

“Kalau begitu harus pakai apa… om bisa mengajariku?”

Entah sejak kapan, sepasang kakinya sudah melingkar erat di pinggangku.

Bentuk kakinya yang jenjang dan berisi, ditambah kilauan sisa cairan dari vibrator yang menempel di pahanya, setiap bagian dari dirinya seolah sedang mengundangku.

Aku menelan ludah dan bertanya,

“Belajar juga ada biaya kursusnya, kamu mau bayar pakai apa?”

Dengan wajah merona, dia menopang gundukan dadanya dan menempelkannya ke tubuhku.

“Om beri makan bagian bawahku… aku izinkan om makan diriku, bagaimana?”

Pertahanan akal sehatku benar-benar putus total.

Aku menguncinya erat dalam pelukanku, menunduk dan mengikuti gerakannya dengan membenamkan wajahku di dadanya, melahap hidangan yang dia suguhkan tepat di depan mulutku.

Gwen mendesah pelan, mulai bersikap kooperatif dan meliukkan tubuhnya.

Tubuhnya yang empuk dan mulus, serta desahan manjanya membuat gairahku semakin tak terkendali. Aku mempercepat gerakan tanganku untuk meremasnya, menggunakan benda di bawahku yang keras dan membara untuk menekannya kuat-kuat.

Diiringi suara desahannya, aku melepaskan senjataku yang sudah siap tempur, mengarahkannya tepat ke bagian intimnya yang sudah basah kuyup itu….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jebakan Satpam Yang Menyamar   Bab 10

    Gwen kembali menangis kencang.“Kak, maafkan aku. Aku benar-benar terdesak dan nggak punya pilihan lain. Riko memeras dan memaksaku dengan foto-foto telanjangku. Kalau aku nggak menuruti kata-katanya, dia bakal menyebarkan foto-foto itu ke media sosial.”“Awanya aku hanya ingin berpacaran baik-baik dengannya, tapi nggak menyangka ternyata dia orang seperti itu.”“Uang dari kakak belum kupakai sama sekali, sekarang bakal kukembalikan semuanya.”Usai bicara, dia langsung mengembalikan uang satu miliar itu padaku. Begitu melihat uangnya kembali masuk ke rekening, hatiku terasa lega dan puas.Usai mentransfer uangnya, Gwen melempar ponselnya, lalu merebahkan diri di atas badanku sambil lanjut menangis.Aku bersandar setengah berbaring di sofa dan hanya menatapnya tanpa berbicara. Namun, sentuhan tubuhnya membuat bagian bawahku merespon jujur perlahan-lahan, membuat tenggorokanku terasa agak kering.“Kak, aku bakal menebus kesalahanku padamu.”Usai bicara, dia menyingkap bajunya, lalu mend

  • Jebakan Satpam Yang Menyamar   Bab 9

    Keesokan harinya, saat pergantian shift, aku mulai berbagi cerita mesum dengan si Hardi.Hardi mengungkit kalau dia baru saja melihat seorang pemuda sedang bergumul dengan si primadona pabrik kami.“Stokingnya sampai robek, pria itu memang jago. Bentuk tubuhnya benar-benar menggoda, hari ini benar-benar cukup memuaskan mataku! Kamu nggak tahu saja, pria itu bilang kalau si primadona itu penipu.”“Entah dari siapa dia berhasil menipu uang satu miliar, terus kelihatannya mereka berdua berantem gara-gara nggak adil saat membagi uangnya.”Hatiku langsung menegang dan merinding. Satu miliar? Bukannya aku baru saja kasih satu miliar pada Gwen kemarin? Seharusnya tak mungkin….Aku langsung mencengkeram Hardi dan bertanya, “Kamu sudah kerja lama di sini, ‘kan? Kamu tahu soal ibu primadona yang lagi sakit?”Hardi memasang raut wajah pasrah dan menjawab, “Sakit apaan? Ibunya bahkan sudah lama meninggal. Dari mana kamu dapat kabar itu?”“Tapi kemarin dia sendiri yang bilang padaku kalau ibunya sa

  • Jebakan Satpam Yang Menyamar   Bab 8

    Suara desahan itu langsung membangunkanku dari mimpi.Ternyata hanya mimpi.Sambil menahan gejolak gairah di dalam dada, aku menatap wajah di sampingku yang sedang tertidur tenang. Aku pun tak bisa tidur sepanjang sisa malam itu.Aku mulai mempertanyakan apakah diriku ini benar-benar seorang pria sejati. Pria sejati tak boleh melecehkan gadis polos dan harus bisa menahan diri.Namun, kalau terlalu mampu menahan nafsu, juga tak bisa dianggap sebagai pria sejati, ‘kan?Barulah saat fajar mulai menyingsing, aku perlahan-lahan tertidur lelap kembali.Begitu membuka mata lagi, sudah tidak ada orang di sampingku.Tercium aroma harum masakan di udara. Begitu bangun, aku baru tersadar hari sudah siang.Gwen sudah menyiapkan meja penuh hidangan dan menungguku bangun. Hatiku terasa hangat, belum pernah ada wanita yang dengan telaten menyiapkan makanan untukku sebelumnya.“Kakak sudah bangun? Cepat cuci wajah, lalu kita makan,” ujar Gwen sambil tersenyum manis, seketika seluruh tubuhnya seolah me

  • Jebakan Satpam Yang Menyamar   Bab 7

    Setelah masalah itu selesai, waktu sudah menunjukkan jam tiga empat pagi dan pintu asrama pun sudah dikunci. Karena tak bisa pulang, aku hanya bisa membawa Gwen ke kontrakanku untuk menginap semalam.“Kamu tidur di kamarku saja, aku tidur di sofa ruang tamu.”Aku masih sangat menjaga perasaannya dan paham betul kalau urusan begini tak boleh terburu-buru.“Mana boleh begitu? Kak, kamu itu tuan rumah, harusnya tidur di kasur. Aku bisa tidur di sofa ruang tamu, nggak masalah.”Mendengar ucapanku, Gwen langsung membantah dan berebut denganku.Badannya yang mungil dan kepalanya yang mendongak saat berbicara membuatnya terlihat seperti keledai kecil yang keras kepala. Kok aku tak menyadarinya selama ini?“Kamu itu perempuan, sudah kewajibanku untuk mengalah. Ikuti saja kata-kataku. Kamu tidur di kasur, aku tidur di sofa.”Aku memeluk selimut sambil merapikan sofa dan mengganti sprei kasur untuknya.Begitu berbalik untuk keluar kamar, keledai kecil yang keras kepala ini menggigit bibirnya dan

  • Jebakan Satpam Yang Menyamar   Bab 6

    Wanita di sampingnya meraih dua buah gelas, lalu menjelaskan aturan permainannya,“Permainan ini dimainkan dua orang, satu berdiri dan satu berjongkok. Orang yang berdiri menggigit gelas dengan mulutnya, lalu menuangkan alkohol ke bawah, sementara orang yang berjongkok di bawah menggigit gelas untuk menampung alkoholnya. Kalau Alkohol yang tertampung melebihi setengah gelas, baru dianggap menang. Kalau nggak bisa menampungnya, harus menerima hukuman.” Usai menjelaskan, dia memberikan gelas berisi alkohol itu ke temanku dan mereka pun mulai bermain.Temanku yang jahil sengaja mengarahkan tuangan alkoholnya ke area sensitif tubuhnya.Demi menampung tuangan alkohol itu, si gadis terpaksa menuruti arahan dengan menggigit gelas dan bergerak mengikuti alirannya, hingga wajahnya terus bergesekan di bagian perut temanku….Melihat itu, pikiranku melayang membayangkan kalau saja Gwen yang berjongkok di bawah tubuhku dan menggesekkan wajahnya padaku. Gairahku pun mulai bergejolak.Begitu aku mel

  • Jebakan Satpam Yang Menyamar   Bab 5

    Kukira hubungan kami hanya berhenti sampai di sana.Setengah bulan kemudian, aku mendapat undangan dari seorang teman untuk berkumpul. Tak disangka, aku malah bertemu dengan Gwen lagi di meja makan.Awalnya aku malas menghadiri acara kumpul-kumpul begini, tapi karena tak enak hati menolak undangan teman yang terus memaksaku, bagaimanapun juga tetap harus memberinya muka.Temanku bilang ada kejutan untukku, yang sejujurnya membuatku agak penasaran.Begitu masuk ke ruang VIP, aku melihat seorang pria berbadan tegap berusia tiga puluhan dan di sampingnya duduk seorang wanita berwajah polos, tapi tatapan matanya memancarkan ambisi yang besar.Wanita itu memakai pakaian yang terbuka, riasan wajahnya tampak anggun dan menggoda saat menatapku, tatapannya seolah bisa memikat siapa saja.Melihat kedatanganku, tangan temanku yang sedang meraba ke dalam rok wanita itu sama sekali tidak canggung dan tetap melanjutkan aksinya.“Kak Jefri sudah datang! Silakan duduk! Kudengar beberapa waktu lalu kam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status