Aku membeli segelas kopi panas di area tunggu bandara.Baru saja menutup gelasnya, seseorang menepuk bahuku keras-keras.Sedikit kopi tumpah dan mengenai ruas jariku. Panasnya seketika menyengat kulit.Aku menoleh.Marcel dan Vania berdiri di belakangku.Salah satu kancing mantel Marcel terpasang tak pada tempatnya, sementara pelipisnya dipenuhi keringat.Vania masih menggenggam boarding pass penerbangan menuju Sanara. Napasnya terengah-engah, sampai tak mampu mengucapkan satu kalimat utuh.“Sudahlah.”Marcel mengambil kopiku, menyentuh sisi gelasnya, lalu menyodorkannya kembali kepadaku.“Masih tahu beli yang panas. Nggak kedinginan, ‘kan?”Nada bicaranya terdengar seperti sedang menenangkanku, sekaligus seperti ingin mengatakan bahwa semuanya sudah selesai.“Kita nggak jadi ke Sanara. Demi mencarimu, penerbangan sampai terlewat. Sekarang impas, ‘kan? Ayo, ikut aku pulang.”Vania akhirnya berhasil mengatur napasnya. Sambil bertumpu pada lutut, dia mendongak menatapku.“Alya, ngapain k
Ler mais