Share

Bab 7

Author: Tomi
Setelah masalah itu selesai, waktu sudah menunjukkan jam tiga empat pagi dan pintu asrama pun sudah dikunci. Karena tak bisa pulang, aku hanya bisa membawa Gwen ke kontrakanku untuk menginap semalam.

“Kamu tidur di kamarku saja, aku tidur di sofa ruang tamu.”

Aku masih sangat menjaga perasaannya dan paham betul kalau urusan begini tak boleh terburu-buru.

“Mana boleh begitu? Kak, kamu itu tuan rumah, harusnya tidur di kasur. Aku bisa tidur di sofa ruang tamu, nggak masalah.”

Mendengar ucapanku, G
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jebakan Satpam Yang Menyamar   Bab 10

    Gwen kembali menangis kencang.“Kak, maafkan aku. Aku benar-benar terdesak dan nggak punya pilihan lain. Riko memeras dan memaksaku dengan foto-foto telanjangku. Kalau aku nggak menuruti kata-katanya, dia bakal menyebarkan foto-foto itu ke media sosial.”“Awanya aku hanya ingin berpacaran baik-baik dengannya, tapi nggak menyangka ternyata dia orang seperti itu.”“Uang dari kakak belum kupakai sama sekali, sekarang bakal kukembalikan semuanya.”Usai bicara, dia langsung mengembalikan uang satu miliar itu padaku. Begitu melihat uangnya kembali masuk ke rekening, hatiku terasa lega dan puas.Usai mentransfer uangnya, Gwen melempar ponselnya, lalu merebahkan diri di atas badanku sambil lanjut menangis.Aku bersandar setengah berbaring di sofa dan hanya menatapnya tanpa berbicara. Namun, sentuhan tubuhnya membuat bagian bawahku merespon jujur perlahan-lahan, membuat tenggorokanku terasa agak kering.“Kak, aku bakal menebus kesalahanku padamu.”Usai bicara, dia menyingkap bajunya, lalu mend

  • Jebakan Satpam Yang Menyamar   Bab 9

    Keesokan harinya, saat pergantian shift, aku mulai berbagi cerita mesum dengan si Hardi.Hardi mengungkit kalau dia baru saja melihat seorang pemuda sedang bergumul dengan si primadona pabrik kami.“Stokingnya sampai robek, pria itu memang jago. Bentuk tubuhnya benar-benar menggoda, hari ini benar-benar cukup memuaskan mataku! Kamu nggak tahu saja, pria itu bilang kalau si primadona itu penipu.”“Entah dari siapa dia berhasil menipu uang satu miliar, terus kelihatannya mereka berdua berantem gara-gara nggak adil saat membagi uangnya.”Hatiku langsung menegang dan merinding. Satu miliar? Bukannya aku baru saja kasih satu miliar pada Gwen kemarin? Seharusnya tak mungkin….Aku langsung mencengkeram Hardi dan bertanya, “Kamu sudah kerja lama di sini, ‘kan? Kamu tahu soal ibu primadona yang lagi sakit?”Hardi memasang raut wajah pasrah dan menjawab, “Sakit apaan? Ibunya bahkan sudah lama meninggal. Dari mana kamu dapat kabar itu?”“Tapi kemarin dia sendiri yang bilang padaku kalau ibunya sa

  • Jebakan Satpam Yang Menyamar   Bab 8

    Suara desahan itu langsung membangunkanku dari mimpi.Ternyata hanya mimpi.Sambil menahan gejolak gairah di dalam dada, aku menatap wajah di sampingku yang sedang tertidur tenang. Aku pun tak bisa tidur sepanjang sisa malam itu.Aku mulai mempertanyakan apakah diriku ini benar-benar seorang pria sejati. Pria sejati tak boleh melecehkan gadis polos dan harus bisa menahan diri.Namun, kalau terlalu mampu menahan nafsu, juga tak bisa dianggap sebagai pria sejati, ‘kan?Barulah saat fajar mulai menyingsing, aku perlahan-lahan tertidur lelap kembali.Begitu membuka mata lagi, sudah tidak ada orang di sampingku.Tercium aroma harum masakan di udara. Begitu bangun, aku baru tersadar hari sudah siang.Gwen sudah menyiapkan meja penuh hidangan dan menungguku bangun. Hatiku terasa hangat, belum pernah ada wanita yang dengan telaten menyiapkan makanan untukku sebelumnya.“Kakak sudah bangun? Cepat cuci wajah, lalu kita makan,” ujar Gwen sambil tersenyum manis, seketika seluruh tubuhnya seolah me

  • Jebakan Satpam Yang Menyamar   Bab 7

    Setelah masalah itu selesai, waktu sudah menunjukkan jam tiga empat pagi dan pintu asrama pun sudah dikunci. Karena tak bisa pulang, aku hanya bisa membawa Gwen ke kontrakanku untuk menginap semalam.“Kamu tidur di kamarku saja, aku tidur di sofa ruang tamu.”Aku masih sangat menjaga perasaannya dan paham betul kalau urusan begini tak boleh terburu-buru.“Mana boleh begitu? Kak, kamu itu tuan rumah, harusnya tidur di kasur. Aku bisa tidur di sofa ruang tamu, nggak masalah.”Mendengar ucapanku, Gwen langsung membantah dan berebut denganku.Badannya yang mungil dan kepalanya yang mendongak saat berbicara membuatnya terlihat seperti keledai kecil yang keras kepala. Kok aku tak menyadarinya selama ini?“Kamu itu perempuan, sudah kewajibanku untuk mengalah. Ikuti saja kata-kataku. Kamu tidur di kasur, aku tidur di sofa.”Aku memeluk selimut sambil merapikan sofa dan mengganti sprei kasur untuknya.Begitu berbalik untuk keluar kamar, keledai kecil yang keras kepala ini menggigit bibirnya dan

  • Jebakan Satpam Yang Menyamar   Bab 6

    Wanita di sampingnya meraih dua buah gelas, lalu menjelaskan aturan permainannya,“Permainan ini dimainkan dua orang, satu berdiri dan satu berjongkok. Orang yang berdiri menggigit gelas dengan mulutnya, lalu menuangkan alkohol ke bawah, sementara orang yang berjongkok di bawah menggigit gelas untuk menampung alkoholnya. Kalau Alkohol yang tertampung melebihi setengah gelas, baru dianggap menang. Kalau nggak bisa menampungnya, harus menerima hukuman.” Usai menjelaskan, dia memberikan gelas berisi alkohol itu ke temanku dan mereka pun mulai bermain.Temanku yang jahil sengaja mengarahkan tuangan alkoholnya ke area sensitif tubuhnya.Demi menampung tuangan alkohol itu, si gadis terpaksa menuruti arahan dengan menggigit gelas dan bergerak mengikuti alirannya, hingga wajahnya terus bergesekan di bagian perut temanku….Melihat itu, pikiranku melayang membayangkan kalau saja Gwen yang berjongkok di bawah tubuhku dan menggesekkan wajahnya padaku. Gairahku pun mulai bergejolak.Begitu aku mel

  • Jebakan Satpam Yang Menyamar   Bab 5

    Kukira hubungan kami hanya berhenti sampai di sana.Setengah bulan kemudian, aku mendapat undangan dari seorang teman untuk berkumpul. Tak disangka, aku malah bertemu dengan Gwen lagi di meja makan.Awalnya aku malas menghadiri acara kumpul-kumpul begini, tapi karena tak enak hati menolak undangan teman yang terus memaksaku, bagaimanapun juga tetap harus memberinya muka.Temanku bilang ada kejutan untukku, yang sejujurnya membuatku agak penasaran.Begitu masuk ke ruang VIP, aku melihat seorang pria berbadan tegap berusia tiga puluhan dan di sampingnya duduk seorang wanita berwajah polos, tapi tatapan matanya memancarkan ambisi yang besar.Wanita itu memakai pakaian yang terbuka, riasan wajahnya tampak anggun dan menggoda saat menatapku, tatapannya seolah bisa memikat siapa saja.Melihat kedatanganku, tangan temanku yang sedang meraba ke dalam rok wanita itu sama sekali tidak canggung dan tetap melanjutkan aksinya.“Kak Jefri sudah datang! Silakan duduk! Kudengar beberapa waktu lalu kam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status