Compartilhar

Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat
Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat
Autor: Jan

Bab 1

Autor: Jan
Saat bunyi kunci terdengar dari pintu, aku sedang memasukkan sepasang kaus kaki wol terakhir ke dalam koper.

Marcel dan Vania membuka pintu lalu masuk. Di tangan mereka ada kacamata snorkeling, baju pelindung matahari, serta sekantong stiker pelampung warna-warni.

Vania lebih dulu melihat mantel tebal di sofa.

Dia tertegun selama dua detik.

Lalu tertawa sampai tubuhnya membungkuk.

“Marcel, transfer uangnya.”

Dia menunjuk koperku sambil tertawa hingga hampir menitikkan air mata.

“Sudah kubilang dia pasti marah. Dia malah sengaja membereskan baju musim dingin buat menakut-nakuti kita.”

Marcel bersandar di dekat pintu masuk. Sambil menunduk, dia mentransfer uang kepada Vania dengan senyum tak berdaya di sudut bibirnya.

“Baiklah, kamu menang.”

Setelah menyimpan ponselnya, dia berjalan menghampiriku. Tangannya terangkat, hendak mengusap rambutku.

“Alya, tiket pesawatnya sudah kubeli lagi. Kali ini kami memang sudah keterlaluan. Jangan marah lagi, ya. Cepat keluarkan baju-baju tebal ini. Di Sanara nggak bakal kepakai.”

Aku bergeser ke samping, menghindari tangannya.

Tangan Marcel berhenti di udara. Alisnya sedikit berkerut.

“Kenapa jadi benar-benar marah begini?”

Aku menutup koper, lalu menarik gagangnya.

“Aku nggak jadi ke Sanara. Selamat bersenang-senang.”

Senyum di wajah Vania membeku sesaat. Namun, dia segera mendekat dan mengulurkan tangan, hendak merangkulku.

“Jangan begitu, dong. Tiketnya ‘kan sudah dibeli lagi. Kalau kamu nggak mau duduk sendirian, aku bisa minta Marcel bertukar tempat duduk denganmu. Aku duduk di belakang saja, gimana?”

Aku menunduk, menatap tangannya yang hendak menyentuhku.

“Jangan sentuh aku.”

Vania tertegun.

Wajah Marcel pun sedikit menggelap.

“Alya, cuma gara-gara lelucon soal tiket dibatalkan, apa perlu sampai begini?”

Aku menatapnya.

“Kalian membatalkan tiketku, menjadikan perjalananku sebagai bahan taruhan, lalu masih bertanya apa perlu aku sampai begini?”

Marcel menekan lidahnya ke bagian dalam pipi, berusaha menahan rasa tak sabar.

“Bukankah sudah kami perbaiki? Aku sudah membeli tiket baru semalam. Nggak mungkin aku membiarkanmu benar-benar batal pergi.”

Vania ikut mengangguk. Nada bicaranya berubah menjadi merasa dizalimi.

“Iya. Kami juga nggak berniat meninggalkanmu. Kami cuma ingin menggodamu sedikit. Dulu kamu nggak pernah seperti ini.”

Dia terdiam sejenak, seolah tiba-tiba teringat sesuatu. Matanya langsung berbinar.

“Oh, iya! Aku punya kabar baik. Tadinya mau kuberitahu di perjalanan buat membujukmu supaya senang.”

Hatiku seketika tenggelam.

Vania mengeluarkan ponsel dari tasnya, membuka sebuah tangkapan layar, lalu menyodorkannya kepadaku.

“Kumpulan karya tahap final Anugerah Seni Citra-mu, sudah aku bantu submit dua hari lalu. Kamu belakangan ini selalu begadang, ‘kan? Aku kasihan melihatnya, jadi aku bantu klik submit.”

Ujung jariku mencengkeram erat gagang koper.

“Kamu mengotak-atik berkas lombaku?”

“Jangan tegang begitu, dong, Alya.”

Vania mengerucutkan bibir, seolah aku merusak kesenangannya.

“Aku juga menambahkan sedikit kejutan. Di sudut gambar utama yang paling kamu suka, aku kasih watermark katak yang sedang memutar bola mata. Lucu banget.”

Dia mengedipkan mata ke arah Marcel.

“Aku dan Marcel juga taruhan apa kamu bakal menyadarinya. Tadinya kami mau menunggu sampai kamu memenangkan penghargaan baru memberitahumu. Pasti bakal jadi kejutan yang luar biasa.”

Telingaku seketika berdenging.

Anugerah Seni Citra mengharuskan seluruh proses penilaian dilakukan secara anonim. Berkas perlombaan tak boleh mengandung layer yang tak berkaitan dengan karya, apalagi simbol-simbol bernada mengejek.

Itu adalah kumpulan karya tahap final yang berhasil kuselesaikan setelah setengah bulan nyaris tak pernah tidur dengan nyenyak.

Dan itu juga satu-satunya kuota rekomendasi dari kampus.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 8

    Tiga tahun kemudian, di tengah musim dingin, aku kembali ke tanah air untuk mengurus hak kepemilikan rumah lama yang ditinggalkan orang tuaku.Raka ikut pulang bersamaku.Setelah semua urusan selesai dan kami keluar dari lobi, salju turun semakin lebat.Dia membantuku menaikkan syal yang melilit leherku.“Dingin?”“Lumayan.”“Mobilnya ada di seberang. Aku ambil dulu. Kamu tunggu di sini, ya?”Aku menggeleng.“Kita jalan bersama saja.”Saat tiba di persimpangan, aku melihat seorang pria yang sedang berjongkok di tepi jalan.Mantel tuanya sudah lusuh. Tubuhnya pun kurus. Di dalam pelukannya, dia melindungi sebuah kue stroberi murah.Marcel.Dia tak mengenaliku.Atau lebih tepatnya, tatapannya hanya tertuju pada layar ponsel di tangannya.Di sana terpampang foto profil Whatsapp yang sudah lama dinonaktifkan.Dia berbicara lirih, seolah takut membangunkan seseorang.“Alya, hari ini ulang tahunmu. Aku nggak salah beli. Kamu nggak alergi stroberi.”Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan denga

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 7

    Marcel tampak kurus hingga hampir tak bisa dikenali. Mantel hitam yang dikenakannya pun menggantung longgar di tubuhnya.Vania juga tak lagi terlihat cerah seperti dulu. Rambutnya hanya diikat asal, dengan lingkaran hitam yang jelas terlihat di bawah matanya.Mereka jelas datang terburu-buru.Marcel menerobos kerumunan dan berjalan ke arahku.Matanya memerah. Suaranya begitu pelan hingga hampir tak terdengar.“Alya.”Aku tak menjawab.Dia mengeluarkan sebuah kotak cincin dari sakunya, lalu berlutut dengan satu kaki.Para tamu di sekitar kami pun terdiam.“Aku nggak bertaruh dengan siapa pun. Aku juga nggak bercanda.”Dia mendongak menatapku. Suaranya bergetar.“Aku benar-benar datang untuk memintamu menikah denganku. Biarkan aku menebus semua kesalahanku seumur hidup. Mau, ya? Kumohon.”Vania mendekat sambil menangis. Tangannya terulur hendak meraih ujung lengan bajuku.“Alya, aku benar-benar sudah tahu apa artinya menjaga batas dengan orang lain. Aku dipecat karena sembarangan bercand

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 6

    Angin di Ravenvik begitu menusuk, menerpa wajah seperti butiran-butiran es kecil.Saat menjemputku di bandara, hal pertama yang dilihat dosen pembimbingku adalah perban yang membalut tubuhku.Dia tak bertanya apa-apa. Hanya melepas syalnya dan menyampirkannya di bahuku.“Pemanas di studio cukup hangat. Tidurlah dulu.”Aku mengangguk.Di sini, tak ada seorang pun yang menjadikan diamku sebagai bahan taruhan.Tak ada juga yang menganggap batasanku sebagai sesuatu yang membuat suasanan menjadi canggung.Aku mulai menata kembali kumpulan karyaku.Laptop yang rusak sudah dikirim untuk diperbaiki, sementara hard disk cadangan berhasil menyelamatkan sebagian besar berkas.Lapisan gambar yang hilang kugambar ulang satu per satu.Terkadang, saat masih melukis hingga larut malam, luka di lenganku terasa gatal.Dosen pembimbingku akan mengetuk pintu, lalu meletakkan semangkuk sup hangat di tepi meja.“Nggak perlu terburu-buru, Alya. Sebuah karya seni nggak seharusnya dibayar dengan nyawa.”Pada m

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 5

    Saat terbangun, lenganku sudah terpasang penyangga di sisi ranjang rumah sakit.Seorang perawat sedang menunduk mengganti perban lukaku. Begitu melihatku membuka mata, dia segera merendahkan suaranya.“Lengan bawah Ibu dijahit tujuh jahitan. Darah yang keluar juga cukup banyak. Sekuriti kompleks mendengar suara kaca pecah, lalu mendobrak pintu dan membawa Ibu ke sini.”Aku menatap langit-langit dalam diam. Beberapa detik kemudian, barulah kurasakan tenggorokanku kering dan perih.Perawat menyerahkan ponselku.“Baru saja selesai di-charge. Dari tadi terus berdering.”Di layar, ada puluhan notifikasi panggilan tak terjawab.Semuanya berasal dari Marcel.Vania juga mengirim banyak pesan suara.Aku tak membukanya.Seorang teman yang kami kenal bersama lebih dulu mengirimiku sebuah video.Dalam video itu, Marcel duduk santai di sofa sambil memegang segelas minuman.“Alya memang sudah terlalu dimanja. Dikunci beberapa jam saja, nanti dia akan tahu siapa yang benar-benar memperlakukannya deng

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 4

    Aku pulang ke apartemen seorang diri dengan taksi.Bersandar di kursi sambil memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, rasa sesak yang datang bergelombang, disertai denging di telingaku, akhirnya perlahan mereda.Sesampainya di apartemen, sopir membantuku menurunkan koper ke lantai bawah, lalu bertanya apakah aku ingin diantarkan sampai depan pintu lift.Aku menolak.Tangan kiriku memeluk laptop yang retak, sementara tangan kanan menyeret koper masuk ke dalam gedung.Begitu masuk, aku langsung menuju ruang kerja untuk mencari hard disk cadangan.Untungnya, hard disk itu masih tersimpan di laci paling dalam.Aku menghela napas lega, lalu berjalan menuju nakas untuk mengambil botol obat.Namun, baru saja botol itu berada di tanganku, terdengar suara kunci pintu diputar.Marcel berdiri di ambang pintu dengan wajah muram.“Kamu benar-benar pulang.”Aku memasukkan hard disk ke kantong bagian dalam koper.“Keluar.”Dia tak bergeming. Tatapannya justru tertuju pada botol obat di tanganku

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 3

    Aku membeli segelas kopi panas di area tunggu bandara.Baru saja menutup gelasnya, seseorang menepuk bahuku keras-keras.Sedikit kopi tumpah dan mengenai ruas jariku. Panasnya seketika menyengat kulit.Aku menoleh.Marcel dan Vania berdiri di belakangku.Salah satu kancing mantel Marcel terpasang tak pada tempatnya, sementara pelipisnya dipenuhi keringat.Vania masih menggenggam boarding pass penerbangan menuju Sanara. Napasnya terengah-engah, sampai tak mampu mengucapkan satu kalimat utuh.“Sudahlah.”Marcel mengambil kopiku, menyentuh sisi gelasnya, lalu menyodorkannya kembali kepadaku.“Masih tahu beli yang panas. Nggak kedinginan, ‘kan?”Nada bicaranya terdengar seperti sedang menenangkanku, sekaligus seperti ingin mengatakan bahwa semuanya sudah selesai.“Kita nggak jadi ke Sanara. Demi mencarimu, penerbangan sampai terlewat. Sekarang impas, ‘kan? Ayo, ikut aku pulang.”Vania akhirnya berhasil mengatur napasnya. Sambil bertumpu pada lutut, dia mendongak menatapku.“Alya, ngapain k

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status