FAZER LOGIN
Tiga tahun kemudian, di tengah musim dingin, aku kembali ke tanah air untuk mengurus hak kepemilikan rumah lama yang ditinggalkan orang tuaku.Raka ikut pulang bersamaku.Setelah semua urusan selesai dan kami keluar dari lobi, salju turun semakin lebat.Dia membantuku menaikkan syal yang melilit leherku.“Dingin?”“Lumayan.”“Mobilnya ada di seberang. Aku ambil dulu. Kamu tunggu di sini, ya?”Aku menggeleng.“Kita jalan bersama saja.”Saat tiba di persimpangan, aku melihat seorang pria yang sedang berjongkok di tepi jalan.Mantel tuanya sudah lusuh. Tubuhnya pun kurus. Di dalam pelukannya, dia melindungi sebuah kue stroberi murah.Marcel.Dia tak mengenaliku.Atau lebih tepatnya, tatapannya hanya tertuju pada layar ponsel di tangannya.Di sana terpampang foto profil Whatsapp yang sudah lama dinonaktifkan.Dia berbicara lirih, seolah takut membangunkan seseorang.“Alya, hari ini ulang tahunmu. Aku nggak salah beli. Kamu nggak alergi stroberi.”Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan denga
Marcel tampak kurus hingga hampir tak bisa dikenali. Mantel hitam yang dikenakannya pun menggantung longgar di tubuhnya.Vania juga tak lagi terlihat cerah seperti dulu. Rambutnya hanya diikat asal, dengan lingkaran hitam yang jelas terlihat di bawah matanya.Mereka jelas datang terburu-buru.Marcel menerobos kerumunan dan berjalan ke arahku.Matanya memerah. Suaranya begitu pelan hingga hampir tak terdengar.“Alya.”Aku tak menjawab.Dia mengeluarkan sebuah kotak cincin dari sakunya, lalu berlutut dengan satu kaki.Para tamu di sekitar kami pun terdiam.“Aku nggak bertaruh dengan siapa pun. Aku juga nggak bercanda.”Dia mendongak menatapku. Suaranya bergetar.“Aku benar-benar datang untuk memintamu menikah denganku. Biarkan aku menebus semua kesalahanku seumur hidup. Mau, ya? Kumohon.”Vania mendekat sambil menangis. Tangannya terulur hendak meraih ujung lengan bajuku.“Alya, aku benar-benar sudah tahu apa artinya menjaga batas dengan orang lain. Aku dipecat karena sembarangan bercand
Angin di Ravenvik begitu menusuk, menerpa wajah seperti butiran-butiran es kecil.Saat menjemputku di bandara, hal pertama yang dilihat dosen pembimbingku adalah perban yang membalut tubuhku.Dia tak bertanya apa-apa. Hanya melepas syalnya dan menyampirkannya di bahuku.“Pemanas di studio cukup hangat. Tidurlah dulu.”Aku mengangguk.Di sini, tak ada seorang pun yang menjadikan diamku sebagai bahan taruhan.Tak ada juga yang menganggap batasanku sebagai sesuatu yang membuat suasanan menjadi canggung.Aku mulai menata kembali kumpulan karyaku.Laptop yang rusak sudah dikirim untuk diperbaiki, sementara hard disk cadangan berhasil menyelamatkan sebagian besar berkas.Lapisan gambar yang hilang kugambar ulang satu per satu.Terkadang, saat masih melukis hingga larut malam, luka di lenganku terasa gatal.Dosen pembimbingku akan mengetuk pintu, lalu meletakkan semangkuk sup hangat di tepi meja.“Nggak perlu terburu-buru, Alya. Sebuah karya seni nggak seharusnya dibayar dengan nyawa.”Pada m
Saat terbangun, lenganku sudah terpasang penyangga di sisi ranjang rumah sakit.Seorang perawat sedang menunduk mengganti perban lukaku. Begitu melihatku membuka mata, dia segera merendahkan suaranya.“Lengan bawah Ibu dijahit tujuh jahitan. Darah yang keluar juga cukup banyak. Sekuriti kompleks mendengar suara kaca pecah, lalu mendobrak pintu dan membawa Ibu ke sini.”Aku menatap langit-langit dalam diam. Beberapa detik kemudian, barulah kurasakan tenggorokanku kering dan perih.Perawat menyerahkan ponselku.“Baru saja selesai di-charge. Dari tadi terus berdering.”Di layar, ada puluhan notifikasi panggilan tak terjawab.Semuanya berasal dari Marcel.Vania juga mengirim banyak pesan suara.Aku tak membukanya.Seorang teman yang kami kenal bersama lebih dulu mengirimiku sebuah video.Dalam video itu, Marcel duduk santai di sofa sambil memegang segelas minuman.“Alya memang sudah terlalu dimanja. Dikunci beberapa jam saja, nanti dia akan tahu siapa yang benar-benar memperlakukannya deng
Aku pulang ke apartemen seorang diri dengan taksi.Bersandar di kursi sambil memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, rasa sesak yang datang bergelombang, disertai denging di telingaku, akhirnya perlahan mereda.Sesampainya di apartemen, sopir membantuku menurunkan koper ke lantai bawah, lalu bertanya apakah aku ingin diantarkan sampai depan pintu lift.Aku menolak.Tangan kiriku memeluk laptop yang retak, sementara tangan kanan menyeret koper masuk ke dalam gedung.Begitu masuk, aku langsung menuju ruang kerja untuk mencari hard disk cadangan.Untungnya, hard disk itu masih tersimpan di laci paling dalam.Aku menghela napas lega, lalu berjalan menuju nakas untuk mengambil botol obat.Namun, baru saja botol itu berada di tanganku, terdengar suara kunci pintu diputar.Marcel berdiri di ambang pintu dengan wajah muram.“Kamu benar-benar pulang.”Aku memasukkan hard disk ke kantong bagian dalam koper.“Keluar.”Dia tak bergeming. Tatapannya justru tertuju pada botol obat di tanganku
Aku membeli segelas kopi panas di area tunggu bandara.Baru saja menutup gelasnya, seseorang menepuk bahuku keras-keras.Sedikit kopi tumpah dan mengenai ruas jariku. Panasnya seketika menyengat kulit.Aku menoleh.Marcel dan Vania berdiri di belakangku.Salah satu kancing mantel Marcel terpasang tak pada tempatnya, sementara pelipisnya dipenuhi keringat.Vania masih menggenggam boarding pass penerbangan menuju Sanara. Napasnya terengah-engah, sampai tak mampu mengucapkan satu kalimat utuh.“Sudahlah.”Marcel mengambil kopiku, menyentuh sisi gelasnya, lalu menyodorkannya kembali kepadaku.“Masih tahu beli yang panas. Nggak kedinginan, ‘kan?”Nada bicaranya terdengar seperti sedang menenangkanku, sekaligus seperti ingin mengatakan bahwa semuanya sudah selesai.“Kita nggak jadi ke Sanara. Demi mencarimu, penerbangan sampai terlewat. Sekarang impas, ‘kan? Ayo, ikut aku pulang.”Vania akhirnya berhasil mengatur napasnya. Sambil bertumpu pada lutut, dia mendongak menatapku.“Alya, ngapain k







